Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi. Foto: mncsekuritas.id

Ilustrasi. Foto: mncsekuritas.id

61 Emiten akan Galang Dana Rp 28,8 Triliun

Farid Firdaus, Minggu, 29 Maret 2020 | 19:52 WIB

JAKARTA, investor.id – Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, penghimpunan dana emiten melalui pasar modal mencapai Rp 21,55 triliun hingga 24 Maret 2020. Sementara itu, dalam pipeline OJK, terdapat 61 emiten yang akan melangsungkan penawaran saham dan surat utang senilai total Rp 28,8 triliun.

Penawaran saham itu termasuk penawaran umum perdana (intial public offering/IPO) saham dan penawaran umum terbatas (PUT). Hingga saat ini, sejumlah emiten seperti PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk (BEKS), PT Bank Artos Indonesia Tbk (ARTO), dan PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA) telah mengumumkan rencana aksi penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue.

Direktur Utama Bank Banten Fahmi Bagus Mahesa mengatakan, perseroan masih dalam proses registrasi aksi korporasi di OJK. Di tengah kondisi fluktuasi pasar saham saat ini, perseroan tetap berminat menggalang dana melalui rights issue. “Apapun hasilnya dari OJK akan menentukan jadwal rights issue perseroan,” kata dia kepada Investor Daily, Minggu (29/3).

Dalam prospektus Bank Banten disebutkan, perseroan berencana menerbitkan saham baru hingga 400 miliar. Dana hasil PUT VI dan VII ini akan digunakan Bank Banten untuk pengembangan bisnis, khusunya penyaluran kredit. Pemegang saham yang tidak melaksanakan haknya akan mengalami dilusi hingga 86,19%. Bank Banten sebelumnya telah meraih izin pemegang saham pada 26 Februari 2020.

Secara terpisah, Direktur Utama Adi Sarana Armada Prodjo Sunarjanto mengatakan, perseroan juga tetap berminat menggalang dana melalui rights issue tahun ini. Namun, perseroan diperkirakan akan menyusun ulang jadwal rights issue lantaran masih mencermati perkembangan pandemi Virus Korona (Covid-19). Semula, perseroan berencana meminta persetujuan pemegang saham pada 3 April 2020.

“Kami masih membahas dengan profesi penunjang seperti auditor dan notaris dan lainnya dalam menyusun jadwal RUPS. Karena mereka sudah banyak yang bekerja dari rumah,” jelas dia.

Adi Sarana akan melepas hingga 1,25 miliar saham baru. Dana hasil rights issue akan digunakan perseroan untuk pengembangan usaha serta pelunasan pinjaman bank. Pemegang saham yang tidak melaksanakan haknya berpotensi mengalami dilusi hingga 26,9%.

Di lain pihak, Bank Artos bersiap menawarkan 9,65 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp 139 per saham. Terkait aksi ini, Bank Artos telah menerima setoran modal awal dari dua pemegang saham perseroan pada Desember 2019.

PT Metamorfosis Ekosistem Indonesia (MEI) yang dikendalikan Jerry Ng menyetor Rp 504,10 miliar pada 27 Desember 2019. Lalu, perseroan kembali mengantongi setoran dari Wealth Track Technology Ltd (WTT) yang dikendalikan Patrick Walujo senilai Rp 178,74 miliar pada 30 Desember 2019. Setoran awal tersebut telah dicatat sebagai ekuitas di dalam pos dana setoran modal Bank Artos.

Perseroan sebelumnya tercatat mendapatkan persetujuan dari pemegang saham terkait rights issue pada 30 September 2019. Perseroan pun mengantongi efektif pernyataan dari OJK pada 18 Maret 2020. Selanjutnya, tanggal terakhir pencatatan (recording date) untuk memperoleh HMETD ditargetkan 31 Maret 2020, dan distribusi HMETD dilakukan pada 1 April 2020. Alhasil, pencatatan efek di Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan 2 April 2020.

Surat Utang

Sementara itu, data BEI menunjukkan, dalam pipeline per 17 Maret 2020, sebanyak 20 perusahaan berpeluang untuk menerbitkan obligasi dan sukuk dengan nilai Rp 23,38 triliun. Aksi emiten tersebut akan dieksekusi sebelum kuartal II-2020 berakhir.

Sedangkan data PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) per 29 Februari 2020 menunjukkan, Pefindo telah menerima mandat pemeringkatan surat utang senilai Rp 64,18 triliun dari 50 emiten. Rinciannya, Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) baru senilai Rp 24,95 triliun, sementara rencana realisasi PUB sekitar Rp 12,49 triliun.

Adapun mandat dari surat utang jangka menengah (medium term notes/MTN) sebanyak Rp 10,26 triliun, obligasi Rp 7,05 triliun, sukuk Rp 4,45 triliun, sekuritisasi Rp 3,97 triliun, dan surat berharga komersial Rp 1 triliun.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN