Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pengunjung memperhatikan layar pergerakan saham di Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Pengunjung memperhatikan layar pergerakan saham di Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Asing Berburu Saham Hingga Akhir Tahun

Senin, 23 November 2020 | 23:35 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com) ,Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Pemodal asing diyakini bakal berburu saham-saham unggulan hingga akhir tahun ini, sehingga aktivitas transaksi beli bersih (net buy) terus berlanjut. Nilai net buy selama November-Desember bisa mencapai Rp 8-10 triliun.

Kepala Riset Praus Capital Alfred Nainggolan mengatakan, pihaknya menghitung sejak 1 hingga 23 November, nilai net buy asing di pasar saham mencapai Rp 6,7 triliun. Pada perdagangan Senin (23/11), net buy sebesar Rp 325,2 miliar. Sedangkan indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup melonjak 81,1 poin (1,46%) ke level 5.652,7 atau tertinggi dalam delapan bulan terakhir.

“Pada Desember, kami memprediksi terjadi window dressing. Namun, potensi kenaikannya hanya di bawah 4%. Sebab, selama Oktober-November ini, IHSG sudah naik cukup banyak atau sekitar 15%,” kata Alfred kepada Investor Daily, Senin (23/11). 

Dia memprediksi, IHSG akan berakhir di level Rp 5.700 pada akhir tahun ini. Sentimen yang paling berpengaruh mendorong IHSG adalah kehadiran vaksin Covid-19. Apabila realisasi pengadaan vaksin berjalan lancar, penguatan bisa berlanjut hingga 2021. Dengan begitu, pemodal asing bakal kian percaya diri untuk belanja saham-saham big caps.

Tahun depan, lanjut Alfred, pihaknya optimistis skenario IHSG berakhir di level 6.600. Hal ini dengan catatan target pertumbuhan ekonomi domestik sesuai rencana pemerintah, yakni 4-5%. Selain itu, dari faktor global, Pemerintah AS di bawah kepemimpinan Joe Biden berpotensi mengakhir perang dagang antara AS dan Tiongkok.

“Berakhir perang dagang akan berdampak positif terhadap negara-negara berkembang penghasil komoditas. Hal inilah yang dilirik investor asing,” jelas dia.

Kepercayaan investor asing untuk berburu saham-saham big caps juga dipengaruhi stabilnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Alfred menjagokan saham TLKM dengan target harga Rp 3.900 pada tahun depan. Sementara itu, di sektor barang konsumsi, saham yang direkomendasikan adalah INDF dengan target harga Rp 9.075 dan MYOR ditargetkan Rp 2.860.

Alfred menambahkan, saham bank BUMN seperti BBNI juga punya peluang penguatan yang terbuka lebar. Target saham BBNI tahun depan adalah Rp 9.300. “BBNI bisa naik signikan karena peers bank yang punya price to book value (PBV) hampir sama, yakni Bank BTN saat ini sudah naik kencang,” jelas dia.

Secara terpisah, Kepala Riset Samuel Sekuritas Suria Dharma mengatakan, ketika terjadi kondisi bullish pada pasar sahjam, maka saham bank dan telekomunikasi merupakan yang pertama di borong pemodal asing. Pada tahun depan, pihaknya menargetkan saham TLKM pada level Rp 4.300. Sementara saham BMRI dan BBRI ditargetkan masing-masing pada level Rp 7.700 dan Rp 4.800.

Suria menambahkan, khusus saham BBNI dan BBCA, pihaknya menaikkan target harga 2021. Sebelumnya saham BBNI ditargetkan pada posisi Rp 6.000, kini akan dinaikkan menjadi Rp 8.000, sedangkan target saham BBCA yang semula Rp 32.000 akan upgrade menjadi Rp 35.000.

Untuk IHSG, lanjut Suria, dengan melihat laju IHSG yang saat ini sudah menyentuh 5.600-an, pihaknya menargetkan IHSG berakhir pada posisi 5.700 pada penutupan 2020. Prediksi tersebut lebih tinggi dari semula yang ditargetkan 5.500. Kemudian, pihaknya mematok target IHSG 2021 sebesar 6.200.

Sentimen Vaksin

Ketua Umum Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Edwin Sebayang mengatakan, arus modal asing secara perlahan mulai masuk ke pasar saham Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan terjadinya net buy investor asing sebesar Rp 7,01 triliun dalam satu bulan terakhir. "Namun, sejak awal 2020 sampai 20 November 2020 masih net sell sebesar Rp 46,04 triliun," kata dia.

Arus modal asing ini, menurut Edwin, akan semakin deras ketika vaksin Covid-19 tersedia dan mulai didistribusikan ke penduduk Indonesia. Dengan dukungan sentimen vaksin ini, IHSG tahun depan diperkirakan mencapai 6.300-6.500. Sedangkan tahun ini, IHSG diperkirakan mencapai level 5.650-5.750.

Dengan masifnya arus modal asing yang masuk, saham-saham blue chip dan index movers akan mulai diburu. Menurut Edwin, saham ini banyak diburu investor asing karena kapitalisasi pasarnya yang besar, likuiditas yang tinggi, fundamental yang bagus dan kinerja saham yang prospektif. "Saham yang akan diburu investor asing berasal dari sektor perbankan, telekomunikasi, energi, barang konsumsi, konstruksi, dan properti," terang dia.

Adapun saham-saham tersebut, yakni PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan target harga tahun ini Rp 34.000, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp 4.350, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp 7.300, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) Rp 6.000.

Di sektor otomotif, ada saham PT Astra International Tbk (ASII) dengan target harga tahun ini Rp 6.875. Di sektor telekomunikasi, saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) dengan target harga Rp 3.860, di sektor batu bara terdapat saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dengan target harga Rp 2.750, PT Adaro Energy Tbk (ADRO) Rp 1.640, dan PT Indo Tambang Raya Megah Tbk (ITMG) Rp 11.200.

Sedangkan di sektor barang konsumsi, terdapat saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dengan target harga tahun ini Rp 8.400 dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) Rp 12.300. Di sektor konstruksi, ada saham PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) dengan target harga Rp 1.510, PT Adhi Karya Tbk (ADHI) Rp 1.560, PT Waskita Karya Tbk (WSKT) Rp 1.100, dan PT PP Tbk (PTPP) Rp 1.760.

Selanjutnya di sektor properti, antara lain saham PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) dengan target harga tahun ini Rp 960, PT Ciputra Development Tbk (CTRA) Rp 1.050, PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) Rp 1.240, dan PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) Rp 630.

Di lain pihak, analis PT MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengungkapkan, investor asing akan cenderung memburu saham berkapitalisasi besar. Saham tersebut berasal dati sektor perbankan dan pertambangan.

Adapun saham yang dimaksud Herditya adalah saham BBNI dengan target harga Rp 6.100-6.300, saham BBRI dengan target harga Rp 4.300 dan saham BBCA dengan target harga Rp 34.000-35.000. Sementara dari sektor energi, saham yang akan dibidik adalah PTBA dengan target harga Rp 2.400-2.500, saham ADRO dengan target harga Rp 1.450-1.500, dan saham UNTR dengan target harga Rp 23.000-24.500.

Menurut Herditya, saat ini, investor asing masih dalam posisi net sell sebesar Rp 45 triliun. Meski demikian, arus modal asing akan terus masuk dan mendorong pergerakan IHSG ke level 5.400-5.500 tahun ini.

Window Dressing

Sementara itu, mantan Dirut PT Bursa Efek Jakarta, Hasan Zein Mahmud mengatakan bahwa ada beberapa rule of thumb yang mungkin bisa digunakan dalam memilih saham saham yang berpeluang 'dikerek' harganya pada akhir tahun.

Pertama, berfundamental dan berprospek bagus. Kedua, harganya laggard terhadap indeks baik IHSG maupun sektor. Ketiga, berkapitalisasi besar sehingga bobotnya dalam perhitungan indeks besar, baik BUMN maupun swasta. Keempat, porsi free float cukup besar minimal 25%. Kelima, cukup dominan dalam portofolio institusi, reksa dana, asuransi, dana pensiun, emiten sendiri, dan manajer dana asing.

“Saham BUMN perlu mendapat perhatian khusus, bukan saja banyak keputusan strategis terjadi di akhir tahun, juga jalinan kepentingan yang lebih luas, termasuk politik,” ujar Hasan.

Dia menegaskan, emiten juga berkepentingan langsung terhadap naiknya harga sahamnya sendiri dan saham-saham perusahaan terasosiasi, karena beberapa hal. Pertama, salah satu indikator reputasi. Harga saham merupakan indikator kinerja yang paling ditunggu oleh para pemegang saham dan eksekutif pemegang opsi.

Kedua, terkait nilai pada pos marketable securities. Ketiga, menyangkut potensi laba non-operasi dari penjualan kembali saham saham treasuri hasil buyback. “Keempat, menentukan timing right issue dan private placement. Kelima, menentukan timing pelaksanaan waran dan efek konversi,” ujarnya.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN