Menu
Sign in
@ Contact
Search
Investor memantau pergerakan saham di galeri sekuritas di Jakarta. (B-Universe Photo/Uthan AR)

Investor memantau pergerakan saham di galeri sekuritas di Jakarta. (B-Universe Photo/Uthan AR)

January Effect Ada Nggak sih? Ini Analisisnya

Senin, 23 Jan 2023 | 13:01 WIB
Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Meski masa trading bursa pada Januari 2023 tersisa sepekan lebih, indeks harga saham gabungan (IHSG) masih berpeluang naik lagi pada akhir Januari. Dengan begitu, fenomena January Effect bakal terjadi tahun ini.

Pengamat pasar modal, Hari Prabowo mengungkapkan bahwa masih adanya peluang January Effect berdasarkan analisis terhadap lima faktor.

“Pertama, akhir Desember 2022, window dressing ternyata ‘zonk’ atau tidak ada gerakan yang mengarah ke window dressing. Bahkan IHSG ditutup turun setelah selama 20 tahun pada akhir Desember selalu ditutup naik,” kata Hari dalam ulasannya, yang dikutip pada Senin (23/1/2023).

Baca juga: Deretan Saham dengan Cuan Berlimpah, Ada yang sampai 100% Lebih!

Advertisement

Kedua, menurut dia, tekanan jual oleh investor asing mulai melemah di beberapa saham blue chip, terutama saham-saham bank BUMN dan BBCA. Ketiga, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dalam tren menguat secara bertahap. Hal itu sangat membantu menurunkan beban selisih kurs serta harga barang impor.

Lalu, keempat adalah kegiatan ekonomi setelah pencabutan PPKM menunjukkan pertumbuhan positif. Kelima, neraca perdagangan pada Desember 2022 kembali surplus US$ 3,89 miliar, sehingga sepanjang tahun lalu menunjukkan surplus terbesar dengan capaian US$ 54,46 miliar.

Baca juga: Permintaan Baja dan Besi Bakal Tinggi, Cermati Dua Saham Jagoannya

Sebab itu, IHSG cenderung menguat hingga akhir Januari 2023, sekalipun terbatas. Volatilitas yang tinggi pada saham-saham blue chip kemungkinan juga masih terjadi. Sementara itu, sentimen kenaikan suku bunga dan kekhawatiran kembali terhadap resesi dunia masih menjadi hambatan laju IHSG.

“Maklum uang akan mengalir dan mencari tempat investasi yang dirasa aman dan menguntungkan,” tutur Hari.

Para pemodal bisa mencermati beberapa saham, antara lain BBRI, UNVR, ADRO, ANTM, BRMS, BBKP, MEDC, dan PSSI. Saham-saham tersebut cenderung menguat, meskipun berfluktuasi. “Ada semboyan trader, yaitu sedikit di tangan lebih baik daripada banyak di angan-angan,” ujarnya.

Sementara itu, investor asing mulai mencatatkan transaksi beli bersih (net buy) pada saham dengan nilai yang besar dalam dua hari perdagangan terakhir.

Baca juga: Ssstt! Segini Jumlah Kekayaan Lo Kheng Hong Hasil Investasi Saham 30 Tahun Lebih

Pada perdagangan Jumat (20/1/2023), investor asing mencetak net buy di seluruh pasar sebesar Rp 331,5 miliar. Sehari sebelumnya, Kamis (19/1/2023), net buy asing senilai Rp 709 miliar. Dengan demikian, net buy dalam dua hari perdagangan terakhir mencapai Rp 1,04 triliun.

Alhasil, total transaksi jual bersih (net sell) asing sepanjang tahun berjalan ini menyusut jadi Rp 4,5 triliun.

Baca juga: Net Buy Mulai Kencang, Asing Serbu Saham-Saham Ini

Berdasarkan data yang disajikan RTI, terdapat lima saham yang diserbu asing di pasar reguler sepanjang tahun berjalan ini. Kelimanya adalah saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR).

Net buy pada saham MDKA mencapai Rp 593,4 miliar, ANTM sebesar Rp 436 miliar, ADRO Rp 302 miliar, BBNI Rp 240,1 miliar, dan UNVR Rp 127,4 miliar.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com