Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu proyek PT Bumi Resources Minerals Tbk. Foto: IST.

Salah satu proyek PT Bumi Resources Minerals Tbk. Foto: IST.

April, Bumi Minerals 'Rights Issue' Rp 1,6 Triliun

Kamis, 18 Maret 2021 | 22:35 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) meraih pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) atas rencana penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue senilai Rp 1,6 triliun. Emiten milik Grup Bakrie ini menjadwalkan periode pelaksanaan pada 1-9 April 2021.

Sesuai rencana, perseroan siap menerbitkan hingga 22,9 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp 70 per saham. Setiap pemilik 400 saham Bumi Minerals saat ini memiliki hak untuk membeli 129 saham baru yang diterbitkan. Kemudian, setiap 250 saham baru yang diterbitkan dalam rights issue tersebut melekat 267 waran. Periode pelaksanaan waran dijadwalkan 6-29 Oktober 2021.

Direktur Utama & CEO Bumi Resources Minerals Suseno Kramadibrata mengatakan, dua pembeli siaga telah bersedia untuk membeli saham-saham baru yang diterbitkan dalam transaksi ini, apabila para pemegang saham terkait tidak menggunakan haknya.

“Pembeli siaga pertama bersedia membeli sebanyak-banyaknya 6,22 miliar saham baru yang diterbitkan (27%) dan pembeli siaga kedua bersedia membeli maksimal 16,68 miliar saham baru (73%),” kata dia dalam keterangan resmi, Kamis (18/3).

Sebelumnya, Bumi Minerals telah mengumumkan Hartman International Pte Ltd sebagai pembeli siaga pertama. Namun, perseroan belum mengumumkan pihak yang menjadi pembeli siaga kedua.

Bumi Minerals akan menyerap dana rights issue untuk pembangunan pabrik pengolahan bijih emas dengan kapasitas 4.000 ton per hari senilai US$ 48 juta di Palu. Selanjutnya, sebanyak US$ 23 juta untuk pekerjaan pengeboran di 4 prospek emas untuk menambah jumlah cadangan dan sumber daya bijih di Palu.

Perseroan juga berencana mengerjakan pengeboran di 2 prospek emas untuk menambah jumlah cadangan dan sumber daya bijih di Gorontalo dengan kubutuhan dana US$ 5,25 juta. Terakhir, perseroan membutuhkan US$ 29 juta untuk pelunasan tagihan perusahaan dan unit usahanya, termasuk persiapan pelaksanaan konstruksi dan pengoperasian pabrik pertama dengan kapasitas 500 ton per hari di Palu yang telah beroperasi sejak Februari 2020.

Jika masih ada dana rights issue yang tersisa, perseroan akan memanfaatkannya untuk pembiayaan modal kerja. Adapun rights issue merupakan satu dari tiga sumber pendanaan perseroan untuk ekspansi.

Sebagai informasi, perseroan sempat meraih kredit investasi berupa standby letter of credit (SBLC) dari PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) untuk ekspansi pabrik emas kedua senilai US$ 65-70 juta. Selain itu, Bumi Minerals dan China Nonferrous Metal Industry’s Foreign Engineering and Construction (NFC) melalui perusahaan patungan, PT Dairi Prima Mineral, berencana membangun fasilitas pengolahan seng dan timah hitam senilai US$ 350-400 juta.

Kerja Sama NFC

Sebelumnya, Direktur dan Investor Relations Bumi Resources Minerals Herwin W. Hidayat mengatakan, NFC sebagai pengendali 51% saham Dairi Prima memimpin pencarian pinjaman dana ekspansi parik seng dan timah hitam. Dengan demikian, bank-bank asal Tiongkok adalah pihak kreditur yang akan didekati supaya meraih biaya lebih murah. Pinjaman ditargetkan bisa diraih pada semester I-2021.

“Sebanyak US$ 280 juta dana ekspansi adalah bagian kreditur, sementara sisanya bagian NFC dan perseroan. Karena perseroan mengendalikan 49% saham Dairi Prima, maka dana yang akan kami keluarkan sekitar US$ 32 juta,” jelas dia, baru-baru ini.

Menurut Herwin, dana proyek Dairi Prima tersebut sudah dialokasikan pada restricted deposit perseroan. Pabrik Dairi Prima akan dibangun di dekat lokasi tambang Anjing Hitam, Sumatera Utara. Kapasitas pengolahan pabrik diperkirakan mencapai 1 juta ton bijih seng dan timah hitam.

Sebagai catatan, Dairi Prima memiliki tambang seng yang dikembangkan dengan operasi penambangan bawah tanah dengan konsesi seluas 24.636 ha. Selain Anjing Hitam, area tambang seng lain yang saling berdekatan adalah Lae Jahe dan Base Camp.

Izin produksi Dairi Prima telah disetujui oleh pemerintah pada Desember 2017 dengan masa produksi 30 tahun. Usia tambang Anjing Hitam dan Lae Jahe adalah 15 tahun dengan total cadangan 11,05 juta ton bijih. Deposit seng pada tambang ini diklaim sebagai salah satu deposit dengan kualitas tertinggi di dunia.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN