Menu
Sign in
@ Contact
Search
ilustrasi harga minyak
sumber: Antara

ilustrasi harga minyak sumber: Antara

Ancaman Pasokan Berlebih Bebani Pergerakan Harga Minyak

Selasa, 16 Agustus 2022 | 11:00 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Tim Research and Development ICDX mengatakan, harga minyak pagi ini terpantau bergerak di bawah level US$ 90 per barel dibebani oleh potensi pasokan berlebih pasca rilisnya proyeksi EIA dan isyarat positif kelanjutan negosiasi nuklir Iran. Meski demikian, hambatan ekspor bahan bakar Tiongkok pada bulan Agustus memberikan dukungan pada harga minyak.

Dalam laporan yang dirilis hari Senin oleh badan statistik pemerintah AS, Energy Information Administration (EIA), memproyeksikan produksi minyak serpih utama AS pada bulan September akan naik sebesar 141 ribu bph menjadi 9.05 juta bph, yang merupakan rekor tertinggi sejak Maret 2020.

“Proyeksi dari EIA tersebut menambah tekanan pada pasar AS, setelah sebelumnya Saudi Aramco mengisyaratkan kesiapan untuk meningkatkan produksi ke kapasitas penuh jika diminta oleh pihak kerajaan,” tulis Tim Research and Development ICDX dalam risetnya, Selasa (16/8/2022).

Baca juga: Minyak Jatuh Dipicu Data Ekonomi Tiongkok

Selain itu, Tim Research and Development ICDX menambahkan kelanjutan negosiasi nuklir Iran juga berpotensi menambah pasokan lebih dari 1 juta barel minyak per hari untuk kembali ke pasar minyak global. Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amirabdollahian pada hari Senin mengatakan bahwa jika AS menunjukkan pendekatan dan fleksibilitas yang realistis, maka negosiasi nuklir dapat mencapai titik kesepakatan dalam beberapa hari ke depan.

Dengan penghapusan sanksi AS akan memungkinkan Iran untuk dapat kembali memasok minyak sekitar 1,3 juta bph hingga 1,4 juta bph ke pasar global dalam waktu enam hingga sembilan bulan, terlebih dengan ketatnya pasokan energi saat ini yang dipicu oleh embargo terhadap Rusia.

Sementara itu, Tim Research and Development ICDX menyebut, ekspor produk bahan bakar Tiongkok bulan Agustus berpotensi menemui hambatan akibat meluasnya pembatasan Covid yang berdampak pada menurunnya pengiriman tahun ini ke posisi terendah dalam tujuh tahun. Selain itu, pemerintah Tiongkok yang berencana untuk memprioritaskan pasar lokal dalam upaya mengekang inflasi bahan bakar domestik, berpotensi menyebabkan ekspor solar, bensin, dan bahan bakar jet untuk tahun ini turun sebesar 40% dibanding tahun lalu.

Baca juga:  Isyarat Saudi Tambah Pasokan Buat Minyak Kian Terpukul

Sejauh ini, Tiongkok telah merilis kuota ekspor bahan bakar sebesar 22.5 juta ton untuk tahun 2022, dan mungkin tidak akan menambah lebih banyak kuota karena berlangsungnya penyelidikan pajak terhadap penyulingan swasta dan menjelang puncak permintaan musiman pada bulan September dan Oktober yang akan memperketat pasokan domestik.

Lebih lanjut Tim Research and Development ICDX mengatakan, untuk indikator dalam waktu dekat yang dipantau oleh pasar adalah data mingguan stok minyak mentah AS versi industri yang akan dirilis oleh American Petroleum Institute (API) pada hari Selasa pukul 16:30 waktu setempat.

“Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 95 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 85 per barel,” tutup Tim Research and Development ICDX.

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com