Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kebun sawit Astra Agro. Foto: Astra Agro.

Kebun sawit Astra Agro. Foto: Astra Agro.

Astra Agro Setor Dividen Rp 375 Miliar

Kamis, 15 April 2021 | 05:55 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) menetapkan dividen sebesar Rp 375 miliar untuk tahun buku 2020 atau setara Rp 195 per saham. Dividen tersebut sekitar 45% dari laba bersih tahun lalu.

Besaran dividen perseroan telah melewati persetujuan rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) pada Rabu (14/4). Nilai dividen Rp 195 per saham itu telah memperhitungkan dividen interim sebesar Rp 42 per saham yang sebelumnya dibagikan pada 19 Oktober 2020.

Presiden Direktur Astra Agro Lestari Santosa mengatakan, prospek bisnis minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) tahun ini diharapkan akan terdorong oleh penguatan harga akibat pemulihan ekonomi, baik secara domestik maupun global. Di sisi lain, penguatan harga sebenarnya tidak sepenuhnya bisa dinikmati oleh pelaku usaha.

“Penguatan harga yang terjadi sejak akhir tahun lalu juga diringi dengan pungutan biaya ekspor yang progresif. Tapi semoga ini menjadi kontribusi industri CPO kepada pemerintah,” jelas dia saat paparan publik secara virtual, Rabu (14/4).

Santosa menegaskan, perseroan tetap menerapkan strategi pengendalian biaya karena pandemi masih berlangsung hingga saat ini. Hal tersebut tercermin dari belanja modal (capital expenditure/capex) perseroan yang mencapai Rp 1,2 triliun untuk 2021 atau tak jauh berbeda dari realisasi tahun lalu sekitar Rp 999 miliar.

Alokasi capex terbesar Astra Agro adalah untuk replanting dan perawatan tanaman yang belum menghasilkan. Hal ini sesuai dengan fokus perseroan setiap tahun yang melakukan replanting sebesar 2,5% dari luas kebun yang ada. “Apalagi, kalau kami menggunakan bibit unggul yang baru, harapannya nanti produktivitas per hektarenya bisa lebih tinggi,” jelas dia.

Tahun ini, perseroan bersiap merilis tiga varietas bibit unggul baru dalam rangka meningkatkan produktivitas tanaman. Ketiga bibit unggul tersebut merupakan hasil penelitian tim research and development perseroan dalam 10 tahun terakhir dan menandakan milestone baru.

Perseroan berharap bibit-bibit unggul tersebut bisa memiliki ketahanan pada kondisi cuaca di masing-masing area kebun perseroan, yakni Sulawesi, Sumatera, dan Kalimantan. “Semoga pengembangan ini bukan yang terakhir, kami akan terus mengembangkan seed-seed yang baru. Tim riset perusahaan  tidak lama lagi akan memiliki PhD sendiri yang fokus di bidang pembibitan,” tutur Santosa.

Sementara itu, pelaksanaan protokol kesehatan yang ketat di kebun dan kantor pusat serta program digitalisasi yang telah dilaksanakan sejak empat tahun lalu, menjamin operasional perseroan berjalan efektif. Menurut Santosa hal ini menegaskan kembali jika strategi perseroan dalam mengembangkan teknologi digital dalam beberapa tahun terakhir telah memberikan hasil yang baik.

Tahun lalu, Astra Agro sebenarnya mencatat penurunan produksi CPO sebesar 13,6% dari 1,65 juta ton pada 2019 menjadi 1,43 juta ton pada 2020. Hal itu salah satunya dipicu kemarau panjang, yang mengakibatkan produksi tandan buah segar (TBS) dari perkebunan inti dan plasma perseroan turun sebesar 7,7%, yakni dari 5,02 juta ton pada 2019 menjadi 4,63 juta ton pada 2020. Selain itu, pembelian TBS dari pihak ketiga ikut mengalami penurunan sebesar 18,1% menjadi 2,61 juta ton pada 2020 dari 3,18 juta ton pada 2019.

Sejalan dengan penurunan produksi, perseroan juga mengalami penurunan penjualan sebesar 13,6% dari 2,3 juta ton pada 2019 menjadi 2 juta ton pada 2020. Namun, harga jual rata-rata CPO perseroan pada 2020 mengalami kenaikan. Tercatat, pada 2019 harga jual rata-rata CPO perseroan adalah Rp 6.689 per kilogram, kemudian naik menjadi Rp 8.545 per kilogram pada 2020.

Alhasil, pendapatan bersih perseroan meningkat 7,8% menjadi Rp 18,8 triliun pada 2020 dibanding 2019 sebesar Rp 17,45 triliun. Laba bersih melonjak hingga 294,6% menjadi Rp 833,1 miliar dari sebelumnya Rp 211,1 miliar.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN