Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Karyawan memantau pergerakan surat berharga negara di Global Market PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk di Jakarta, Rabu (4/7). Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Karyawan memantau pergerakan surat berharga negara di Global Market PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk di Jakarta, Rabu (4/7). Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

NET BUYING ASING DI SBN RP 113 TRILIUN

Asing Switching Portofolio

Senin, 30 September 2019 | 13:31 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com) ,Hari Gunarto (hari_gunarto@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Aksi jual saham secara masif yang dilakukan investor asing sehingga memicu terjadinya net selling besar-besaran sepanjang Agustus-September bukan berarti terjadi pelarian modal ke luar negeri (capital outflow). Investor asing hanya beralih (switching) portofolio dari saham ke Surat Berharga Negara (SBN) yang lebih aman dan memberikan imbal hasil tinggi.

Hal itu tercermin pada kenaikan signifikan kepemilikan asing di SBN. Selama September (month to date), terjadi penambahan kepemilikan asing di SBN atau pembelian bersih (net buying) sebesar Rp 18,72 triliun, dari posisi Rp 1.009,6 triliun per akhir Agustus menjadi Rp 1.028,32 triliun pada 26 September. Kenaikan kepemilikan investor asing di SBN tersebut paralel dengan nilai jual bersih (net selling) asing di pasar saham yang mencapai Rp 9,29 triliun selama Agustus dan Rp 7,25 triliun selama September, sehingga total penjualan bersih asing di pasar saham selama dua bulan tersebut mencapai Rp 16,54 triliun.

Sementara itu, net buying asing di SBN sepanjang tahun berjalan (year to date/ytd) tercatat sebesar Rp 113,39 triliun. Adapun di pasar saham, asing membukukan net buying sebesar Rp 52,0 triliun (ytd), termasuk pembelian saham Bank Danamon Indonesia dan Bank Nusantara Parahyangan oleh Bank MUFG Jepang sebesar Rp 52,58 triliun pada akhir April 2019.

Berbagai tabel investor asing di pasar modal, pasar uangm dan obligasi
Berbagai tabel investor asing di pasar modal, pasar uangm dan obligasi

Indikator lain bahwa investor portofolio asing tidak keluar dari Indonesia tercermin pada nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang stabil, bahkan justru menguat selama September. Rata-rata rupiah terhadap dolar AS selama Agustus tercatat Rp 14.272 per dolar AS, sedangkan pada September terapresiasi menjadi Rp 14.107 per dolar AS.

Terjadi Anomali

Ekonom senior Bank Mandiri Dendi Ramdani menyatakan, return di pasar saham dan pasar obligasi di Indonesia memang terjadi anomali, sehingga asing melakukan switching investasi portofolio dari pasar saham ke pasar obligasi, khususnya SBN.

“Anomali yang dimaksud adalah return yang lebih tinggi jika berinvestasi di pasar obligasi pemerintah daripada di pasar saham. Seharusnya, investasi di pasar saham memberikan return lebih tinggi dibandingkan di pasar obligasi karena risiko berinvestasi di pasar saham lebih tinggi,” kata dia kepada Investor Daily di Jakarta, Sabtu (28/9).
Sedangkan obligasi pemerintah memberikan return yang fixed dan risiko yang relatif rendah. Apalagi, pengelolaan fiskal pun sangat hati-hati, dan juga kondisi makro ekonomi terjaga, terutama inflasi.

Head of Industry and Regional Research Department Office of Chief Economist PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Dendi Ramdani. Foto: id.linkedIn
Head of Industry and Regional Research Department Office of Chief Economist PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Dendi Ramdani. Foto: id.linkedIn

Menurut Dendi Ramdani, fenomena switching dari instrumen saham ke SBN juga menunjukkan ekspektasi ke depan yang lebih baik terhadap prospek investasi di pasar obligasi pemerintah dibandingkan saham. “Hal ini terutama melihat tren suku bunga ke depan yang memang akan terus menurun,” kata dia.

Dendi berpendapat, dalam jangka pendek memang harga saham masih tertekan. Tapi peluang rebound dengan cepat sangat mungkin terjadi jika tanda-tanda ke arah pertumbuhan ekonomi yang tinggi mulai terlihat. Misalnya, harga komoditas bangkit, dampak proyek infrastruktur mulai terasa, serta adanya akselerasi sektor manufaktur dan perbaikan iklim investasi.

Dalam pandangan dia, faktor positif yang diharapkan dapat membuat saham-saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) tetap atraktif adalah prospek positif jangka panjang perekonomian Indonesia, jumlah kelas menengah yang tumbuh agresif, struktur penduduk yang didominasi usia muda, dan perilaku konsumtif masyarakat.

Sedangkan Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee melihat net selling asing di pasar saham dipicu aksi demo yang dilakukan mahasiswa. Selain itu, pasar saham sejak Agustus memang bergejolak karena isu perang dagang dan Brexit yang tidak ada kejelasan. Bank Sentral AS (The Fed) yang mengisyaratkan tidak akan menurunkan suku bunga pada akhir tahun pun menimbulkan sentimen negatif di pasar saham.

Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee. Foto: Beritasatu TV
Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee. Foto: Beritasatu TV

Faktor negatif lain adalah kenaikan harga minyak, padahal Indonesia merupakan net importer minyak, sehingga membuat pelaku pasar khawatir defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) tidak kunjung membaik. “Ekonomi global dalam kondisi tidak bagus. Semua itu membuat pasar nervous dan fluktuatif,” kata Hans.

Hans melihat investor asing mengalihkan portofolio saham ke SBN karena risiko di saham meningkat, demikian pula risiko global. Di negara lain polanya serupa. “Itulah sebabnya di Amerika Serikat terjadi inversi, yakni yield obligasi jangka pendek lebih tinggi dibanding obligasi jangka panjang,” kata dia.

Indikator lain bahwa investor portofolio asing tidak keluar dari Indonesia tercermin pada kurs rupiah yang stabil. “Jika asing keluar, biasanya kan rupiah melemah. Tapi kan nyatanya stabil. Yield SBN kita masih tinggi, sehingga tetap atraktif,” kata Hans.

Hans memprediksi, investor asing akan kembali ke saham setelah situasi global mereda dan kabinet baru terbentuk. “Oktober kemungkinan pasar saham bangkit, kemudian berlanjut pada Desember. Pada akhir tahun, IHSG (indeks harga saham gabungan) diprediksi bisa menembus 6.700,” tuturnya.

Anto Prabowo. Foto: IST
Anto Prabowo. Foto: IST

Deputi Komisioner Hubungan Masyarakat dan Manajemen Strategis OJK Anto Prabowo mengatakan, investor asing memang menaruh minat yang lebih besar terhadap pasar obligasi. Hal ini tampak dari derasnya arus masuk investor asing ke pasar SBN yang mencatatkan net buying cukup besar diiringi dengan penguatan yield.

"Kebijakan bank sentral negara maju yang akomodatif kembali mendorong investor asing masuk ke pasar keuangan emerging markets, termasuk Indonesia," kata dia.

Sejauh ini, kata Anto Prabowo, OJK menilai stabilitas sektor jasa keuangan dalam kondisi terjaga di tengah masih tingginya ketidakpastian perekonomian global. Sektor jasa keuangan domestik masih mencatatkan perkembangan yang positif dengan pertumbuhan intermediasi yang stabil dan profil risiko lembaga jasa keuangan yang terjaga.

Hingga 24 September 2019, penghimpunan dana melalui pasar modal mencapai Rp 125 triliun, lebih tinggi dibanding periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp 123,2 triliun. Adapun jumlah emiten baru pada periode tersebut sebanyak 36 perusahaan, serta pipeline penawaran sebanyak 47 emiten, dengan total indikasi penawaran sebesar Rp 35,82 triliun.

Head of Fixed Income Division PT Indomitra Securities Maximilianus Nico Demus. Foto: id.linkedIn
Head of Fixed Income Division PT Indomitra Securities Maximilianus Nico Demus. Foto: id.linkedIn

Sementara itu, Associate Director Research and Investment PT Pilarmas Sekuritas Investindo Maximilianus Nico menyatakan, memang terjadi capital outflow di pasar saham. Namun, dana asing yang keluar itu berpindah ke obligasi negara, sehingga porsi kepemilikan asing di obligasi meningkat. "Namun kami yakin hingga akhir tahun, capital inflow di pasar saham masih mencatatkan kinerja positif," kata dia.

Di sisi lain, ekonom Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengingatkan, demonstrasi mahasiswa yang terjadi akhir-akhir ini juga bisa memicu arus modal asing keluar dari Indonesia. "Jika kondisi politik terus menghangat, investor akan menahan investasi di aset berisiko dan mengalihkan ke aset yang aman," kata dia.

Profit Taking

Perpektif berbeda diungkapkan Head of Equity Research BNI Sekuritas Kim Kwie Sjamsudin. Dia menilai, saat ini belum ada katalis yang kuat dari domestik yang sanggup mendongkrak IHSG. Inilah yang menjadi salah satu faktor investor asing melakukan aksi ambil untung (profit taking). Adapun cukup tingginya kenaikan porsi asing di SBN, Kim Kwie menyebut hal itu semata karena imbal hasil yang ditawarkan SBN lebih tinggi di tengah kondisi ketidakpastian global.

“Saya melihat itu bukan fenomena switching. Sebab, manajer investasi asing biasanya mengelola secara terpisah antara fixed income dan stock funds,” kata dia.

Realisasi FDI
Realisasi FDI

Kim Kwie berpendapat, sentimen jangka pendek yang diharapkan mampu mengangkat IHSG adalah pengumuman Kabinet Kerja Jilid II, di samping data-data ekonomi domestik bulan September yang diharapkan membaik.

“Manajer investasi juga bersiap melakukan aksi beli serta menata portofolio sahamnya pada paruh kedua Oktober. Pada periode ini, emiten akan mengumumkan kinerja laporan keuangan kuartal III-2019,” tutur Kim.

Di pengujung tahun ini, Kim Kwie memprediksi IHSG akan menembus level 6.600. Posisi tersebut berdasarkan perhitungan rata-rata rasio price to earning (PE) IHSG dalam lima tahun terakhir yang berkisar 15,8 kali.

Secara terpisah, Kepala Riset Koneksi Kapital Alfred Nainggolan menjelaskan, jika dilihat polanya, net selling asing terasa sekali terjadi sejak Agustus. Sedangkan posisi net buying asing pada SBN cenderung tidak beraturan sejak awal tahun. Berpijak pada pola tersebut, Alfred tidak melihat adanya switching portofolio.

Analis Alfred Nainggolan. Foto: twitter
Analis Alfred Nainggolan. Foto: twitter

“Tapi memang di mata asing, yield SBN kita lebih menarik dibanding Eropa dan Amerika. Pelonggaran moneter Bank Indonesia juga membuat pasar obligasi kita makin diminati,” ujarnya.

Menurut Alfred, posisi IHSG saat ini sudah terbilang murah. Apabila suhu politik mereda, dia yakin ada tenaga bagi IHSG untuk melaju lagi karena kembalinya aliran dana asing ke pasar saham. “Hingga akhir tahun, IHSG diprediksi berakhir pada posisi 6.700-an,” kata dia. (c06)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN