Menu
Sign in
@ Contact
Search
Karyawan memperlihatkan uang dolar AS di Bank Mandiri cabang Jakarta Bursa, Jumat (8/5/2020). Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Karyawan memperlihatkan uang dolar AS di Bank Mandiri cabang Jakarta Bursa, Jumat (8/5/2020). Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Dolar AS Jatuh setelah Data Inflasi AS Lebih Rendah dari Perkiraan

Kamis, 11 Agustus 2022 | 06:56 WIB
Nasori (redaksi@investor.id)

NEW YORK, investor.id – Dolar Amerika Serikat (AS) jatuh terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis (11/8/2022) pagi WIB, setelah laporan inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan untuk Juli 2022. Ini meningkatkan ekspektasi siklus kenaikan suku bunga Federal Reserve yang kurang agresif daripada yang diantisipasi sebelumnya.

Harga konsumen AS tidak berubah pada basis bulanan pada Juli 2022 karena biaya bensin turun. Ini memberikan tanda kelegaan pertama bagi orang Amerika yang telah menyaksikan inflasi naik selama dua tahun terakhir. Ekonom yang disurvei oleh Reuters memperkirakan kenaikan 0,2% dalam Indeks Harga Konsumen (IHK) bulanan menyusul penurunan sekitar 20% dalam biaya bensin.

Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap sekeranjang enam mata uang saingannya, turun 1,025% pada 105,26 pada pukuk 19.15 GMT. "Ini adalah kabar baik bagi pedagang valas, karena ini adalah reaksi yang cukup jelas dan Anda mungkin akan melihat bahwa masih ada beberapa tindak lanjut," kata Edward Moya, analis pasar senior di OANDA.

Dolar turun 1,58% pada 132,97 yen, dengan greenback sempat merosot sebanyak 2,3% terhadap mata uang Jepang, penurunan terbesar sejak Maret 2020. "Dalam latar belakang di mana pasar menjadi lebih puas dengan perkiraan FF (Fed fund), hari-hari terburuk yen tampaknya telah berakhir," kata analis dari TD Securities dalam catatan klien. Kisaran 130-135 yen yang luas mungkin merupakan normal baru.

The Fed telah mengindikasikan bahwa beberapa penurunan bulanan dalam pertumbuhan IHK akan diperlukan, sebelum membiarkan pengetatan kebijakan moneter agresif yang telah dilakukan untuk menjinakkan inflasi yang saat ini berjalan di level tertinggi empat dekade.

Namun, pedagang berjangka yang terkait dengan suku bunga acuan bank sentral AS menanggapi data inflasi Rabu (10/8/2022) dengan memangkas taruhan bahwa Fed akan memberlakukan kenaikan 75 basis poin ketiga berturut-turut pada September, dan sebagai gantinya akan memilih peningkatan setengah persentase poin.

"Apa yang Anda lihat adalah pasar menikmati kemungkinan Fed bergerak ke arah sikap yang kurang hawkish, bukan dovish, tetapi sedikit kurang hawkish," kata Quincy Krosby, kepala strategi global di LPL Financial.

Euro naik 0,83% menjadi 1,0297 dolar, sementara sterling naik 1,16% menjadi 1,22145 dolar, dengan kedua mata uang di jalur untuk kinerja satu hari terbaik mereka sejak pertengahan Juni.

Presiden Fed Minneapolis, Neel Kashkari mengatakan bahwa sementara pendinginan tekanan harga pada Juli "diterima," The Fed "jauh, jauh dari menyatakan kemenangan" dan perlu menaikkan suku bunga jauh lebih tinggi dari kisaran 2,25%-2,50% saat ini.

Presiden Fed Chicago, Charles Evans mengatakan, inflasi masih "belum dapat diterima" tinggi, dan Fed kemungkinan akan perlu menaikkan suku bunga kebijakannya menjadi 3,25%-3,50% tahun ini dan menjadi 3,75 persen-4,00% pada akhir 2023.

Dolar Australia, dilihat sebagai barometer risiko, terangkat 1,74% pada US$ 0,7083. Bitcoin, yang terguncang oleh pukulan keras penghapusan dana uang kripto dan pencurian selama beberapa bulan terakhir, naik 2,1% pada US$ 23.651.

Editor : Nasori (nasori@investor.co.id)

Sumber : ANTARA

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com