Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
BEI dan BKPM menandatangani nota kesepahaman peningkatan investasi Indonesia di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (28/1). Foto: Nabil Al Faruq.

BEI dan BKPM menandatangani nota kesepahaman peningkatan investasi Indonesia di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (28/1). Foto: Nabil Al Faruq.

500 Perusahaan PMA Berpotensi 'Listing' di BEI

Nabil Al Faruq, Selasa, 28 Januari 2020 | 20:06 WIB

JAKARTA, investor.id – Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) memproyeksikan jumlah Penanaman Modal Asing (PMA) yang berpotensi mencatatkan sahamnya (listing) di Bursa Efek Indonesia (BEI) sekitar 1-2%. Itu berarti potensinya sebanyak 260-520 PMA dari total 26.000 PMA.

Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengatakan, untuk bisa mencapai proyeksi tersebut, pihaknya telah melakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) yang mengintegrasikan investasi di sektor riil dengan investasi portofolio di pasar modal.

“Kerja sama yang hari ini kami lakukan adalah bagaimana BKPM yang memiliki data kurang lebih 26.000 PMA bisa kita arahkan ke BEI untuk listing,” kata Bahlil di sela acara penandatanganan MoU antara BKPM dan BEI, di Jakarta, Selasa (28/1).

Dia menegaskan, sebagian dari PMA belum melakukan pencatatan saham di BEI, karena sudah listing di negara mereka masing-masing. Pihaknya mengharapkan, MoU tersebut dapat memberikan hal positif agar para pelaku PMA juga bisa listing di BEI.

Meskipun demikian, untuk saat ini, BKPM belum bisa mengungkapkan perusahaan mana saja yang berpotensi melakukan pencatatan saham di BEI. Namun, Bahlil menyampaikan bahwa ada beberapa sektor yang berpotensi, yakni pertambangan, infrastruktur, perkebunan, dan pariwisata.

Sementara itu itu, Direktur Utama BEI Inarno Djajadi mengatakan, potensi kerja sama ini bisa memberikan sinergi yang positif bagi pasar modal indonesia. Menurut dia, jika ada 1% saja yang masuk ke bursa, maka akan memberikan efek berganda bagi pasar modal Tanah Air.

“Dengan sinergi dan kerja sama yang baik, kami harapkan dapat memberikan banyak manfaat dalam meningkatkan perekonomian di Indonesia. Selain itu, kerja sama ini juga dapat menjadi dasar dalam menetapkan kebijakan dan pelayanan di bidang penanaman modal,” ujar Inarno. 

Sebagai informasi, berdasarkan data perizinan terintegrasi secara elektronik/OSS, sampai dengan akhir Desember 2019 terdapat 668.000 perusahaan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA) yang terdaftar, dengan rincian 642.000 perusahaan PMDN dan 25.910 perusahaan PMA.

Sementara itu, mengenai mewabahnya virus Corona, Bahlil menegaskan bahwa dampaknya tidak begitu signifikan terhadap negara-negara yang berinvestasi di Indonesia, terutama dari Tiongkok. “Pengaruh Corona pada akhir Februari bisa kita lihat. Beda dengan pasar saham, saya pikir kami masih belum ada gejala virus Corona mempengaruhi realisasi investasi di Indonesia,” ujarnya.

Adapun menurut Inarno, dalam jangka pendek ada pengaruh dari wabah virus Corona terhadap pasar modal. Namun, hal yang harus diperhatikan bahwa wabah ini bukan yang pertama bagi pasar modal Indonesia.

“Sebelumnya sudah ada beberapa virus yang mengganggu kinerja IHSG, seperti flu burung, SARS, dan sebagainya. Secara historikal pengaruhnya ada, tapi untuk jangka panjang mudah-mudahan tidak ada,” ujar Inarno.

IPO Saham

Sementara itu, BEI mencatat sebanyak 27 perusahaan berniat menggelar penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham awal tahun ini. BEI menyebutkan bahwa 40% dari 27 calon emiten baru itu masuk dalam kategori perusahaan kelas atas dengan aset di atas Rp 250 miliar. Sedangkan 30% perusahaan masuk dalam kelas menengah dengan aset di atas Rp 50 miliar dan sisanya masuk kelas kecil dengan aset sejumlah Rp 5 miliar.

Direktur Penilaian Perusahaan I Gede Nyoman Yetna mengatakan, calon emiten tersebut berasal dari berbagai sektor industri, seperti infrastruktur, transportasi, konsumer, dan properti. "Saat ini, kami masih menunggu, apakah calon emiten dengan nilai aset di bawah Rp 250 miliar akan masuk papan pengembangan atau tidak," jelas dia, belum lama ini.

Nyoman menambahkan, tahun ini telah ada satu perusahaan dengan aset di bawah Rp 50 miliar yang dicatatkan di papan pengembangan BEI. "Contohnya yang sudah tercatat di papan akselerasi yaitu PT Tourindo Guide Indonesia Tbk (PGJO) pada awal Januari," tuturnya.

Tahun ini, BEI menargetkan sebanyak 79 penawaran umum baik pencatatan saham, obligasi, reksa dana saham (ETF), DIRE, dan Dinfra. "Seperti yang sudah tercatat pada awal tahun ini sudah ada tiga pencatatan saham dan satu ETF," ujar dia.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN