Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu tambang PT Aneka Tambang Tbk (Antam). Foto: Perseroan

Salah satu tambang PT Aneka Tambang Tbk (Antam). Foto: Perseroan

Antam Finalisasi Suntikan Modal untuk Proyek Smelter

Jumat, 28 Agustus 2020 | 11:34 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam tengah memfinalisasi suntikan modal kepada perusahaan patungan (joint venture/JV) dengan induk usahanya, PT Indonesia Asahan Aluminium atau Inalum. Aksi ini bagian dari ekspansi JV pada proyek smelter grade alumina refinery (SGAR) senilai US$ 841 juta di Mempawah, Kalimantan Barat.

Direktur Niaga Antam Aprilandi Hidayat Setia mengatakan, dalam perjanjian JV dengan Inalum, perseroan berkomitmen untuk menyuntik modal sesuai porsi kepemilikan saham perseroan pada JV sebesar 40%. Namun, pihaknya belum dapat menyebut besaran nilai injeksi modal lantaran masih dimatangkan.

“SGAR adalah proyek strategis yang sudah kita komitmen, prosesnya perhitungan modal masih berjalan, dan target selesai pembangun pabrik pada kuartal IV-2022, kemudian commercial operational date (COD) pada 2023,” jelas dia saat pemaparan publik live, Kamis (27/8).

Berdasarkan catatan Investor Daily, proses pembangunan proyek SGAR Inalum-Antam sudah pada tahap pematangan lahan serta penyelesaian engineering design. Namun, manajemen Inalum menyatakan proses pembangunan pabrik ditunda sementara karena pandemi Covid-19. Smelter berkapasitas 1.000 ktpa alumina tersebut diperkirakan menelan investasi sekitar US$ 841 juta.

Tahun ini, kata Aprilandi, Antam mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sekitar Rp 1,5 triliun. Sebagian capex digunakan untuk investasi rutin termasuk pemeliharaan pabrik, dan sebagian lagi untuk suntikan modal ke anak-anak usaha.

Dia menambahkan, perseroan optimistis mampu memproduksi emas sebanyak 2 juta ton, dan penjualan mencapai 18 juta ton pada 2020. Pihaknya meyakini harga emas masih memiliki potensi kenaikan hingga menembus level US$ 2.000 per troy ounce. Hal ini akan didorong oleh sejumlah faktor.

Menurut Aprilandi, terdapat faktor hubungan geopolitik Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok yang mengalami ketegangan. Selain itu, laju nilai tukar dolar AS yang melemah turut membuat investor global berburu safe have seperti emas. Tak ketinggalan, kenaikan harga emas turut dipengaruhi oleh siklus 10 tahunan.

Untuk feronikel, Antam menargetkan produksi sebanyak 27 ribu ton nikel dalam feronikel pada 2020. Sedangkan penjualan nikel ditargetkan bisa mencapai sekitar 1 juta ton dengan target pasar dalam negeri setelah pemerintah mengeluarkan Harga Patokan Mineral (HPM). Untuk baukesit, perseroan memiliki target ekspor sesuai kuota yakni 1,2 juta wet metric ton (wmt.)

Aprilandi mengatakan, penjualan setiap komoditas memang memiliki strategi yang berbeda-beda. Namun, ketika pandemi Covid-19, pasar perseroan di Tiongkok dan India terganggu lantaran kedua negara tersebut menerapkan lockdown. Namun, saat ini penjualan perseroan berangsur-angsur mengalami pemulihan. “Bauksit akan terus kita ekspor. Sementara penjualan emas lebih ke pasar domestik. Saat ini, kita lihat pelanggan sudah banyak yang paham investasi safe haven,” pungkas dia.

Sepanjang semester I-2020, realisasi penjualan emas Antam mencapai 7.915 kg. Realisasi tersebut mengalami penurunan 49,7%, jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 15.741 kg. Secara nilai, penjualan emas Antam hingga Juni 2020 mencapai Rp 6,41 triliun atau turun 33,2% dibandingkan periode yang sama 2019 yang mencapai Rp 9,61 triliun. Emas berkontribusi 69% terhadap total penjualan Antam.

Selanjutnya, penjualan feronikel merupakan kontributor terbesar kedua penjualan Antam dengan menyumbang Rp 2,02 triliun atau 22% dari total penjualan. Volume penjualan feronikel Antam hingga Juni 2020 mencapai 13.045 ton nikel dalam feronikel (TNi), relatif stabil jika dibandingkan penjualan feronikel pada periode yang sama tahun lalu sebasar 13.157 Tni.

Pada komoditas bijih nikel, perseroan mencatat produksi bijih nikel yang digunakan sebagai bahan baku pabrik feronikel Antam dan penjualan kepada pelanggan domestik mencapai 1,37 juta wmt hingga semester I-2020. Dari situ, penjualan bijih nikel ke pasar domestik sebesar 168 ribu wmt.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN