Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Alam Sutera. Foto: DEFRIZAL

Alam Sutera. Foto: DEFRIZAL

Alam Sutera Jajaki Penggalangan Dana Hingga US$ 185 Juta

Farid Firdaus, Sabtu, 18 Januari 2020 | 09:42 WIB

JAKARTA, investor.id  – PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) melalui anak usahanya, Alam Synergy Pte Lte, mengajukan permohonan persetujuan (consent solicitation) untuk mengamandemen syarat dan ketentuan dua surat utang (global bond) yang telah diterbitkan. Aksi ini bertujuan untuk memberikan fleksibilitas bagi perusahaan dalam menggalang dana jangka panjang hingga US$ 185 juta.

Dua global bond Alam Synergy yang akan diamandemen kontraknya adalah senior notes senilai US$ 175 juta dengan bunga 11,5% yang jatuh tempo 2021 dan senior notes senilai US$ 370 juta dengan bunga 6,625% yang jatuh tempo 2022.

Pemegang global bond Alam Synergy diberikan batas waktu untuk menyerahkan persetujuan mereka sebelum pukul 5:00 PM, waktu Eropa Tengah pada 24 Januari 2020. Agen yang menangani aksi ini adalah UBS AG cabang Singapura, yang dibantu oleh D.F. King.

“Pemegang obligasi yang memenuhi syarat akan menerima pembayaran tunai sebesar US$ 2,50 untuk setiap pokok utang senilai US$ 1.000. Fee tersebut akan dibayar pada 29 Januari 2020,” tulis manajemen dalam penjelasannya kepada Bursa Efek Singapua (SGX), Jumat (17/1).

Sesuai rencana, amandemen akan mengubah sejumlah kontrak tertentu pada global bond, yang memungkinkan Alam Sutera, sebagai induk penjamin memiliki fleksibilitas dalam meraih pembiayaan (long-term secured financing) hingga US$ 185 juta. Dana tersebut akan dimanfaatkan untuk kebutuhan pelunasan kembali hutang (refinancing).

Perseroan meminta persetujuan untuk menambahkan poin-poin tertentu pada skema refinancing notes 2021/2022 yang diperbolehkan, yakni dalam jumlah tidak melebihi US$ 185 juta dan memiliki periode jatuh tempo lebih dari 2022.

“Perusahaan saat ini sedang menjajaki opsi pendanaan untuk menebus (redeem) notes yang beredar. Alam Sutera sebagai induk bermaksud untuk mengamankan pembiayaan tersebut dengan aset-aset landbank tertentu,” tulis manajemen.

Menunggu Momentum

Sejak tahun lalu, manajemen Alam Sutera telah menyatakan rencana mempercepat pembayaran obligasi global senilai US$ 175 juta pada April 2020 dari jatuh tempo semula pada April 2021. Perseroan setidaknya berharap mampu menerbitkan global bond minimal dengan nilai yang sama dan bertenor minimal selama lima tahun.

Sebelumnya Direktur Utama Alam Sutera Realty Joseph Sanusi Tjong menyatakan, pihaknya menunggu waktu yang tepat untuk melakukan refinancing surat utang tersebut. “Jika melihat pengalaman yang lalu, kalau rate-nya lagi bagus kita akan terbitkan yang lima tahun, jatuh temponya pada 2024,” kata dia.

Sebagai informasi, Alam Synergy Pte Ltd menerbitkan obligasi global US$ 175 juta pada Januari 2019. Surat utang tersebut dipasarkan di luar pasar Amerika Serikat, seperti Asia dan Eropa. Surat utang tersebut juga dijamin dengan saham yang dimiliki perseroan pada penerbit atau gadai saham penerbit, yakni Carlisle Venture Pte Ltd.

Carlisle juga memberikan pinjaman antar perusahaan pada Alam Synergy senilai US$ 143,65 juta dan Delta Mega Persada senilai US$ 31,35 juta. Joseph menuturkan bahwa global bond yang jatuh tempo pada April 2021 itu diterbitkan pada waktu yang tidak ideal.

“Saat itu, refinancing sedang tidak ada di pasar, kita hanya mampu menerbitkan obligasi dengan durasi dua hingga tiga tahun, itu sangat tidak bagus. Umumnya, obligasi dolar jatuh temponya lima tahun,” jelas dia.

Hingga September 2019, Alam Sutera membukukan penjualan, pendapatan jasa dan usaha lainnya Rp 1,96 triliun, turun 38,75% dari periode yang sama tahun 2018 Rp 3,20 triliun.

Adapun pendapatan dari real estat Rp 1,58 triliun, kemudian pendapatan dari jasa hospitality dan prasarana Rp 256,70 miliar, selanjutnya dari pariwisata menyumbang Rp 117,64 miliar hingga kuartal III-2019.

Menurunnya pendapatan memicu penyusutan beban pokok penjualan, pendapatan jasa dan usaha lainnya menjadi Rp 847,72 miliar, padahal pada periode yang sama tahun 2018 beban perseroan mencapai Rp 1,17 triliun.

Alhasil, laba kotor Alam Sutera hingga kuartal III-2019 sebanyak Rp 1,11 triliun turun 45,04% ketimbang periode yang sama tahun 2018 Rp 2,02 triliun. Akhirnya, perseroan hanya mengantongi laba bersih sebesar Rp 199,88 miliar, anjlok 68,71% dari laba bersih kuartal III 2018 Rp 638,99 miliar.

Analis Samuel Sekuritas Indonesia Ilham Akbar Muhammad dalam r iset tahunannya menyebutkan, perseroan masih menghadapi sejumlah tantangan hingga tahun ini akibat terbatasnya peluncuran klaster baru residensial.

Sedangkan monetisasi area Alam Sutera baru terbatas pada high rise dan penjualan lahan komersial. Pihaknya juga memperkirakan transaksi dengan China Land Development tetap berlanjut untuk mengembangkan kota mandiri seluas 500 hektre hingga 2021.

Sedangkan renana penjualan secara blok The Tower diharapkan bisa berimbas positif bagi perseroan, meski rata-rata harga jualnya bakal lebih rendah.

Meski demikian Samuel Sekuritas masih mempertahankan rekomendasi beli saham ASRI dengan target harga Rp 360 per saham. Target tersebut merefleksikan diskon sekitar 79% terhadap perkiraan nilai aset bersinya.

Target tersebut juga mempertimbangkan ekspektasi penurunan laba bersih perseroan menjadi Rp 781 miliar tahun ini, dibandingkan perkiraan tahun 2019 sebesar Rp 865 miliar dan realisasi tahun 2018 sebesar Rp 970 miliar.

Sedangkan pendapatan diharapkan juga turun menjadi Rp 3,66 triliun tahun 2020, dibandingkan proyeksi 2019 sebesar Rp 3,73 triliun dan realisasi tahun 2018 mencapai Rp 3,97 triliun.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA