Selasa, 21 Maret 2023

Sektor Energi Masih Menarik, Dua Saham Ini Layak Dicermati

Indah Handayani
3 Feb 2023 | 14:00 WIB
BAGIKAN
Aktivitas investor di galeri sekuritas di Jakarta. (Beritasatu Photo/Uthan AR)
Aktivitas investor di galeri sekuritas di Jakarta. (Beritasatu Photo/Uthan AR)

JAKARTA, investor.id – Indeks saham sektor energi sepanjang tahun ini terkikis 5,04%. Meski demikian, sektor ini masih menarik, bahkan ada dua saham yang layak untuk dicermati, apakah itu?

Financial Expert Ajaib Sekuritas Ratih Mustikoningsih mengatakan, harga bahan bakar fosil di tahun 2022 mengalami lonjakan yang signifikan, dipicu oleh meningkatnya harga gas secara global khususnya di Eropa. Tingginya harga gas membuat permintaan bahan bakar substitusi melonjak, seperti batu bara yang dinilai memiliki harga lebih kompetitif.

“Berdasarkan data International Energy Agency (IEA) permintaan batu bara secara global menyentuh level 8 miliar ton di tahun 2022, sekaligus menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah,” tulis Ratih dalam risetnya, Jumat (3/2/2023).  

Ratih menjelaskan, Tiongkok dengan konsumsi batu bara terbesar secara global juga mengalami lonjakan permintaan meskipun aktivitas ekonomi dan industri terkontraksi akibat Zero Covid Policy. Permintaan batu bara di Tiongkok masih tinggi karena gelombang panas meningkatkan permintaan listrik. Begitupun di India gelombang panas pada pertengahan tahunan lalu membuat permintaan batu bara menguat seiring konsumsi listrik yang meningkat.

Pada 2023, lanjut dia, secara sektoral kinerja sektor energi dalam pergerakan Year to Date (YtD) mengalami koreksi 5,04%. Terkoreksinya sektor energi sejalan dengan harga komoditas yang turun, seperti batu bara dan migas. Harga batu bara ICE Newcastle untuk kontrak bulan Maret saat ini tercatat di level US$ 237,5 per metrik ton, turun tajam dari puncaknya pada level US$450 per metrik ton di tahun lalu. Harga minyak WTI juga mengalami kontraksi dari puncaknya sebesar US$120 per barrel menjadi US$76 per barrel.

Menurutnya, terdapat beberapa faktor pendorong harga energi mengalami penurunan, diantaranya industri manufaktur Eropa masih berada di level kontraksi yang menandakan aktivitas bisnis melemah karena output produksi dan permintaan juga turun. Sejalan dengan kenaikan suku bunga untuk menekan angka inflasi. Inflasi yang mulai melandai akibat turunya harga energi.

“Ditambah lagi, suhu musim dingin yang lebih hangat di kawasan Eropa menurunkan permintaan energi sebagai penghangat,” jelasnya.

Meski demikian, Ratih mengatakan ada katalis positif terkait bahan bakar batu bara yang masih lebih murah dibandingkan dengan energi lainya, seperti gas. Alhasil, sumber energi tersebut masih menarik bagi pasar Asia dan India.

Melihat katalis turunnya harga energi di tahun 2023 dengan pertimbangan gangguan rantai pasok yang mulai teratasi. Kami melihat emiten energi dengan diversifikasi bisnis berkelanjutan akan mendapatkan katalis positif. Beberapa emiten di sektor migas dan batu bara telah berencana dan memulai segmen bisnis pada energi terbarukan, seperti kendaraan listrik, membangun smelter nikel dan alumunium sebagai komponen kendaraan listrik, gasifikasi batu bara,  serta memiliki bisnis penyewaan dan penjualan lahan.

“Namun, rencana diversifikasi tersebut pastinya membutuhkan dana dan waktu, sehingga kami melihat pembagian dividen (dividend payout ratio) emiten energi di tahun 2023 akan minim, mengingat ekspansi tersebut membutuhkan cash flow yang sehat. Oleh karena itu, kami netral untuk sektor energi di tahun ini,” jelas Ratih.

Secara teknikal, Ratih melihat saham sektor energi dibawah ini yang masih menarik dicermati, yaitu

  • AKRA

Rekomendasi: Speculative buy di area Rp1.410-Rp1.425

Target harga: Resistance di level Rp1.580

Cut loss: Apabila break support di level harga Rp1.350.

  • PGAS

Rekoemndasi: Speculative buy di area Rp1.600-1.605

Target harga: Resistance di level Rp1.720

Cut loss: Apabila break support di level harga Rp1.540.

Editor: Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Baca Berita Lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


International 11 menit yang lalu

Bagaimana US$ 17 Miliar Hilang dari Obligasi ‘CoCo’ Credit Suisse

Penjualan Credit Suisse ke UBS telah memperbaharui perhatian pada obligasi CoCo, sekuritas keamanan hibrida setelah krisis keuangan 2008.
Finance 15 menit yang lalu

Kementerian ATR/BPN Gandeng Bank Mandiri Luncurkan e-PNBP

Kementerian ATR/BPN menggandeng Bank Mandiri meluncurkan e-PNBP melalui Microsite Bank Mandiri untuk layanan informasi pertanahan
Market 19 menit yang lalu

Bitcoin Berpotensi Lanjutkan Momentum Bullish

Financial Expert Ajaib Kripto Panji Yudha menjelaskan, harga Bitcoin terus akan terus melanjutkan momentum bullish.
Business 19 menit yang lalu

Terapkan Konsep TOD, Modern Cilejit Mendapat Apresiasi

Proyek hunian skala kota Modernland Cilejit menempel dengan stasiun Cilejit, Tangerang, Banten
National 27 menit yang lalu

Tok! DPR Akhirnya Sahkan Perppu Ciptaker Resmi Jadi UU

DPR akhirnya mengesahkan Perppu Ciptaker menjadi UU
Copyright © 2023 Investor.id