Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi aplikasi. Foto: halodoc.com.

Ilustrasi aplikasi. Foto: halodoc.com.

Astra Suntik Dana ke Halodoc dan Sayurbox

Rabu, 21 April 2021 | 21:22 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Astra International Tbk (ASII) terus melebarkan sayap bisnisnya dengan menjadi investor di perusahaan rintisan (start-up). Astra mengucurkan dana sebesar US$ 5 juta ke Sayurbox dan US$ 35 juta ke Halodoc pada Maret dan April 2021.

Halodoc merupakan aplikasi kesehatan berbasis online. Sedangkan Sayurbox merupakan e-commerce grocery farm to table platform and distributor of fresh goods. Astra adalah investor utama dalam pendanaan dua start-up tersebut.

Pandemi Covid-19 yang masih berlangsung ternyata tak menghambat perseroan untuk mengembangkan bisnisnya. Sementara itu, pada kuartal I-2021, Astra International membukukan penurunan laba bersih sebesar 22% menjadi Rp 3,72 triliun dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp 4,81 triliun.

Adapun pendapatan bersih Astra turun 4% menjadi Rp 51,7 triliun pada kuartal I-2021. Pencapaian yang lebih rendah pada kuartal I tahun ini karena pandemi di Indonesia dimulai pada Maret 2020, yang kemudian memengaruhi ekonomi nasional dan kinerja bisnis secara substansial.

“Walaupun kinerja usaha perseroan perlahan membaik dalam beberapa bulan terakhir, prospek kinerja tahun ini masih dibayangi oleh ketidakpastian akibat pandemi yang masih berlanjut,” kata Presiden Direktur Astra International Djony Bunarto Tjondro dalam keterangan tertulis, Rabu (21/4).

Hingga 31 Maret 2021, kas bersih Astra mencapai Rp 15,9 triliun dibandingkan per akhir 2020 yang sebesar Rp 7,3 triliun. Arus kas yang lebih tinggi pada kuartal I-2021 disebabkan oleh kinerja bisnis yang membaik, serta belanja modal dan modal kerja yang lebih rendah.

Menurut Djony, jika volume bisnis terus membaik hingga akhir tahun ini, belanja modal dan modal kerja kemungkinan meningkat. Utang bersih anak perusahaan jasa keuangan Astra meningkat dari Rp 39,2 triliun pada akhir 2020 menjadi Rp 40,3 triliun per 31 Maret 2021.

Hampir seluruh segmen bisnis Astra mengalami penurunan laba bersih pada kuartal I-2021. Laba bersih divisi otomotif menurun 26% menjadi Rp 1,4 triliun, yang mencerminkan penurunan volume penjualan.

Penjualan mobil Astra menurun 24% menjadi 99.000 unit dengan pangsa pasar menurun dari 55% menjadi 53%. Pada periode ini telah diluncurkan lima model revamped. Sementara, penjualan Astra atas sepeda motor Honda menurun 17% menjadi 1.008.000 unit, namun pangsa pasar sedikit meningkat. Pada periode tersebut telah diluncurkan dua model baru dan lima model revamped.

Hingga kuartal I-2021, anak usaha Astra di bisnis komponen otomotif, PT Astra Otoparts Tbk (AUTO), mencatatkan peningkatan laba bersih sebesar 43% menjadi Rp 164 miliar. Hal ini terutama disebabkan meningkatnya keuntungan selisih kurs, meskipun pendapatan dari segmen pabrikan menurun.

Sedangkan laba bersih bisnis jasa keuangan Astra tercatat menurun 30% menjadi Rp 985 miliar pada kuartal I-2021 dibandingkan kuartal I-2020. Hal itu dipicu oleh peningkatan provisi guna menutupi kredit bermasalah yang meningkat pada periode tersebut dan penurunan portofolio pembiayaan pada bisnis pembiayaan konsumen.

Di sisi lain, laba bersih divisi alat berat, pertambangan, konstruksi, dan energi Astra meningkat 3% menjadi Rp 1,1 triliun pada kuartal I-2021. Kenaikan disebabkan oleh peningkatan penjualan alat berat Komatsu serta harga emas dan batu bara yang lebih tinggi. Lalu, sebagian terpengaruh oleh volume kontrak penambangan yang lebih rendah akibat kondisi cuaca yang kurang mendukung pada kuartal pertama tahun ini.

PT United Tractors Tbk (UNTR), yang 59,5% sahamnya dimiliki Astra, melaporkan peningkatan laba bersih sebesar 2% menjadi Rp 1,9 triliun. Namun, PT Acset Indonusa Tbk (ACSET), anak usaha United Tractors, melaporkan rugi bersih Rp 80 miliar, terutama karena perlambatan penyelesaian beberapa proyek yang sedang berjalan dan berkurangnya pekerjaan konstruksi selama masa pandemi.

Lebih lanjut, divisi agribisnis mengalami penurunan laba bersih yang signifikan dibandingkan lini bisnis Astra yang lain. Penurunan disebabkan penjualan minyak kelapa sawit dan produk turunannya yang lebih rendah serta adanya kenaikan pungutan ekspor dan pajak ekspor kelapa sawit yang signifikan. PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) melaporkan penurunan laba bersih 56% menjadi Rp 162 miliar pada kuartal I-2021.

Selama Januari-Maret 2021, divisi infrastruktur dan logistik Astra mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 42% menjadi Rp 42 miliar. Kemudian, laba bersih divisi teknologi informasi anjlok 50% menjadi Rp 1 miliar dan laba bersih divisi bisnis properti meningkat 23% menjadi Rp 49 miliar.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN