Menu
Sign in
@ Contact
Search
obligasi Surat Utang Negara (SUN)

obligasi Surat Utang Negara (SUN)

Suku Bunga The Fed Melandai, Harga SUN Menguat Terbatas

Senin, 28 Nov 2022 | 05:00 WIB
Muawwan Daelami (muawwan@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Harga Surat Utang Negara (SUN) pekan ini diprediksi mengalami penguatan dengan imbal hasil (yield) di bawah 7,0%. Penguatan harga itu didorong oleh melandainya kenaikan suku bunga the Fed dan derasnya aliran masuk modal asing.

Senior Economist KB Valbury Sekuritas Fikri C Permana mencermati, harga SUN akan menguat karena melemahnya sentimen the Fed rate hike dan sentimen positif dari net buy asing pada pekan lalu yang mencapai Rp 11 triliun.

"Jadi, dua hal itu akan mendorong SUN pada awal pekan ini menjadi relatif baik dan yield akan menurun," ucapnya kepada Investor Daily, Minggu (27/11/2022).

Baca juga: Korporasi Raih Rp 144,9 Triliun dari Surat Utang, Masih Marak!

Advertisement

Di balik diproyeksi penguatan harga itu, Fikri tetap menyarankan investor untuk waspada terhadap tekanan yield yang berpotensi terjadi pada pertengahan pekan atau Kamis nanti (1/12/2022) yang memunculkan risiko inflasi akibat terganggunya rantai pasok.

Sentimen lain, yang juga perlu dicermati adalah meningkatnya kasus Covid-19 di kawasan terutama di Tiongkok dan kebijakan lockdown di Beijing yang berpotensi memberikan dampak kepada Indonesia.

"Karena itu, awal pekan saya berharap, yield bisa mendekati di bawah 7,0. Tapi, mungkin pada akhir pekan karena ada risiko tekanan inflasi, saya khawatir yield bisa mendekati 7,2%. Jadi, mungkin rentang yield antara 7,0% sampai 7,2%," ungkapnya.

Baca juga: Sejak 2009, SMF Terbitkan Surat Utang Senilai Rp 50,4 Triliun

Seiring dengan agresifnya aliran modal asing (capital inflow) di pasar SUN. Menurut data Bank Indonesia, capital outflow justru berpeluang terjadi di pasar saham atau Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan depan.

Atas dasar itu, Fikri berpendapat, dengan sentimen the Fed yang cenderung mereda bakal memicu investor global untuk melirik emerging market sebagai instrumen investasi. Alhasil, capital inflow di pasar SUN akan menjadi lebih agresif meski dibayang-bayangi data inflasi.

Geliat investor asing ini diproyeksi bakal tercermin dari aktivitas lelang yang digelar pemerintah pada 29 November nanti. Di mana, pada tanggal itu, pemerintah berencana melelang surat berharga syariah negara (SBSN) seri SPN-S (Surat Perbendaharaan Negara-Syariah) dan PBS (Project Based Sukuk) untuk memenuhi sebagian dari target pembiayaan dalam APBN 2022 dengan target indikatif Rp 5 triliun.

Fikri melihat lelang tersebut akan menarik karena lelang itu kemungkinan menjadi lelang terakhir pada tahun ini dilihat dari kebutuhan fiskal yang sekarang masih surplus.

Baca juga: Indika (INDY) Buyback Surat Utang Hampir Rp 450 Miliar

"Jadi, saya optimistis dengan lelang kali ini jika dibandingkan dengan lelang minggu sebelumnya. Tapi, apakah incoming bids-nya akan sama dengan incoming pada awal-awal tahun, saya pikir belum. Tapi yang jelas, partisipasi investor asing pada lelang ini akan naik dari penawaran sebelumnya," imbuh Fikri.

Mengingat lelang tersebut menjadi lelang terakhir atau menuju penutupan pada tahun ini, maka kata Fikri, window dressing akan membuat pasar sekunder menjadi lebih ramai. Keramaian itu juga disebabkan oleh langkah BI yang akan memanfaatkan dana burden sharing sekitar Rp 70-80 triliun pada awal Desember.

"Karena sentimen the Fed mulai turun, saya pikir BI juga akan melakukan hal serupa. Jadi, saya pikir tekanan kenaikan cost of fund akan melandai setelah the Fed rate hike yang kemungkinan terjadi pada pertengahan Desember dan di Bank Indonesia terjadi seminggu setelahnya. Mungkin, hal itu juga bisa mendorong sentimen window dressing pada akhir Desember menjadi lebih kencang," ungkap Fikri.

Secara terpisah, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario memprediksi bahwa harga SUN pekan depan akan melanjutkan penguatan meskipun terbatas dengan yield sekitar 6,9%.

Baca juga: Emiten Grup Sinar Mas (INKP) Segera Rilis Surat Utang Rp 3,8 Triliun

Menurut Ramdhan, penguatan tersebut berkat tumbuhnya minat investor asing terhadap pasar Indonesia, sehingga hal ini memberi keyakinan kepada asing untuk masuk setelah sebelumnya mengalami tekanan kenaikan suku bunga the Fed dan BI rate.

"Dengan kondisi makro ekonomi domestik yang cukup solid dan meredanya potensi resesi walaupun suku bunga tetap tinggi, paling tidak sudah membuat kepercayaan investor masuk ke emerging market Indonesia kembali tinggi sehingga menambah likuiditas di pasar SUN," ujar Ramdhan.

Kendati begitu, sama seperti Fikri, Ramdhan juga mengingatkan investor untuk selalu mewaspadai kondisi global yang masih diliputi ketidakpastian akibat kenaikan suku bunga dan tekanan inflasi lantaran melonjaknya harga-harga komoditas.

Sentimen lain yang juga perlu dicermati, sebut Ramdhan, yaitu pergerakan US treasury yang kemungkinan terus membayangi pergerakan pasar SUN. Sebab, jika US treasury mengalami kenaikan, maka SUN akan melemah. Sebaliknya, jika US treasury menurun, pasar akan bertahan dan cenderung menguat.

Baca juga: Lewat Surat Utang, 71 Emiten Serok Dana Rp 121,03 T

Sementara terkait window dressing, Ramdhan menilai, hal itu tidak akan berpengaruh signifikan terhadap pergerakan yield. "Yield kita di sekitar 7% sudah cukup baik untuk kondisi sekarang. Karena suku bunga global masih cukup tinggi dan BI juga melakukan penyesuaian. Harapannya, yield SUN spread kita dengan yield US treasury semakin kecil," katanya.

Pasalnya, ia melihat potensi memperkecil selisih yield itu tetap ada sepanjang posisi likuiditas tinggi. Apalagi, akhir tahun nanti secondary market diprediksi menguat meski potensi penguatannya tidak signifikan akibat ketidakpastian global.

Kemudian terkait lelang, Ramdhan mengaku optimistis target indikatif akan tercapai karena berkaca dari keberhasilan lelang pekan lalu yang realisasinya menembus di atas Rp 30 triliun berkat kondisi pasar yang jauh lebih kondusif.

"Menurut saya lelang pekan ini akan masuk di atas Rp 10 triliun karena pasarnya confidence untuk menguat," tutup Ramdhan.  

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com