Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR). Foto: Perseroan.

PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR). Foto: Perseroan.

Anggarkan 'Capex' Rp 3,5 Triliun, Ini Rencana Sarana Menara

Farid Firdaus, Jumat, 7 Februari 2020 | 14:32 WIB

JAKARTA, investor.id – PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sekitar Rp 3-3,5 triliun tahun ini. Anggaran itu dialokasikan untuk penambahan 2.000-3.000 penyewa (tenant) baru dan pembangunan infrastruktur internet berkecepatan tinggi berupa kabel optik.

Wakil Direktur Utama Sarana Menara Nusantara Adam Ghifari mengatakan, pihaknya masih menghitung secara spesifik jumlah menara telekomunikasi baru yang akan dibangun, dan capex 2020 juga di luar biaya akuisisi menara. “Sementara ini kami hanya pasang target tenant baru 2.000-3000, belum detail berapa yang kolokasi dan berapa bagian menara baru. Dengan penambahan tersebut, kami berharap pendapatan bisa tumbuh 9%-10% tahun ini,” jelas dia di Jakarta, Kamis (6/2).

Menurut Adam, capex juga akan diserap untuk membangun kabel optik menjadi 36 ribu kilometer (km) tahun ini, dari posisi akhir tahun lalu 17.500 km. Pihaknya mengaku sudah mendapatkan banyak pesanan pembangunan kabel optik, yang tak hanya fokus di pulau Jawa saja tapi juga Sumatera.

Banyaknya pesanan ini mencerminkan tingginya penggunaan layanan data operator telekomunikasi. Adam mencermati, tahun ini tren ekspansi layanan 4G operator telekomunikasi maish berlanjut yang turut mendongkrak penyewaan menara.

Sementara itu, manajemen menilai kas internal masih memadai untuk membiayai ekspansi tahun ini. Perseroan pun memilih untuk mengandalkan pinjaman bank jika diperlukan, dibanding mencari sumber pendanaan eksternal dari pasar modal.

Pada Januari lalu, perseroan melalui PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo) menandatangani perubahan atas fasilitas pinjaman dari JP Morgan Chase Bank cabang Jakarta. Perubahan ini terkait penambahan pinjaman menjadi Rp 700 miliar, dari semula Rp 500 miliar. Pinjaman tersebut akan berakhir pada 23 April 2020. Tak hanya itu, Protelindo juga mendapatkan fasilitas bank garansi dari JP Morgan senilai Rp 500 miliar.

Adam menambahkan, aksi akuisisi menara juga tetap menjadi strategi perseroan tahun ini. Namun, pihaknya belum mengungkap detail sejauh mana proses lelang menara telekomunikasi milik PT XL Axiata Tbk (EXCL) yang saat ini tengah berlangsung. Seperti diketahui, XL menargetkan proses lelang 3.200-3.300 menara bisa selesai di kuartal I-2020.

Adapun pembelian 1.000 menara milik PT Indosat Tbk (ISAT) yang dilakukan Protelindo senilai Rp 1,95 triliun pada Desember 2019 diperkirakan semakin menguntungkan perusahaan. Saat ini, tercatat Protelindo mengoperasikan lebih dari 18.100 menara di seluruh Indonesia. “Memang itu lumayan bisa berpengaruh ke top line dan bottom line tahun ini,” jelas Adam.

Bersaing

Hingga saat ini, Sarana Menara menjadi pesaing perusahaan sejenis seperti PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TOWR) dan PT Centratama Telekomunikasi Indonesia (CENT) dalam proses lelang menara XL.

Menurut Sekretaris Perusahaan Centratama Telekomunikasi Indonesia Wiwik Septriandewi menegaskan, pihaknya belum bisa secara rinci mengungkapkan strategi dalam tender menara XL lantaran terikat non-disclosure agreement. Perseroan selalu mempertimbangkan ekspansi, baik secara organik maupun anorganik.

Sebelumnya, Direktur Keuangan Tower Bersama Infrastructure Helmy Yusman Santo mengatakan, perseroan tidak hanya berminat mengakuisisi sebagian menara, melainkan seluruh menara yang dilelang oleh XL. Terkait pendanaan akuisisi, perseroan memiliki rekam jejak yang terbukti berhasil dalam mengakses berbagai sumber pendanaan.

Seperti diketahui, XL resmi membuka proses lelang menara telekomunikasinya sejak 5 November 2019.  Rencana transaksi ini diperkirakan berpotensi sebagai transaksi material. Hal ini berarti nilai transaksinya lebih dari 20% ekuitas perseroan. Tercatat, total ekuitas perseroan mencapai Rp 18,89 triliun per 30 September 2019. Dengan demikian, nilai penjualan menara ini berpotensi mencapai lebih dari Rp 3,8 triliun.

Semula XL memiliki aset 4.500 menara yang masuk dalam kelompok aset strategis. Disebut strategis lantaran perseroan cukup bergantung pada menara dalam rancangan jaringan telekomunikasinya. Namun, seiring berjalan waktu, kini ketergantungan tersebut telah berkurang karena arsitektur jaringan XL lebih terdistribusi.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN