Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pialang memantau jalannya pergerakan saham di sekuritas, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Pialang memantau jalannya pergerakan saham di sekuritas, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

EKSPEKTASI PERBAIKAN EKONOMI

Asing Buru Saham Bank

Rabu, 13 Januari 2021 | 13:07 WIB
F Rio Winto ,Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com) ,Nabil Al Faruq (nabil.alfaruq@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Investor asing terus memburu saham-saham perbankan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Ekspektasi perbaikan ekonomi Indonesia dan rencana pemerintah membentuk Sovereign Wealth Fund (SWF) mendorong pemodal asing memborong saham-saham big caps, terutama saham bank yang punya kapitalisasi besar dan likuiditas tinggi.

Berdasarkan data RTI, pada perdagangan Selasa (12/1), investor asing membukukan transaksi beli bersih (net buy) di pasar regular (RG) pada saham Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), Bank Mandiri Tbk (BMRI), Bank Central Asia Tbk (BBCA) masing-masing sebesar Rp 632 miliar, Rp 183,9 miliar, dan Rp 71,1 miliar. Harga saham BBRI ditutup menguat 1,51%, BMRI naik 1,46%, dan BBCA melemah 2,52%.

Sedangkan secara year to date (ytd) hingga 12 Januari 2021, net buy asing di saham BBCA sebesar Rp 1,5 triliun, BBRI Rp 1,2 triliun, BMRI Rp 437,9 miliar, dan BBNI sebesar Rp 363,9 miliar.

Dari sisi kinerja pertumbuhan, berdasarkan data BEI, secara year to date (ytd), saham Bank Mega Tbk (MEGA) mencatatkan kenaikan tertinggi sebesar 77,43%, disusul saham Bank BRI Syariah (BRIS) 67,11%, dan Bank Rakyat Indonesia Agroniaga (AGRO) sebesar 53,14%.

 

Indikator kinerja bank umum
Indikator kinerja bank umum

Pada perdagangan Selasa (12/1/2021), indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup menguat 12,73 poin (0,19%) ke level 6.395,66. Level tertinggi indeks mencapai 6.435,96, sedangkan terendah 6.353,30.

Sebanyak 194 saham harganya naik, 305 saham turun, dan 135 saham stagnan. Nilai transaksi harian di BEI mencapai Rp 25,98 triliun. Investor asing mencatat transaksi beli bersih (net buy) di semua pasar sebesar Rp 995,14 miliar.  

Analis PT Phillip Sekuritas
Analis PT Phillip Sekuritas

Analis PT Phillip Sekuritas Anugerah Zamzami mengatakan, ekspektasi perbaikan ekonomi Indonesia menjadi faktor paling utama investor asing masuk ke saham bank. Pemodal asing kemungkinan tertarik dengan pasar saham yang masih punya peluang bertumbuh.  

“Ketika asing masuk ke pasar Indonesia, saham-saham yang dicari ialah saham-saham big caps, yang sebagian besar adalah saham bank karena merupakan penggerak IHSG. Mereka punya kapitalisasi besar dan likuiditas tinggi,” jelas Zamzami kepada Investor Daily, Selasa (12/1). Menurut dia, saat ini dua saham bank BUMN yakni BBRI dan BMRI masih memiliki potensi upside, ditambah lagi oleh faktor aliran dana asing yang mengarah ke saham-saham bank besar.

Top 10 market capital emiten perbankan
Top 10 market capital emiten perbankan

Karena itu, dia merekomendasikan saham BBRI dan BMRI. Harga dua saham tersebut secara konsensus ditargetkan masing-masing Rp 4.800 dan Rp 7.650 sampai akhir 2021.

Untuk saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), kata Zamzami, pihaknya mencermati pemodal asing belum terlalu kencang mengarah ke BBNI. Namun, saham BBNI masih punya ruang penguatan dengan target konsesus akhir 2021 pada level Rp 6.750

Analis PT Reswara Gian Investa
Analis PT Reswara Gian Investa

Secara terpisah, analis PT Reswara Gian Investa Kiswoyo Adi Joe mengatakan, saham BBCA yang baru-baru ini sudah menyentuh all time high di level Rp 36.900 masih punya peluang untuk menguat. Pihaknya menargetkan saham BBCA menyentuh Rp 38.000 sampai akhir 2021.

“BBCA setiap tahun selalu memecahkan rekor harga sendiri. Saat ini ketika banyak saham bank belum kembali ke level tertingginya, dalam kondisi ekonomi seperti apapun BBCA selalu bisa mencapai all time high,” jelas Kiswoyo.

Pertumbuhan indeks sektoral
Pertumbuhan indeks sektoral

Menurut Kiswoyo, apresiasi investor cukup kuat terhadap emiten milik Robert dan Michael Hartono ini lantaran fundamental yang kuat di tengah krisis. Hingga kuartal III-2020, Bank BCA sebagai bank swasta terbesar mampu mengungguli perolehan laba bersih bank-bank BUMN yang pada tahun sebelumnya selalu menjadi juara.

Untuk bank BUMN, Kiswoyo merekomendasikan saham BBNI dengan target harga Rp 7.500. Penguatan saham BBNI terbilang cukup tertinggal dibandingkan BBRI yang kini hampir menyentuh target harga konsesus. Pihaknya menargetkan harga saham BBRI pada level Rp 5.000, sementara BMRI diharapkan menuju 8.000 hingga akhir tahun ini.

Analis Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas
Analis Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas

Seiring menguatnya saham sektor perbankan, Analis Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas merekomendasikan para investor untuk memperhatikan saham BBRI, BMRI, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN), dan BBNI. “Sedangkan untuk target harga adalah potensi kenaikan 7%-15% dari harga saat ini,” ujar dia.

“Saham perbankan top 5 terbesarnya untuk perdagangan hari ini (Selasa, 12 Januari) adalah saham MEGA, BBRI, BRIS, AGRO, dan BBKP,” ujar Sukarno kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (12/1).

Pertumbuhan harga saham perbankan
Pertumbuhan harga saham perbankan

Adapun strategi yang dapat dilakukan oleh para investor untuk berinvestasi di saham perbankan adalah buy and hold. Sukarno menambahkan, apabila terjadi koreksi harga atau terdapat sinyal jual, maka investor boleh melakukan trading sebesar 25%- 50% dari portofolionya.

Analis Jasa Utama Capital Sekuritas, Chris Apriliony mengatakan, penguatan sektor perbankan pada hari Selasa (12/1) disebabkan oleh investor asing yang mulai masuk, terutama ke sektor perbankan.

Analis Jasa Utama Capital Sekuritas,
Analis Jasa Utama Capital Sekuritas,

“Alasan mengapa asing masuk ke perbankan, karena kalau dilihat dari sisi likuiditas, perbankan cukup baik ditambah juga saham-saham perbankan menguasai market capital besar di bursa,” ujar dia.

Menurut dia, sektor perbankan masih berpotensi mengalami penguatan ke depannya seiring dengan kebijakan pemerintah membentuk Sovereign Wealth Fund (SWF) atau Indonesia Investment Authority (INA). Dengan demikian, Chris menilai rupiah dapat kembali ke area Rp 13.000 per dolar AS dan akan berdampak positif ke sektor perbankan.

“Adapun saham perbankan yang dapat diperhatikan adalah BMRI target 9.000 dan BBNI target 8.000,” ujar dia.

Analis Sucor Sekuritas,
Analis Sucor Sekuritas,

Senada, analis Sucor Sekuritas, Hendriko Gani mengatakan, sektor perbankan berpotensi menguat di tahun ini seiring dengan perbaikan ekonomi, sentimen SWF dan orderbook yang mulai membaik di tahun 2021 serta presales.

Hendriko menambahkan, sejumlah saham perbankan mendorong penguatan indeks pada perdagangan Selasa (12/1), yakni BBRI, BMRI, PT Bank Mega Tbk (MEGA), PT Bank BRIsyariah Tbk (BRIS), PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk (AGRO), dan PT Bank Bukopin Tbk (BBKP).

Harga saham BEKS menguat 28,72%, BBKP naik 24,59%, BRIS meningkat 23,68%, dan AGRO melonjak 20,53%. (jn)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN