Menu
Sign in
@ Contact
Search
PT Kimia Farma Tbk (KAEF) telah menandatangani nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) dengan Sinopharm dalam rangka penguatan kerja sama meliputi produksi, distribusi, dan ekspor impor. Kolaborasi ini juga dilakukan untuk peningkatan riset serta lisensi.

PT Kimia Farma Tbk (KAEF) telah menandatangani nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) dengan Sinopharm dalam rangka penguatan kerja sama meliputi produksi, distribusi, dan ekspor impor. Kolaborasi ini juga dilakukan untuk peningkatan riset serta lisensi.

Teken MoU, Kimia Farma (KAEF) dan Sinopharm Makin Mesra

Rabu, 30 Nov 2022 | 13:17 WIB
Ghafur Fadillah (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – PT Kimia Farma Tbk (KAEF) telah menandatangani nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) dengan Sinopharm dalam rangka penguatan kerja sama meliputi produksi, distribusi, dan ekspor impor. Kolaborasi ini juga dilakukan untuk peningkatan riset serta lisensi.

Direktur Utama Kimia Farma David Utama mengatakan, kolaborasi ini untuk mewujudkan ketahanan kesehatan nasional dan peningkatan layanan kesehatan di Indonesia, dimana diperlukan dukungan dan kolaborasi dari mitra global.

Baca juga: INA dan SRF Bakal Serap 5% Rights Issue Kimia Farma (KAEF)

“Kami diberikan kesempatan untuk bekerja sama dengan Sinopharm dalam perluasan bisnis dan upaya mendukung ketahanan kesehatan di Indonesia,” kata David dalam keterangan tertulis, Rabu (30/11/2022).

Advertisement

Dalam kesempatan yang sama, President Sinopharm International Zhou Song menuturkan bahwa Kimia Farma dan Sinopharm kembali bergandengan tangan untuk mendorong transformasi industri kesehatan.

Sementara itu, Chairman Sinopharm Group Liu Jingzhen menyampaikan bahwa pihaknya mendukung perjuangan melawan pandemi di Indonesia melalui penyediaan vaksin Covid-19, dimana hal itu menjadi bentuk kerja sama antar negara dalam peningkatan kesehatan masyarakat.

Baca juga: Kimia Farma (KAEF) Lepas 40% Saham KFA Rp 1,86 Triliun

“Kerja sama dalam penanganan pandemi Covid-19 antara perusahaan farmasi besar yang dimiliki kedua negara telah menjadi bukti kolaborasi yang baik dalam mendukung ketahanan kesehatan. Ke depan, kedua pihak akan mendukung Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) di Indonesia untuk membantu memproduksi bahan baku obat dalam negeri,” ujar Liu.

Dirjen Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI Rizka Andalucia menambahkan, Indonesia sedang menjalankan program transformasi sistem kesehatan. Pelaksanaan transformasi ini terdiri atas 6 pilar, yaitu transformasi pelayanan primer, transformasi pelayanan sekunder, transformasi sistem ketahanan kesehatan, transformasi pembiayaan kesehatan, transformasi talenta kesehatan, dan transformasi teknologi kesehatan.

Baca juga: Fokus ke Pengembangan Alat Kesehatan dan Herbal, Indofarma (INAF) Siapkan Investasi Rp 199,86 Miliar

Transformasi ini bertujuan untuk memberikan kesehatan bagi bangsa dan sistem ketahanan kesehatan yang lebih baik, hingga akhirnya akan berkontribusi secara global untuk memperkuat arsitektur kesehatan global.

“Sesuai dengan pilar ketiga yaitu transformasi sistem ketahanan kesehatan, Indonesia menargetkan untuk mencapai ketahanan nasional melalui dukungan pada penelitian, pengembangan, dan produksi 10 Bahan Baku Obat (BBO) dalam negeri terbanyak yang salah satunya adalah paracetamol," ujar Rizka.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com