Menu
Sign in
@ Contact
Search
Rhenald Kasali. (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso)

Rhenald Kasali. (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso)

Rhenald Kasali: Efisiensi GOTO Bukan Karena Resesi

Jumat, 18 Nov 2022 | 20:34 WIB
Investor Daily (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – Pakar bisnis Rhenald Kasali mengatakan bahwa efisiensi berupa perampingan karyawan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) tak ada hubungannya dengan resesi ekonomi global.

“Ancaman resesi global yang terus didengungkan, kalau dipercaya, bisa menimbulkan resesi sungguhan. Eksekutif yang kurang piawai bisa gegabah melakukan pemotongan besar-besaran, dan nanti bisa sebaliknya bisa menimbulkan distrust dan penurunan kinerja,” kata dia dalam pernyataannya, Jumat (18/11/2022).

Rhenald menyayangkan pernyataan sejumlah pihak yang gegabah menyebarluaskan ketakutan resesi yang seakan-akan sudah di depan mata.

Padahal, ‘sesuatu’ itu belum terjadi, tapi banyak orang sudah dipaksa mempercayainya dan seolah-olah sudah merasakannya. Itu namanya trust recession, bukan economic recession.

Advertisement

Baca juga: GoTo Lakukan Efisiensi untuk Percepat Kemandirian Finansial

“Untuk membuat publik percaya ada pihak yang mengaitkan dampak ekonomi dari resesi akibat pandemi yang lalu, dengan resesi tahun depan yang konon sudah dirasakan di Jawa Barat. Dikabarkan, katanya, sudah ribuan pekerja tekstil, garmen, dan alas kaki yang tujuannya ekspor terdampak PHK,” tuturnya.

Berita yang tak kalah heboh muncul hari ini di salah satu portal berita, yang mengabarkan bahwa GOTO baru saja mengumumkan PHK terhadap 1.300 orang atau sekitar 12% dari karyawannya.

Baca juga: Analis : Efisiensi Disambut Positif demi Tekan Biaya GOTO

Sontak semua orang berpaling pada ancaman resesi yang sudah gencar disampaikan sejumlah pihak. GOTO menyatakan, keputusan sulit itu tidak dapat dihindari. Dijelaskan, tantangan makro ekonomi global berdampak signifikan bagi para pelaku usaha di seluruh dunia. Apalagi kemarin, Pemerintah Inggris mengumumkan secara resmi memasuki resesi.

Resesi sendiri ada dua macam, lanjut pakar ekonomi-bisnis UI ini. “Ada economic recession seperti yang dialami Inggris dan ada trust recession yang sekarang dipaksakan ke dalam otak kita seakan-akan resesi terjadi di sini,” ujar penggagas Rumah Perubahan Jakarta Escape ini.

Economic recession adalah terminologi makro, yang ditandai dengan penurunan pertumbuhan ekonomi (negatif) selama dua kuartal berturut-turut.

Baca juga: Kolaborasi Electrum dan Pertamina, Sinyal Pertumbuhan Kendaraan Listrik GOTO?

Rhenald menjelaskan, dalam ekonomi makro, resesi bukanlah sebuah aib. Ia merupakan bagian alami pergerakan ekonomi, yang bersifat dinamis. Kadang perekonomian itu naik, kadang turun. Yang penting, saat turun lakukan langkah-langkah preskriptif secara disiplin. Lagi pula, kalaupun resesi, dunia tak akan resesi selamanya, kecuali mereka terlibat dalam konflik (perang) secara berkelanjutan.

Yang ramai diperbincangkan adalah resesi kedua yang dikenal sebagai trust recession, semacam quasi recession (resesi semu/palsu).

“Ini adalah sebuah gejala psikologis yang datang dari rasa cemas atau takut yang berlebihan (dari orang yang menarasikan atau yang menyebarluaskan). Kadang gejala ini juga disebut sebagai the negativity bias. Belum lagi resesinya datang, tapi bayangan gelapnya sudah disambut, dipeluk, dan dipamerkan sebagai hantu hitam yang “keren”.

Baca juga: GOTO Masuk Indeks IDX LQ45 Low Carbon Leaders, Apa Pertimbanganya?

Jika masyarakat kadung percaya dan ketakutan, maka pengusaha akan melakukan deep cut (memotong anggaran, menutup usaha, menghentikan investasi, ekspansi atau berpromosi, melakukan penghematan, PHK, mengurangi stok, bahkan malas melakukan apa-apa). Dan akhirnya bukan saja resesi, melainkan terjadi stagnasi dan depresi.

Kalau benar GOTO terdampak gejolak ekonomi global, tentu kinerjanya buruk. Faktanya, pada akhir kuartal II-2022, perseroan berhasil melakukan penghematan biaya struktural sebesar Rp 800 miliar. Jika pandemi orang tak segencar berbelanja online seperti sebelumnya, itu bisa saja terjadi. Tapi, GOTO punya kekuatan ekosistem keuangan yang solid mulai dari Midtrans sampai Moka yang menjamin solusi Online-Offline (O2O).

Baca juga: GOTO Bakal Tunjukkan Kinerja Terbaik, Ini Target Harga Baru Sahamnya

“Yang perlu diwaspadai sebenarnya bukan dampak resesi, tetapi dampak disrupsi yang akan menghilangkan sekitar 40% lapangan kerja menyusul kemajuan robotisasi, sehingga biaya robot telah turun 65% dalam 10 tahun belakangan ini. Sementara, biaya upah manusia rata-rata naik 8,5% per tahun,” ungkap Rhenald.

Adapun dampak pengurangan SDM secara permanen akibat disrupsi digital sudah harus diantisipasi mulai dari sekarang. Perhatikan, dulu setiap 1% pertumbuhan ekonomi, bisa menciptakan sekitar 200 ribu lapangan kerja. Ke depan, paling tinggi sekitar 90 ribu. “Perusahaan juga harus disadarkan bahwa keinginan bekerja fulltime generasi Z sudah di bawah 50%,” tutupnya.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com