Menu
Sign in
@ Contact
Search
Ilustrasi harga minyak
Sumber: Antara

Ilustrasi harga minyak Sumber: Antara

Minyak Naik Tipis Terdorong Kekhawatiran Ketatnya Pasokan

Selasa, 20 Sep 2022 | 06:20 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

HOUSTON, investor.id - Harga minyak naik tipis dalam perdagangan yang fluktuatif pada Senin (19/9/2022). Terdorong kekhawatiran akan ketatnya pasokan. Melebihi kekhawatiran permintaan global dapat melambat karena dolar AS yang kuat dan kemungkinan kenaikan besar pada suku bunga.

Minyak mentah Brent untuk November naik 65 sen (0,7%) menjadi US$ 92 per barel. Sementara West Texas Intermediate (WTI) AS untuk Oktober naik 62 sen (0,7%) menjadi US$ 85,73 per barel. 

Kekhawatiran akan ketatnya pasokan dating dari Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutu yang dipimpin oleh Rusia, yang dikenal sebagai OPEC+, gagal mencapai target produksi minyaknya sebesar 3,583 juta barel per hari (bph) pada Agustus, sebuah dokumen internal menunjukkan. Pada Juli, OPEC+ meleset dari targetnya sebesar 2,892 juta barel per hari.

"Survei produksi OPEC+ yang jauh di bawah kuota mereka untuk Agustus membuat pasar merasa bahwa mereka sama sekali tidak dapat meningkatkan produksi mereka jika permintaan pasar," kata Andrew Lipow, presiden Lipow Oil Associates di Houston.

Advertisement

Baca juga: Chengdu Mulai New Normal, Harga Minyak Ikut Terdongkrak

Bank sentral di seluruh dunia pasti akan meningkatkan suku bunga acuan minggu ini untuk menjinakkan inflasi yang tinggi. Ditambah lagi, risiko kenaikan 1 poin persentase penuh oleh Federal Reserve AS.

Banyak pedagang sekali lagi bergerak ke sela-sela untuk menunggu pertemuan Fed minggu ini, kata Dennis Kissler, wakil presiden senior perdagangan di BOK Financial.

Hari libur umum Inggris untuk pemakaman Ratu Elizabeth membatasi volume perdagangan selama jam-jam London pada hari Senin (19/9/2022).

Baca juga: Harga Minyak Naik Tipis, Tapi Catat Penurunan Mingguan

Namun, minyak juga berada di bawah tekanan dari harapan meredanya krisis pasokan gas Eropa. Pembeli Jerman memesan kapasitas untuk menerima gas Rusia melalui pipa Nord Stream 1 yang ditutup, tetapi ini kemudian direvisi dan tidak ada gas yang mengalir.

Minyak mentah telah melonjak tahun ini, dengan patokan Brent mendekati rekor tertinggi US$ 147 pada Maret setelah invasi Rusia ke Ukraina memperburuk kekhawatiran pasokan. Kekhawatiran tentang pertumbuhan ekonomi yang lebih lemah dan permintaan telah mendorong harga lebih rendah.

Dolar AS bertahan di dekat level tertinggi dua dekade menjelang keputusan The Fed dan bank sentral lainnya minggu ini. Dolar yang lebih kuat membuat komoditas berdenominasi dolar lebih mahal bagi pemegang mata uang lain dan cenderung membebani minyak dan aset berisiko lainnya.

Baca juga: Minyak Terkoreksi Naik Tipis Didukung Beberapa Sentimen Positif

Pasar juga telah ditekan oleh perkiraan permintaan yang lebih lemah, seperti prediksi minggu lalu oleh Badan Energi Internasional bahwa akan ada pertumbuhan permintaan nol pada kuartal keempat.

"Pasar masih memiliki awal sanksi Eropa terhadap minyak Rusia yang menggantung di atasnya. Karena pasokan terganggu pada awal Desember, pasar tidak mungkin melihat respons cepat dari produsen AS," kata analis ANZ.

Pelonggaran pembatasan Covid-19 di Tiongkok, yang telah mengurangi prospek permintaan di konsumen energi terbesar kedua di dunia, juga dapat memberikan optimisme, kata para analis.

Stok minyak mentah AS diperkirakan rata-rata meningkat sekitar 2 juta barel dalam seminggu hingga 16 September, menurut jajak pendapat Reuters.

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com