Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Astra Agro Raih ESG Award 2020

Astra Agro Raih ESG Award 2020

Astra Agro Jaga Momentum Kenaikan Laba

Selasa, 2 Februari 2021 | 04:46 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - Potensi kenaikan harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan peningkatan volume produksi akan mendongkrak kinerja keuangan PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) tahun ini. Perseroan juga didukung oleh tingkat utang yang rendah, sehingga laba bersih bisa lebih baik.

Tim riset Sinarmas Sekuritas menyebutkan, permintaan CPO global telah kembali normal sejak akhir tahun lalu. Hal itu dapat dilihat dari data impor Tiongkok dan India. Impor CPO Tiongkok mencapai 668 ribu ton dibandingkan dengan rata-rata tiga tahun terakhir 527 ribu ton setiap tahun. Begitu juga dengan Tiongkok mencatat impor sebanyak 754 ribu ton dibandingkan tiga tahun terakhir dengan rata-rata 550 ribu ton per tahun.

“Kami juga menilai distribusi vaksin Covid-19 bisa menjadi sentimen positif terhadap peningkatan permintaan CPO setelah banyak restoran dan hotel kembali beroperasi. Selain itu, Tiongkok diperkirakan menaikkan impor CPO tahun ini, yang dipicu oleh penurunan suplai minyak kedelai,” tulis tim riset Sinarmas Sekuritas.

Tim riset mengungkapkan, volume produksi tandan buah segar (TBS) dan CPO Astra Agro memang turun masing-masing 15,2% dan 15,1% hingga Oktober 2020. Penurunan tersebut dipengaruhi oleh cuaca panas yang melanda Indonesia hingga kuartal III- 2020, sehingga panen buah lebih rendah. Perseroan juga menghadapi kompetisi untuk membeli TBS dari pihak ketiga seiring rendahnya produksi tahun lalu.

Meski demikian, produksi TBS dan CPO perseroan diperkirakan kembali pulih tahun ini dengan pertumbuhan yang lambat. Hal ini mengindikasikan bahwa kompetisi pembelian TBS dari pihak ketiga tetap tinggi, setidaknya sampai akhir semester I tahun ini. Perseroan diperkirakan memproduksi sebanyak 7,1 juta ton TBS tahun lalu dan diharapkan meningkat menjadi 1,45 juta ton pada 2021.

Produksi CPO diperkirakan mencapai 7,6 juta ton tahun 2020 dan diharapkan kembali meningkat menjadi 1,53 juta ton pada 2021. Utilisasi pabrik kelapa sawit perseroan diperkirakan naik dari target tahun 2020 sekitar 70,6% menjadi 74,6% pada 2021.

Kebun Sawit. Foto ilustrasi: DEFRIZAL
Kebun Sawit Astra Agro. Foto ilustrasi: DEFRIZAL

Tim riset Sinarmas Sekuritas memperkirakan peningkatan harga jual CPO tahun ini menjadi Rp 9.350 per kilogram (kg) dibandingkan perkiraan tahun 2020 sebesar Rp 8.485 per kg. Volume penjualan CPO Astra Agro diprediksi sebanyak 1,52 juta ton pada 2020 dan diharapkan meningkat menjadi 1,56 juta ton pada 2021.

“Berdasarkan analisis sensitivitas yang kami lakukan, setiap perubahan harga jual CPO dan volume penjualan sebesar 1%, laba perseroan akan terpengaruh mencapai 5,4% dan 1,6%. Perseroan juga bakal diuntungkan rendahnya tingkat utang,” jelas tim riset.

Sementara itu, upaya perseroan untuk menanam kembali lahan seluas 6.000 hekatre (ha) tahun ini bisa menjadi faktor positif bagi perseroan. Sebab itu, Sinarmas Sekuritas emperhankan rekomendasi beli saham AALI dengan target harga Rp 14.750.

Target harga tersebut merefleksikan perkiraan peningkatan laba bersih perseroan menjadi Rp 2,66 triliun pada 2021 dibandingkan perkiraan tahun 2020 senilai Rp 1,54 triliun. Pendapatan perseroan juga diperkirakan meningkat menjadi Rp 22,73 triliun tahun 2021 dibandingkan estimasi tahun lalu senilai Rp 20,27 triliun.

Sementara itu, analis BRI Danareksa Sekuritas Andreas Kenny dalam riset sebelumnya, mengungkapkan bahwa tren kenaikan harga jual CPO dan penurunan pajak perusahaan menjadi sentimen positif terhadap penguatan kinerja keuangan Astra Agro. Penguatan harga tersebut juga diharapkan berlanjut hingga tahun 2021, sejalan dengan ekspektasi membaiknya aktivitas ekonomi global.

Astra Agro Raih Tempo Country Contributor Award 2020
Astra Agro Raih Tempo Country Contributor Award 2020

Menurut dia, penurunan pajak yang ditanggung perseroan dari 25% menjadi 22% serta peningkatan rata-rata harga jual CPO menjadi faktor utama pendongkrak kinerja keuangan Astra Agro hingga September 2020.

“Hal ini mendorong kami untuk merevisi naik target laba bersih perseroan tahun 2020 dan 2021,” tulis Andreas.

Astra Agro membukukan lonjakan laba bersih sebesar 424% menjadi Rp 583 miliar hingga September 2020 dibandingkan periode sama tahun lalu senilai Rp 111 miliar. Pendapatan perseroan naik sekitar 7,6% dari Rp 12,38 triliun menjadi Rp 13,32 triliun. Pencapaian pendapatan dan laba bersih tersebut setara

 dengan 66,2% dan 87,1% dari target Danareksa Sekuritas dan setara dengan 71,5% dan 71,5% dari konsensus analis.

Pertumbuhan laba bersih yang signifikan tersebut mendorong BRI Danareksa Sekuritas merevisi naik target kinerja keuangan Astra Agro tahun 2020 dan 2021. Perkiraan laba bersih perseroan pada 2020 dinaikkan dari Rp 669 miliar menjadi Rp 901 miliar. Sedangkan perkiraan pendapatan pada 2020 dipertahankan senilai Rp 20,12 triliun.

Begitu juga dengan perkiraan laba bersih Astra Agro tahun 2021 direvisi naik dari Rp 785 miliar menjadi Rp 1,05 triliun. Perkiraan pendapatan pada 2021 dipertahankan senilai Rp 21,26 triliun. Pada 2019, perseroan membukukan pendapatan dan laba bersih masing-masing Rp 17,45 triliun dan Rp 211 miliar.

Pesatnya pertumbuhan laba bersih didukung pemangkasan pajak perusahaan bersamaan dengan kenaikan harga jual CPO mendorong BRI Danareksa Sekuritas untuk merevisi naik target harga saham AALI menjadi Rp 13.000 dari Rp 12.500, dengan rekomendasi beli.

Belanja Modal

CEO Astra Agro Lestari Santosa
CEO Astra Agro Lestari Santosa

Astra Agro memperkirakan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 1,2 triliun pada 2021 atau naik 9% dibandingkan anggaran tahun 2020 yang senilai Rp 1,1 triliun. Seluruh dana capex akan berasal dari hasil operasional perseroan.

Presiden Direktur Astra Agro Lestari, Santosa mengatakan bahwa perseroan akan mengalokasikan dana sebesar Rp 700 miliar untuk tanaman muda dan replanting, sedangkan sebanyak Rp 250 miliar untuk keperluan pabrik serta pelabuhan. Perseroan juga akan menyerap sisa_capex untuk infrastruktur dan fasilitas pendukung lain.

“Tahun 2021, kami berharap produksi nasional CPO bisa lebih baik dari tahun 2020 yang menurun. Dari sisi_demand, semoga tidak ada penurunan pada 2021 mengingat banyak negara masih sibuk dengan pandemi,” jelas dia kepada Investor Daily.

Santosa menegaskan, pelaku industri CPO harus siap mengantisipasi kondisi terburuk ke depannya. Bila ekonomi di negara utama pengguna CPO seperti Tiongkok dan India masih mengalami pandemi Covid-19, tapi produksi akan naik, maka dampaknya harga CPO berpotensi turun.

Di sisi lain, jika produksi tidak dinaikkan, maka efeknya ongkos produksi yang bertambah. Dia menambahkan, kunci utama indutri kelapa sawit berada pada program biodiesel pemerintah dan biaya subsidinya saat ini sangat mahal, demi menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan di tingkat global.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN