Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Tiongkok Xi Jinping (kanan) berjabat tangan dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sebelum pertemuan bilateral yang diadakan di sela-sela pertemuan puncak kelompok G-20 di Osaka, Jepang, pada 29 Juni 2019. AFP / Brendan Smialowski

Presiden Tiongkok Xi Jinping (kanan) berjabat tangan dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sebelum pertemuan bilateral yang diadakan di sela-sela pertemuan puncak kelompok G-20 di Osaka, Jepang, pada 29 Juni 2019. AFP / Brendan Smialowski

Analis: Perintah Trump Emosional dan Rugikan Perusahaan AS Bila Keluar Tiongkok

Mashud Toarik, Sabtu, 24 Agustus 2019 | 10:51 WIB

Jakarta, investor.id – Pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump yang memerintahkan perusahaan asal AS untuk segera hengkang dari Tiongkok merupakan tindakan emosional yang justru merugikan AS sendiri.

Kepala Riset PT Narada Kapital Indonesia, Kiswoyo Adi Joe mengatakan, Tiongkok memiliki kekuatan pasar besar karena jumlah penduduknya terbanyak di dunia.

Karena itu bila perusahaan khususnya yang berbasis manufaktur dan konsumer menjauh dari pasar Tiongkok justru merupakan tindakan yang merugikan.

“Kalau yang diminta hengkang dari Tiongkok merupakan perusahaan rintisan mungkin ada positifnya bagi AS, karena mereka diwajibkan transfer teknologi, tapi kalau perusahaan bidang manufaktur maupun konsumer justru sangat merugikan AS,” urai Kiswoyo kepada Majalah Investor, Sabtu (24/8/2019).

Adapun bagi pasar saham domestik, Kiswoyo menilai pernyataan Trump yang disampaikan melalui twitter tersebut berpotensi membawa dampak pelemahan terhadap perdagangan pasar saham di BEI pada pekan depan.

Hal ini menyusul penurunan dalam bursa saham Dow Jones pada penutupan perdagangan pada, Jumat (23/8/2019).

“Kendati begitu, saya prediksi respon (penurunan) pasar hanya sesaat pada perdagangan Sesi I perdagangan Senin, 26 Agustus 2019 lusa. Selanjutnya pasar akan kembali bergerak sesuai tren yang ada,” ujarnya.

Sebelumnya diberitakan bahwa, saham-saham di AS jatuh pada hari Jumat (23/8/2019), setelah Trump memerintahkan pabrikan AS unuk mencari alternatif operasional mereka di Tiongkok.

Dow Jones Industrial Average ditutup 623,34 poin lebih rendah, atau 2,4% pada 25.628,90. S&P 500 turun 2,6% menjadi ditutup pada 2.847,11. Nasdaq Composite turun 3% untuk mengakhiri perdagangan di 7.751,77. Kerugian membawa penurunan Dow untuk Agustus menjadi lebih dari 4%.

Indeks utama juga membukukan kerugian mingguan untuk keempat kalinya berturut-turut. Dow turun sekitar 1% minggu ini sementara S&P 500 menarik kembali 1,4%. Nasdaq kehilangan 1,8%.

"Perusahaan-perusahaan besar Amerika kami, dengan ini diperintahkan untuk segera mulai mencari alternatif untuk keluar dari Tiongkok, termasuk membawa perusahaan Anda kembali ke rumah dan membuat produk Anda di AS," ujar Trump dalam cuitannya.

Kicauan Trump datang setelah Tiongkok meluncurkan tarif baru untuk barang-barang Tiongkok. Tiongkok akan menerapkan tarif baru untuk barang-barang AS lainnya senilai US$ 75 miliar, termasuk mobil. Tarif akan berkisar antara 5% dan 10% dan akan diimplementasikan dalam dua batch pada 1 September dan 15 Desember.

Sebelumnya pada hari itu, saham bergerak di sekitar garis datar setelah Ketua Federal Reserve Jerome Powell menyampaikan pidato dari simposium bank sentral tahunan di Jackson Hole, Wyoming.

Di dalamnya, ia mengatakan The Fed akan melakukan apa yang bisa untuk mempertahankan ekspansi ekonomi saat ini. "Tantangan kami sekarang adalah melakukan apa yang dapat dilakukan kebijakan moneter untuk mempertahankan ekspansi sehingga manfaat dari pasar pekerjaan yang kuat meluas ke lebih banyak dari mereka yang masih tertinggal, dan agar inflasi terpusat dengan kuat sekitar 2%."

Dia juga mencatat tidak ada "buku peraturan" untuk perang perdagangan AS-Tiongkok saat ini, menambahkan bahwa "menyesuaikan ketidakpastian kebijakan perdagangan ke dalam kerangka kerja ini adalah tantangan baru."


 

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN