Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
IST

IST

Aset Kripto Jadi Primadona dalam Agenda Pertemuan World Economic Forum

Rabu, 25 Mei 2022 | 10:11 WIB
Lona Olavia (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id - Aset kripto kini telah mengambil peran penting pada pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) 2022 di Davos, Swiss, meskipun dunia keuangan arus utama menghina sektor ini. Dalam pertemuan yang digelar 22-26 Mei 2022 itu juga mengadakan diskusi serius tentang aset kripto, dengan peserta industri sebagai pemain kunci.

Dikutip Be(in)crypto Rabu (25/5/2022), beberapa tokoh penting di dunia kripto seperti perwakilan dari Ripple, Circle Internet Financial FTX, hingga walikota Miami turut meramaikan gelaran WEF tahun ini. Selain itu, WEF 2022 juga mengadakan panel diskusi guna membahas mata uang digital bank sentral (CBDC).

Blockchain dan digitalisasi serta dampak selanjutnya pada berbagai sektor global juga akan menjadi topik utama selama pertemuan tahunan WEF. Hal itu meliputi diskusi mengenai peran yang muncul dari market keuangan terdesentralisasi (DeFi) hingga bagaimana blockchain dapat diterapkan untuk memberantas kemiskinan dunia.

Baca juga: ECB: Satu dari 10 Rumah Tangga di Zona Euro Punya Aset Kripto

Adapun, berbagai eksekutif dari sektor industri kripto telah menghadiri pertemuan tahunan para pemimpin bisnis dan politisi di resor Alpen Swiss saat WEF 2022 berlangsung. Mereka berusaha untuk mendorong adopsi aset kripto lebih cepat dari teknologi mereka.

Para eksekutif itu telah berbondong-bondong masuk ke industri kripto dengan harapan pengembalian cepat, meskipun ada peringatan dari regulator bahwa aset yang muncul bisa berisiko tinggi. Contohnya terjadi pada kasus LUNA, hingga saat ini koin digital terbesar kedelapan dan didukung oleh investor kripto institusional, telah kehilangan hampir semua nilainya.

“Yang mengejutkan saya adalah seberapa cepat itu benar-benar meledak menjadi tidak ada apa-apa,” kata Jeremy Allaire, CEO dan salah satu pendiri Circle Internet Financial, yang stablecoin USDC-nya dipatok ke Dolar AS, mengatakan tentang keruntuhan LUNA.

Beberapa perusahaan blockchain mendorong agenda aset kripto di pertemuan tahunan WEF 2022. Sesi tahun ini, menurut CEO Securrency, Dan Doney, bertujuan untuk membangun hubungan dan jaringan, serta menyoroti bagaimana menjembatani kesenjangan antara teknologi baru dan keuangan tradisional.

Baca juga: Republik Afrika Tengah akan Luncurkan Platform Investasi Kripto Legal

Menurut Stan Stalnacker, Chief Strategy Officer (CSO) Hub Culture, yang juga mengoperasikan mata uang digital, 50% toko di Davos, Swiss telah melirik teknologi berbasis kripto dan blockchain. WEF percaya bahwa dalam hal efek sosial, kripto memiliki argumen yang lebih kuat.

“Aset kripto dapat mempromosikan inklusi keuangan dengan mendorong inovasi dalam layanan keuangan, seperti pembayaran mikro peer to peer, yang berpotensi memberikan aksesibilitas kepada siapa saja yang memiliki koneksi internet dan mengurangi biaya dengan mengotomatisasi layanan keuangan dalam skala besar,” kata WEF.

Tetapi kripto dapat membahayakan sistem keuangan karena berbagai alasan, termasuk mendorong aktivitas kriminal dan kurangnya pengetahuan, transparansi, dan regulasi. Ada sentimen risiko terbesar kripto adalah pencucian uang dan penggunaannya untuk mendanai terorisme. Sementara, argumen itu dapat ditambah karena kripto memiliki reputasi untuk menyediakan perlindungan dari kegiatan kriminal, karena menampilkan aktivitas yang transparan dan jejak transaksi yang jelas.

Editor : Lona Olavia (olavia.lona@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN