Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Investor memantau pergerakan saham di Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Investor memantau pergerakan saham di Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

BEI SIAPKAN SEJUMLAH INISIATIF BARU

Aturan Investasi Investor Institusi Perlu Direlaksasi

Sabtu, 16 Oktober 2021 | 12:24 WIB
Lona Olavia ,Muawwan Daelami (muawwan@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Investor institusi berharap aturan tentang investasi direlaksasi. Investor institusi banyak yang tertarik untuk menginvestasikan dananya pada sahamsaham berbasis teknologi digital. Sayangnya, kebanyakan perusahaan teknologi yang punya masa depan bagus saat ini masih merugi. Alhasil, niat tersebut melempem karena ada larangan berinvestasi di saham emiten yang merugi.

Presiden Direktur PT Schroder Investment Management Indonesia Michael T Tjoajadi mengatakan, investor institusi memiliki tiga tantangan yang dihadapi saat ini dalam menempatkan portofolio investasinya, khususnya di saham. Mulai dari regulasi yang harus diperbarui terutama menyangkut soal sisi hukum dan finansial, dibolehkannya investasi di perusahaan yang masih merugi namun punya prospek bagus ke depannya, hingga soal kepercayaan yang harus dijaga.

2021 tahun IPO terbaik dalam sewindu terakhir
2021 tahun IPO terbaik dalam sewindu terakhir

Menurut dia, Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah senantiasa adaptif dan terus mendorong perusahaan yang bergerak pada sektor teknologi, seperti centaur, unicorn, dan decacorn untuk go public. Namun sayangnya, ada peraturan internal di beberapa investor institusi yang masih melarang untuk berinvestasi di perusahaan yang masih rugi, misalnya dana pensiun dan sebagainya.

Padahal, sejauh ini sahamsaham teknologi memiliki prospek yang sangat cerah. Apalagi, Indonesia merupakan pasar terbesar baik dari segi potensi ekonomi maupun jumlah perusahaan rintisan (startup) terbanyak. Prospek yang cerah ini tentu juga didorong oleh animo masyarakat yang tidak ingin ketinggalan di pasar new economy. Tak heran jika transaksi ekonomi dan keuangan digital yang terus meningkat diyakini menjadi salah satu peluang untuk mendorong perekonomian Indonesia agar lebih baik di tengah pandemi Covid-19  Peraturan harus dibuat lebih rileks yang membolehkan investor institusi berinvestasi ke perusahaan yang masih merugi.

MichaelT Tjoajadi, Presiden Direktur PTSchroderInvestment Management Indonesia
MichaelT Tjoajadi, Presiden Direktur PTSchroderInvestment Management Indonesia

Aturan itu harus dilihat dan ditinjau lagi. Bagaimana digital company ini, mostly masih rugi semua. Kelihatan punya prospek besar tapi ada challenge dari segi aturannya. Padahal BEI dan OJK sudah melonggarkan peraturan untuk IPO meski masih merugi dan ini harus diikuti peraturannya dari eksternal dan internal dari dana pensiun untuk bisa investasi,” ucap Michael dalam webinar CMSE 2021 dengan topik Peluang dan Tantangan Peningkatan Aktivitas Investor Institusi, Jumat (15/10).

Michael menuturkan, investor institusi menjadikan size sebagai tolok ukur investasinya. Tahun ini, BEI berhasil menarik PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) tech unicorn yang listing di BEI, pada 6 Agustus 2021 dengan nilai penawaran umum perdana (IPO) saham mencapai Rp 21,19 triliun atau tertinggi sepanjang sejarah IPO BEI. BEI pun kini tengah menyambut beberapa startup lainnya untuk IPO. Sebut saja, GoTo, entitas gabungan Gojek dan Tokopedia, Blibli, Sicepat Ekspress dan Traveloka yang direncanakan akan melantai di tahun depan.

