Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Armada Garuda. Foto: dok. Investor Daily

Armada Garuda. Foto: dok. Investor Daily

Ada Dugaan Financial Engineering dalam Laporan Keuangan Garuda

Arnoldus Kristianus, Jumat, 21 Juni 2019 | 09:12 WIB

JAKARTA – Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menduga kuat adanya rekayasa keuangan (financial engineering) dalam laporan keuangan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) tahun 2018. Hal itu ditemukan setelah BPK melakukan sidang mengenai penyelesaian dan review terhadap kantor akuntan publik (KAP) yang mengaudit laporan keuangan Garuda.

“Sejumlah masalah yang sangat signifikan berhasil ditemukan. Secara umum, kami memang melihat ada dugaan kuat terjadi financial engineering,” kata Anggota 1 BPK Agung Firman Sampurna di Jakarta, Kamis (20/6).

Agung menegaskan, permasalahan yang terjadi dalam laporan keuangan adalah permasalahan piutang perusahaan. BPK akan berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menindaklanjuti hasil audit laporan keuangan Garuda Indonesia.

Kemenkeu dan OJK dapat memberikan sanksi terhadap auditor dan Garuda Indonesia sesuai ketentuan perundang-undangan. "Namun, saya bukan dalam posisi untuk menyampaikannya. Kalau konsekuensi sudah tentu," kata Agung.

Sementara itu, Sekjen Kemenkeu Hadiyanto mengatakan, pihaknya akan menghubungi OJK untuk menyikapi hasil pemeriksaan OJK dan Pusat Pembinaan Profesi Keuangan (P2PK). P2PK akan fokus kepada Kantor Akuntan Publik (KAP) yang mengaudit laporan keuangan Garuda, sedangkan OJK fokus pada Garuda sebagai perusahaan terbuka.

"Kami akan bertemu dengan OJK untuk menyikapi hasil pemeriksaan dari P2PK maupun OJK. P2PK melihat dari sisi akuntan yang mengaudit laporannya dan OJK fokus pada emiten Garuda," ucap Hadiyanto.

Ia mengatakan P2PK masih melakukan pemeriksaan terhadap Kantor Akuntan Publik (KAP) Tanubrata Sutanto Fahmi Bambang dan Rekan. Pemeriksaan mengenai dugaan pelanggaran terhadap standar akuntansi yang diterapkan dalam laporan keuangan Garuda Indonesia tahun 2018.

“Kami masih proses pemeriksaan finalisasi untuk memastikan apakah ada dugaan pelanggaran terhadap standar akuntansi dari penyajian laporan keuangan garuda,” kata Hadiyanto.

Perbedaan Ekspektasi

Ekonom Universitas Indonesia Ari Kuncoro mengemukakan, pemerintah harus berhati-hati dalam penyelesaian permasalahan laporan keuangan Garuda. Sebab, dalam penyusunan laporan keuangan, ada ekspektasi yang berbeda.

Ada beberapa jenis pelaporan keuangan yang berbasis kas seperti laporan keuangan pada umumnya. Namun, ada juga yang laporan keuangan akrual. Laporan keuangan akrual dimana penyandingan pendapatan dan biaya pada periode saat terjadinya pembayaran. “Karena ini zaman keterbukaan, maka perlu ada penjelasan lebih lanjut setelah laporan keuangan dipublikasikan,” kata Ari.

Dia menjelaskan, poin yang harus diperhatikan yaitu saat uang belum diterima. sementara ada kebutuhan tidak bisa ditunda pembayarannya. Maka, harus meminjam ke Bank. Pinjaman tersebut disebut sebagi jembatan. Bank akan melihat prospek dari perusahaan tersebut. Saat sudah ada kontrak pembayaran diyakini perusahaan tersebut dianggap bisa membayarkan pinjaman.

“Apakah ini tidak berisiko? Ya masih ada risiko, bisa saja perusahaan yang mmeberikan kontrak bangkrut. Maka, harus dilihat lagi prospek perusahaan yang memberikan kontrak. Kita gak bisa memvonis benar atau tidak ini harus dilihat lagi,” ujar Ari.

Mengenai kemungkinan terjadinya rekayasa laporan keuangan, ia mengatakan perlu dilihat dari sisi pengeluaran. Rekayasa bisa saja dilakukan, misalnya ada penyusutan untuk mengurangi keuntungan, sehingga ada pengurangan pembayaran pajak. Metode penyusutan bisa dilakukan untuk pencatatan keuangan pribadi, tetapi tidak bisa dilakukan untuk pencatatan laporan keuangan perusahaan.

“Maka ada metode penyusutan yang sebenarnya pengalokasikan sebagian besar uang yang mengurangi keuntungan. Jadi, duitnya masih ada tetapi pembayaran pajak berkurang. Ini bagus untuk iklim usaha,” ucap Ari.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN