Menu
Sign in
@ Contact
Search
Produk baja PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS). (Foto: Perseroan)

Produk baja PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS). (Foto: Perseroan)

Krakatau Steel (KRAS) Siapkan Rencana Besar Lunasi Utang Rp 26 Triliun

Minggu, 4 Des 2022 | 21:19 WIB
Muawwan Daelami (muawwan@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) berencana mempercepat pelunasan utang sebesar US$ 1,7 miliar atau setara Rp 26,2 triliun pada 2027 dari target semula 2050. Percepatan pembayaran akan dilakukan melalui restrukturisasi, keuntungan operasional, dan penjualan aset perseroan.

"Kalau hanya mengandalkan keuntungan operasional tanpa perjanjian restrukturisasi, utang baru terlunasi selama 40 tahun. Dengan ditambah restrukturisasi bisa dilunasi dalam waktu 17 tahun pada 2027," kata Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim kepada Investor Daily, Minggu (4/12/2022).

Berdasarkan perjanjian restrukturisasi yang ditandatangani perseroan pada periode 2019-2020, emiten baja nasional tersebut berhasil memenuhi kewajiban utang sebesar US$ 487 juta atau setara Rp 7-8 triliun, termasuk pembayaran beban bunga tahunan dari total utang US$ 2,2 miliar.

Baca juga: Sah, Krakatau Steel (KRAS) Kuasai 50% Saham Krakatau Posco

Advertisement

Silmy mengklaim, proses restrukturisasi dan transformasi perseroan sampai saat ini sudah berjalan pada jalur yang benar, meski belum menuntaskan keseluruhan utang. "Kami berharap, dengan semakin membaiknya kinerja dan dukungan pemerintah, serta makin eifisiennya Krakatau Steel, kami bisa lebih cepat menyelesaikan utang," tambah dia.

Untuk itu, dia meminta adanya kepastian pasar yang fair agar tidak terjadi dumping atas pembayaran bea masuk produk impor. Sebab, beberapa importir menggunakan harmonized system (HS) code yang akhirnya membuat mereka terbebas dari bea masuk.

"Inilah yang kami minta dukungan, karena hal itu berada di luar jangkauan kami. Ada satu lagi bea masuk anti dumping baja canai dingin (Cold Rolled Coil/CRC) yang dari 2016 sudah kami ajukan perpanjangan melalui Kementerian Keuangan, tapi belum dirilis," jelas Silmy.

Terbukti, produk impor terutama CRC membanjiri pasaran pada tahun lalu. Begitu juga tahun ini, dimana produk turunan CRC yakni coated sheets dan turunan lain yang dimanfaatkan sebagai bahan baku baja otomotif membludak di pasaran.

Baca juga: Laba Bersih Krakatau Steel (KRAS) Melesat 34%

Hal itu menjadi salah satu alasan emiten berkode saham KRAS tersebut meningkatkan porsi kepemilikan di PT Krakatau Posco menjadi 50% dari sebelumnya 30%. Tujuannya untuk memproduksi bahan baku baja otomotif di dalam negeri.

"Jadi, kalau kita lihat kebutuhan baja otomotif di Indonesia itu sekitar 1 juta ton. Di sini diproduksi 400 ribu oleh PT Krakatau Nippon Steel Sumikin (KNSS), 400 ribu lagi oleh PT JFE Steel Galvanizing, dan 200 ribu impor. Tapi, atas 800 ribu yang diproduksi KNSS dan JFE itu sebagian bahan bakunya masih impor. Inilah yang akan kami produksi. Impornya saat ini 80-90% untuk bahan baku," sebut Silmy.

Sebab itu, KRAS melakukan peningkatan saham di Krakatau Posco, dan harapannya dapat dipertahankan agar bisa menekan impor bahan baku baja otomotif. Silmy meyakini, Krakatau Posco akan bisa memenuhinya, karena Posco merupakan perusahaan baja paling efisien, salah satunya ditandai dari rasio EBITDA yang mencapai 18%, tertinggi dibandingkan pabrik baja lainnya di dunia.

Adapun keuntungan langsung yang diperoleh KRAS dari penambahan saham menjadi 50% di Krakatau Posco adalah mendapatkan sekitar US$ 90 juta plus US$ 30 juta dalam bentuk kas, yang akan digunakan untuk mengurangi beban utang pada tahun depan.

Baca juga: Vale Indonesia (INCO) dan Huayou Groundbreaking Proyek Blok Pomalaa Rp 67,5 T

"Jadi, nanti ada pembayaran utang di 2023 yang kami peroleh dari hasil transaksi ini. Paling lambat setahun setelah transaksi, akan dibayarkan kepada Krakatau Steel, dan kami akan gunakan untuk mengurangi pokok utang," tutur dia.

Keuntungan lain yang diperoleh perseroan dari peningkatan saham di Krakatau Posco adalah KRAS mampu melunasi total pinjaman sebesar US$ 216 juta ke bank asal Jerman, Commerzbank AG dan menghapus biaya derivatif senilai US$ 200 juta. "Jadi, manfaat peningkatan saham 50% di Posco itu dirasakan baik secara langsung kami dapatkan di tahun ini maupun tahun depan," imbuh Silmy.

Untuk tahun depan, Silmy mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan beberapa inisiatif strategis, di antaranya dengan meningkatkan produksi Hot Strip Mill (HSM) 2 dan Cold Rolling Mill (CRM) 2, serta Coated Galvanizing untuk dijadikan sebagai bahan baku baja otomotif.

Baca juga: Antam (ANTM) Mau Bangun Kawasan Industri Hilirisasi Bijih Nikel, Ajak CNGR

Selain itu, perseroan juga berencana melaksanakan penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue setelah memproleh restu dari para pemegang saham. Termasuk, membawa anak usaha PT Krakatau Sarana Infrastruktur untuk melakukan penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) saham.

"Semua itu ada dalam proses penyusunan RKAP IPO Krakatau Sarana Infrastruktur, sehingga kedua hal ini akan menjadi rencana strategis perseroan di 2023," tutup Silmy.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com