Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank INA Perdana Tbk (Foto: Beritasatu.com)

Bank INA Perdana Tbk (Foto: Beritasatu.com)

Asuransi Grup Salim Borong Saham Bank Ina dan Bali United

Farid Firdaus, Kamis, 12 September 2019 | 20:45 WIB

JAKARTA, investor.id – Perusahaan asuransi yang dikendalikan Grup Salim, PT Asuransi Jiwa Central Asia Raya memborong 6,17% saham PT Bank Ina Tbk (INA). Sementara itu, PT Asuransi Central Asia (ACA) menambah kepemilikan saham pada PT Bali Bintang Sejahtera Tbk (BOLA) menjadi menjadi 8,88% dari semula 8,33%.

Hal tersebut terungkap dalam laporan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mengenai kepemilikan saham emiten di atas 5% yang dirilis Kamis (12/9). Per September, Asuransi Jiwa Central Asia menggenggam 348,67 juta saham. Dari situ, sebanyak 77,71 juta saham ditempatkan pada portofolio produk carlink promixed.

Pada Agustus lalu, terjadi sejumlah transaksi atas saham Bank Ina. Asuransi Jiwa Central Asia membeli 294,95 saham pada harga Rp 925 per saham. Tujuan transaksi yang dilakukan pada 16 Agustus ini adalah investasi.

Kemudian, pada 19 Agustus, pemegang saham Bank Ina, PT Gaya Hidup Masa Kini melepas sebanyak 564,18 juta saham di harga Rp 910 per saham.

Adapun terjadi perubahan pemegang saham pengendali pada Bank Ina Juni lalu. Oki Widjaja yang sebelumnya menguasai 1,93% saham Bank Ina mengundurkan diri dari dari daftar pemegang saham pengendali, efektif 10 Juni 2019.

Alhasil, satu-satunya pemegang saham pengendali Bank Ina saat ini adalah PT Philadel Terra Lestari dengan kepemilikan 9,64% saham. Mayoritas saham Philadel dikendalikan oleh konglomerat Pieter Tanuri.

Seperti diketahui, masuknya Grup Salim dalam Bank Ina telah terjadi saat perseroan menggelar rights issue pada Maret 2017. Perusahaan yang terkait dengan Grup Salim itu adalah PT Indolife Pensiontama, PT Samudra Biru, dan PT Gaya Hidup Masa Kini. Per September 2019, ketiga perusahaan tersebut masing-masing menguasai 22,47%, 16,51%, dan 9,98% saham Bank Ina.

Dari sisi kinerja, Bank Ina mengincar pertumbuhan kredit sebesar 14%-17% sepanjang tahun ini. Selama 2018, perseroan berhasil membukukan kenaikan penyaluran kredit sebesar 19,7% secara year on year.

Bali United

Sementara itu, pada Bali Bintang Sejahtera pengendali Bali United, kepemilikan Asuransi Central Asia bertambah sedikit menjadi 8,88% per September, dari 8,33% per Agustus 2019.

Seperti diketahui, Asuransi Central Asia membeli 8,33% saham Bali United melalui serangkaian transaksi pembelian yang dilakukan dalam periode Juni-Juli 2019.

Selama periode ini, Asuransi Jiwa Central Asia juga melakukan pembelian saham Bali United sebanyak 5,61%. Kedua perusahaan asuransi ini membelinya dari PT Bali Peraga Bola.

Taipan Anthoni Salim menjadi komisaris utama sekaligus pemilik 33% saham Asuransi Central Asia. Anthoni juga tercatat menjadi komisaris utama di Asuransi Jiwa Central Asia Raya. Perusahaan yang berdiri sejak 30 April 1975 ini juga menempatkan orang kepercayaan Grup Salim, yakni Phiong Philipus Darma di dewan komisaris.

Keberadaan unit bisnis Grup Salim dalam daftar pemegang saham Bali United tak muncul pada tahun ini saja. Berdasarkan laporan keuangan Bali United, Indolife Pensiontama sempat menggenggam 6,67% saham per 31 Desember 2018, atau sebelum Bali United go public. Lalu, Indolife tercatat menguasai 5,39% saham Bali United per September 2019.

Tak ketinggalan, Pieter Tanuri melakukan dua kali transaksi pembelian saham Bali United pada Juli-Agustus lalu. Pieter memborong 5,7 juta saham pada 8 Agustus, dan sebelumnya 5 juta saham pada 24 Juli. Kedua transaksi ini sama-sama dilakukan pada harga Rp 370 per saham. Dengan demikian, saat ini Pieter tercatat menjadi pemegang saham terbanyak Bali United yakni sebanyak 13,67% saham.

Pada penutupan perdagangan Kamis, saham Bali United menguat 1,67% ke posisi Rp 366 per saham. Apabila ada investor yang membeli saham Bali United di harga perdana atau IPO pada level Rp 175 per saham, maka gain yang diraup mencapai 109,14%.

Di luar papan perdagangan bursa efek, performa Bali United kian diperhitungkan. Hingga kini, Bali United masih menduduki posisi atas klasemen Liga 1 2019 dengan koleksi poin 40, unggul dibanding pesaing terdekat Tira Persikabo yang mengumpulkan 33 poin. Sebagai pembanding, pada musim tanding 2018, Bali United jauh berada di posisi 11 Liga 1.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN