Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI)

Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI)

AAJI Harap OJK Tidak Batasi Penempatan 'Unit Link' Pada Reksa Dana

Selasa, 9 Maret 2021 | 16:40 WIB
Lona Olavia

JAKARTA, investor.id - Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) berharap, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tidak membatasi penempatan investasi pada Produk Asuransi Yang Disertai Investasi (PAYDI) atau unit link pada reksa dana. Adapun, produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi unit link terus meningkat, dan berkontribusi terhadap hampir 64% dari premi asuransi jiwa yang sebesar Rp 187,59 triliun.

“Kami berharap OJK bisa memperhatikan aturan penempatan PAYDI. Karena bagaimanapun, tentang reksa dana sudah ada aturan mainnya dan seluruh perusahaan asuransi sudah cukup berpegang pada prinsip kehati-hatian,” kata Ketua Bidang Aktuaria dan Manajemen Risiko AAJI Fauzi Arfan di Jakarta, Selasa (9/3).

Berdasarkan data AAJI, hasil investasi pada kuartal IV-2020 tercatat sebesar Rp 35,52 triliun, melonjak signifikan hingga 777,3% dibandingkan kuartal III-2020 senilai Rp 4,07 triliun. Industri asuransi mengambil langkah dengan melakukan pengalihan dana dan penempatan dana investasi secara strategis.

"Sehingga pada kuartal IV-2020 hasil investasi berada pada angka Rp 17,95 triliun," ungkap Fauzi. 

Meskipun demikian, hasil investasi secara keseluruhan sepanjang 2020 masih melambat sebesar 23,7% menjadi Rp 17,95 triliun, dibanding periode sama tahun sebelumnya Rp 23,53 triliun.

Perlambatan tersebut disebabkan oleh kondisi pasar modal di Indonesia yang kurang kondusif hingga kuartal IV-2020, ditandai dengan adanya koreksi yang cukup dalam dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yaitu sebesar 5,1% dibandingkan kuartal IV-2019.

“Sebagai industri yang sangat terpengaruh oleh situasi pasar modal, melambatnya ekonomi Indonesia akibat pandemi Covid-19 berdampak secara langsung terhadap kinerja investasi,” ujarnya.

Fauzi optimistis, tahun ini hasil investasi akan tumbuh double digit, seiring perbaikan ekonomi dan kesuksesan program vaksinasi Covid-19, yang menjadi salah satu indikator pengungkitnya. Proyeksi investasi pada 2021 akan lebih baik sebab, pada tahun sebelumnya mengalami negative growth.

"Pada 2021, pemerintah sudah mengestimasi adanya positive growth kita berharap akan ada hasil investasi yang naik double growth. Tahun 2021 akan memberikan hasil yang baik dari segi hasil investasi,” ujar Fauzi.

Masih Dikaji

Sebelumnya, Direktur Eksekutif AAJI Togar Pasaribu mengatakan, aturan unit link saat ini masih digodok. Dalam draf tertulis, bahwa semua jenis investasi hanya diperbolehkan paling banyak 10% dari aset masing-masing subdana, kecuali afiliasi yang terjadi karena penyertaan modal pemerintah.

Lalu, penempatan investasi pada satu pihak paling banyak sebesar 15% dari aset masing-masing subdana, kecuali deposito pada bank umum dan investasi pada surat berharga pemerintah.

“Kalau AAJI meminta pertimbangan OJK mengenai penempatan investasi pada satu pihak, paling banyak 15% terutama untuk penempatan pada reksa dana. Apalagi sudah ada pembatasan 10% per emiten pada level reksa dana,” katanya.

Dia pun memberikan sejumlah saran kepada OJK agar surat edaran (SE) tersebut dapat memitigasi penipuan berbalut investasi asuransi tanpa mengorbankan geliat industri. Pertama, perlu aturan terkait portofolio investasi untuk industri asuransi. 

Kedua, memberikan lebih banyak pilihan instrumen investasi yang baik. Ketiga, mendukung literasi maupun sosialisasi kepada masyarakat agar lebih memahami produk asuransi. 

 

Editor : Elly Rahmawati (ely_rahmawati@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN