Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bijih Nikel. Foto: Antam.

Bijih Nikel. Foto: Antam.

Antam Jajaki Tambah Saham di Proyek Weda Bay

Jumat, 23 Oktober 2020 | 22:15 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam dikabarkan tengah mempertimbangkan untuk menambah kepemilikan saham pada PT Weda Bay Nickel dari saat ini 10% hingga menjadi 40%. Nilai akuisisi saham tersebut diperkirakan sekitar US$ 300 juta.

Weda Bay Nickel merupakan pemilik proyek pemurnian bijih nikel dengan teknologi pirometalurgi berkapasitas 30 ribu ton Ni per tahun. Pabrik ini berkolasi di kawasan industri Weda Bay, Halmahera Tengah, Maluku Utara. Saat ini, perusahaan tambang asal Perancis, Eramet Group bersama perusahaan baja asal Tiongkok, Tsingshan menguasai 90% saham Weda Bay, dan sisa 10% dimiliki Antam.

“Antam telah menghubungi investment banks untuk membahas potensi pembelian saham dari Tsingshan Holding Group. Akuisisi saham bisa mencapai US$ 300 juta,” kata sumber yang dikutip Bloomberg, Jumat (23/10).

Dia mengungkapkan, diskusi pembelian saham oleh Antam masih dalam tahap awal, sehingga belum ada keputusan final berapa besar saham Weda Bay yang akan dilepas Tsingshan.

Berdasarkan website Eramet, Weda Bay telah memulai operasi penambangannya pada Oktober 2019.  Pada tambang tersebut diperkirakan terdapat kandungan nikel hingga 9,3 juta ton. Kandungan tersebut dinilai menjadi yang terbesar di dunia. Kontrak tambang memberikan masa produksi selama 30 tahun, dan dapat diperpanjang dua kali untuk jangka waktu 10 tahun.

Eramet terekam masuk ke Weda Bay pada 2006 dengan membeli saham milik perusahan asal Kanada, Weda Bay Capitals Inc. Adapun industri nikel sempat terpukul akibat krisis ekonomi 2008 yang berdampak terhadap turunnya harga nikel.

Pada 2013, mitra Eramet kala itu, yakni Mitsubishi memutuskan hengkang dari proyek Weda Bay. Eramet akhirnya mencari mitra baru. Kemudian, Tsingshan masuk dengan menandatangani kesepakatan pada 2017.

Secara terpisah, SVP Corporate Secretary Antam Kunto Hendrapawoko mengatakan, pada prinsipnya, Antam terus berfokus pada ekspansi pengolahan mineral ke hilir yang memberikan nilai tambah positif serta perluasan basis cadangan dan sumber daya. Hingga tahun 2019 tercatat posisi cadangan bijih nikel Antam sebesar 353,74 juta wet metric ton (wmt) dengan sumber daya bijih nikel mencapai sebesar 1,36 miliar wmt.

“Potensi cadangan dan sumberdaya mineral nikel tersebut menjadi salah satu kekuatan dalam pengembangkan skala bisnis perusahaan. Ini dilakukan melalui hilirisasi mineral nikel guna menciptakan nilai tambah produk nikel Antam serta meningkatkan kontribusi positif bagi negara dan masyarakat,” jelas dia kepada Investor Daily.

Antam, lanjut Kunto, terbuka menjalin kemitraan dengan mitra strategis berdasarkan profitabilitas menguntungkan dalam mengembangankan proyek-proyek hilirisasi, baik nasional maupun internasional. Perseroan terbuka terhadap mitra kerja yang memiliki akses terhadap teknologi dan pendanaan untuk mengembangkan produksi mineral olahan baru dari cadangan yang dimiliki perseroan.

Dia menambahkan, perseroan fokus pada pengembangan bisnis untuk meningkatkan laba dan EBITDA, serta tetap berupaya menurunkan lebih lanjut cash cost, meningkatkan daya saing biaya, dan peningkatan kinerja bisnis inti untuk meningkatkan revenue

Kinerja

Selama kuartal III-2020 Antam mencatatkan produksi feronikel unaudited sebesar 6.371 ton nikel dalam feronikel (TNi), tumbuh 6% dibandingkan capaian produksi pada periode kuartal III-2019 sebesar 6.035 TNi. Sementara itu, penjualan unaudited feronikel pada kuartal III-2020 tercatat mencapai 6.462 TNi. Akumulasi capaian kinerja produksi dan penjualan unaudited feronikel Antam sepanjang Januari-September 2020 masing-masing sebesar 19.133 TNi dan 19.507 TNi. 

Untuk komoditas bijih nikel, tercatat produksi bijih nikel unaudited yang digunakan sebagai bahan baku pabrik feronikel Antam dan penjualan kepada pelanggan domestik selama kuartal III-2020 mencapai 1,49 juta wmt, tumbuh 100% dibandingkan produksi bijih nikel pada kuartal II-2020 sebesar 745 ribu wmt.

Sepanjang Januari-September 2020, produksi unaudited bijih nikel Antam mencapai 2,86 juta wmt dengan tingkat penjualan unaudited mencapai 1,21 juta wmt. Menurut manajemen, dalam menghadapi tantangan volatilitas harga komoditas global, Antam fokus pada upaya penurunan biaya tunai produksi serta implementasi kebijakan strategis terkait inisiatif efisiensi biaya yang tepat dan optimal.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN