Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Indeks harga saham gabungan di Bursa Efek Indonesia. Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROSA

Indeks harga saham gabungan di Bursa Efek Indonesia. Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROSA

Ada Window Dressing, Bahana TCW Prediksi IHSG Akan 'Hijau' di Akhir Tahun

Mashud Toarik, Selasa, 3 Desember 2019 | 10:34 WIB

Jakarta, Investor.id - Kepala Makro Ekonomi dan Direktur Strategi Investasi PT Bahana TCW Investment Management (BTIM), Budi Hikmat menuturkan, selama 12 tahun terakhir indeks harga saham gabungan (IHSG) tidak pernah minus di bulan Desember. Salah satu faktor pendorongnya adalah aksi window dressing yang sering dilakukan emiten dan institusi keuangan agar kinerja saham tercatat menawan pada akhir tahun.

“Berdasarkan historikal selama 12 tahun terakhir, IHSG rata-rata tumbuh sekitar 3,5% pada bulan Desember. Jika angka rata-rata ini dijadikan acuan untuk memproyeksikan kenaikan bulan Desember 2019, maka IHSG berpeluang ditutup pada posisi 6.222,” ungkap Budi Hikmat dalam siaran pers yang diterima Majalah Investor, Selasa (3/12/2019).

Kendati demikian Budi mengingatkan bahwa IHSG selengkapnya dipengaruhi lima faktor yang diringkas sebagai ELVIS (earning, liquidity, interest rate, valuation dan sentiment).

"Berdasarkan kajian urutan yang paling relevan saat ini adalah SILVE mengingat Indonesia belum memiliki mesin ekspor penopang daya beli pengganti komoditas primer yang harganya sedang turun," urainya.

Selain faktor internal, pelemahan IHSG pada bulan November dipicu faktor eksternal terutama memanasnya hubungan Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok seusai Presiden AS Donald Trump menandatangani Undang-undang (UU) penegakan demokrasi dan hak asasi manusia di Hong Kong.

Aksi negeri adidaya yang dianggap campur tangan urusan dalam negeri membuat pihak Tiongkok ‘meradang’ dan seperti dikutip Reuters, Kementerian Luar Negeri Tiongkok menegaskan Beijing akan melakukan ‘serangan balasan’.

Hal ini membuat khawatir para investor terhadap memburuknya prospek damai dagang oleh dua negara perekonomian terbesar dunia ini. Sehingga investor memilih tak berinvestasi di portofolio berisiko di negara berkembang. Satu pekan lalu, investor asing mencatat penjualan bersih Rp 2,68 triliun di Bursa Efek Indonesia.

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA