Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pengunjung berada di galeri BEI, Jakarta, kemarin.  Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Pengunjung berada di galeri BEI, Jakarta, kemarin. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Aksi Rush Serentak Bisa Timbulkan Permasalahan

Gita Rossiana, Senin, 17 Februari 2020 | 08:14 WIB

JAKARTA, investor.id -- Pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) pekan ini di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih akan dibayangi oleh perkembangan epidemi virus korona atau Covid-19. Namun demikian, IHSG yang sudah terkoreksi cukup dalam pekan lalu berpeluang rebound sepanjang pekan ini.

Berdasarkan data BEI, pada akhir pekan lalu IHSG ditutup melemah tipis 5,01 poin atau 0,09% ke posisi 5.866,95. Sedangkan kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 ditutup turun 0,25 poin atau 0,03% menjadi 953,95.

Secara year to date (ytd), IHSG telah melemah 6,87% dan investor asing mencatatkan beli bersih (net buy) sebesar Rp 900,65 miliar. 

Dari dalam negeri, Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee menyoroti mengenai pemberitaan terkait permintaan roll over oleh beberapa perusahaan asuransi.

Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee. Sumber: Beritasatu TV
Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee. Sumber: Beritasatu TV

Roll over yang dimaksud adalah pemegang polis asuransi selama enam bulan ke depan tidak bisa melakukan pencairan dana walaupun sudah jatuh tempo.

Pemberitaan ini yang walaupun sempat dibantah oleh perusahaan terkait bisa menimbulkan aksi redemption (pencairan dana) atau rush secara serentak.

Hans mengungkapkan, aksi rush secara serentak ini bisa menimbulkan permasalahan, meskipun perusahaan asuransi yang terkena dampak ini pada awalnya dalam keadaan sehat.

“Apabila terjadi rush, perusahan terpaksa menjual aset atau surat berharga dalam portofolio dengan cepat,” kata dia.

Penjualan aset atau surat berharga yang dilakukan dalam kondisi pasar yang tidak baik bisa menyebabkan penurunan harga aset atau surat berharga yang dijual. Hal ini tentunya akan menimbulkan kerugian bagi perusahaan, nasabah dan industry keuangan.

Kemungkinan adanya aksi rush secara serentak ini, menurut Hans lebih mempengaruhi IHSG daripada kasus PT Asuransi Jiwasraya (Persero). Pasar, menurut dia, sudah tidak terpengaruh banyak oleh kasus Asuransi Jiwasraya karena pengaruhnya sudah mencapai titik equilibrium.

Analis PT Philip Sekuritas Anugerah Zamzami  dan Head of Investment PT Avris Asset Management Farash Farich juga tidak melihat pengaruh laniutan yang signifikan dari kasus Asuransi Jiwasraya.

Farash mengungkapkan, kalaupun ada pengaruhnya lebih ke arah penurunan volume transaksi dibandingkan sebelumnya.

Hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI), menurut Zamzami, lebih banyak mempengaruhi IHSG dari sisi internal pada pekan ini. Pasalnya, pasar menanti apakah BI akan kembali melonggarkan kebijakan moneter atau memberikan stimulus terhadap perekonomian.

Bank Indonesia. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal
Bank Indonesia. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

Lebih lanjut, Analis PT MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengungkapkan, pada pekan ini, investor juga akan menunggu rilis data neraca perdagangan. Investor ingin melihat seberapa besar defisit perdagangan dan dampaknya terhadap perekonomian.

Sementara terkait fundamental emiten Indonesia, Hans mengungkapkan, emiten Indonesia secara umum masih memiliki fundamental yang bagus. Sejauh ini, belum ada isu yang secara signifikan mempengaruhi fundamental emiten sehingga berdampak pada IHSG.

“Kalaupun ada yang akan mengganggu fundamental emiten, pengaruh tersebut datang dari virus korona yang apabila berlangsung lama akan mempengaruhi kinerja emiten,” kata dia.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN