Sabtu, 1 April 2023

Tren Bullish, Harga Batu Bara Diprediksi Tembus US$ 400

Indah Handayani
5 Des 2022 | 09:44 WIB
BAGIKAN
Batu bara. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Ruht Semiono
Batu bara. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Ruht Semiono

JAKARTA, investor.id – Harga batu bara masih dalam tren bullish. Bahkan diprediksi tembus US$ 400 per ton setelah 5 Desember 2022, yang merupakan tanggal mulai diberlakukannya embargo minyak Rusia oleh Eropa dan negara G7.  

Harga batu bara Newcastle pada penutupan Jumat (2/12/2022), kontrak pengiriman Desember 2022 naik 1,56% menjadi US$ 391 per ton. Kontrak pengiriman Januari 2023 meningkat 2,39% menjadi US$ 385 per ton.

Sementara itu, kontrak pengiriman Februari 2023 menguat 9,1% menjadi US$ 375,85 per ton. Sedangkan harga batu bara Rotterdam pengiriman Desember 2022 terdongkrak 1% menjadi US$ 267 per ton. Kontrak pengiriman Januari 2023 naik 0,86% menjadi US$ 271,3 per ton.

Research & Development ICDX Girta Yoga mengatakan, harga batu bara saat ini masih berada pada tren bullish. Sentimen yang mempengaruhi antara lain ancaman suhu yang lebih dingin di Eropa pada musim dingin ini, gangguan pasokan di negara produsen yaitu Indonesia dan Australia akibat tingginya curah hujan.

“Ditambah lagi, optimisme akan pemulihan permintaan batu bara di Tiongkok seiring dengan sinyal penurunan kasus Covid-19 di negara importir batu bara terbesar pertama dunia itu,” ungkap Yoga kepada Investor Daily, belum lama ini.

Yoga menambahkan, harga batu-bara sepekan ini diperkirakan akan bergerak pada level resistance terdekat berada di kisaran harga US$ 425 - 450 per ton dan level support terdekat di harga US$ 375 - 350 per ton.

Yoga menambahkan, harga batu bara kemungkinan besar malah akan menembus level di atas US$ 400 per ton, mengingat pada 5 Desember nanti akan diberlakukan embargo minyak Rusia oleh Eropa dan negara G7. Sehingga ada potensi terjadinya peningkatan peningkatan permintaan untuk pengganti minyak dan gas alam dari Rusia, dimana salah satu pilihan paling ideal adalah batu bara.

“Selain itu, ancaman suhu yang lebih dingin di Eropa pada musim dingin ini, dan gangguan pasokan di negara produsen batu bara seperti Indonesia dan Australia akibat tingginya curah hujan, membuat laju pergerakan harga batu bara menjadi semakin terkerek naik,” tambah Yoga.

Yoga menyebut, melihat dampak yang muncul akibat konflik Ukraina, khususnya terkait embargo terhadap komoditas energi Rusia. Maka, masih sangat mungkin bagi harga batu bara untuk tetap berada pada tren bullish, setidaknya hingga kuartal pertama tahun depan.

Editor: Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Baca Berita Lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 18 menit yang lalu

Kuartal I-2023, Total Emisi Obligasi dan Sukuk Tembus Rp 27,46 Triliun

BEI menyebut, total emisi obligasi dan sukuk yang sudah tercatat sepanjang tahun ini atau kuartal I-2023 tembus Rp 27,46 triliun.
Market 45 menit yang lalu

Perkuat ESG, DOID Gandeng Torajamelo

BIRU siapkan utang yang dapat dikonversi menjadi saham senilai Rp7,5 miliar yang akan dimanfaatkan untuk tingkatkan dampak sosial Ahana.
Market 1 jam yang lalu

BEI Hentikan Sistem Perdagangan FITS, Mengapa?

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan penghentian layanan sistem perdagangan Fixed Income Trading System (FITS). Mengapa?
International 1 jam yang lalu

ASEAN Sumbang 3% dari PDB Riil Dunia

Kapasitas ASEAN harus diperkuat untuk menjawab tantangan hari ini, dan tantangan 20 tahun ke depan.
National 2 jam yang lalu

Kabar Gembira, UI Umumkan 410 Camaba Lewat Jalur Talent Scouting

Sebelumnya, sebanyak 2.049 orang calon mahasiswa baru lolos penerimaan masuk melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP)
Copyright © 2023 Investor.id