Direktur Pengembangan Investasi BPJS Ketenagakerjaan_(BP Jamsostek) Edwin Ridwan menilai, institusinya bisa “rugi” jika tidak ikut dalam pembiayaan industri teknologi. Apalagi, bisnis startup teknologi tengah menjadi tren. Banyak perusahaan teknologi yang dahulunya merupakan startup dan kini banyak digunakan masyarakat di Indonesia, seperti Grab, Gojek, Tokopedia, Traveloka. Meski punya banyak pengguna, perusahaan-perusahaan yang populer digunakan ini belum menghasilkan keuntungan.

“Namun karena berhubung dengan dana publik, ada kekhawatiran dengan pasal kerugian negara. Istilahnya kami investasi tidak boleh rugi, padahal namanya startup dari 100 investasi mungkin 10 yang untung tapi bisa menutup kerugian semuanya. Jadi, ini perlu kita perbaiki dari sisi regulasi, karena kita tak lihat dari sisi portofolio tapi aset,” pungkasnya.

Kantor BPJS Ketenagakerjaan. Foto: bpjsketenagakerjaan.go.id
Kantor BPJS Ketenagakerjaan. Foto: bpjsketenagakerjaan.go.id

Di sisi lain, dana investasi di BPJS Ketenagakerjaan sebut Edwin didominasi oleh peserta usia muda yang notabene cocok investasi di saham karena berorientasi jangka panjang dan memberikan return lebih tinggi dibanding instrumen lainnya. Oleh karena itu, karena sebagian besar peserta BPJS Ketenagakerjaan berusia muda maka pihaknya menempatkan 20% dari total dana kelolaan ke saham baik secara langsung maupun reksa dana. Edwin menambahkan, dalam hal peluang investasi, BPJS Ketenagakerjaan memiliki tiga ruang yakni private equity, start up, dan perihal environmental, social, and governance (ESG).

“Untuk private equity, secara peraturan kami bisa melakukan investasi langsung sampai 5% dari total dana kelolaan Rp 510 triliun atau sekitar Rp 25 triliun,” ungkap dia.

Ketua Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) Suheri Lubis menilai bahwa aset industri dana pension masih akan terus tumbuh hingga akhir tahun. Hal ini seiring tren pertumbuhan aset_ yang masih terjadi hingga Mei 2021 sebesar 11% secara yoy.

Industri dana pensiun mencatatkan nilai investasi Rp 306,4 triliun per Mei 2021, jumlah tersebut tumbuh 11,29% dari sebelumnya Rp 275,37 triliun. Dengan catatan itu, hasil investasi industri per Mei 2021 mencapai Rp 8,9 triliun atau melesat 21,48% (yoy) dari sebelumnya Rp 7,3 triliun. Adapun investasi saham hanya 9,5% turun dari sebelum Covid-19 yang sekitar 12%.

Peran Penting

Kepala Departemen Pengawas Pasar Modal 2B OJK Djustini Septiana, memberikan sambutan saat acara
Investor Award Best Listed Companies 2017 di Jakarta, Kamis (18/5). Foto: Investor Daily/David Gita Roza
Kepala Departemen Pengawas Pasar Modal 2B OJK Djustini Septiana, Foto: Investor Daily/David Gita Roza

Sementara itu, Deputi Komisioner Pengawas Pasar Modal I Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Djustini Septiana mengatakan, keberadaan investor institusi memiliki peranan yang sangat penting dalam menjaga stabilitas pasar modal Indonesia. Namun demikian, OJK menemukan beberapa pelanggaran yang dilakukan oleh sebagai kecil investor institusi.

Untuk itu, OJK telah melakukan penindakan hukum, di antaranya melakukan atau menegakkan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. OJK juga terus melakukan pembinaan untuk mengantisipasi modus pelanggaran dan melakukan penindakan tegas dan sanksi berdasarkan ketentuan yang berlaku.

”Untuk menghindari pelanggaranpelanggaran itu, investor institusi sangat perlu menerapkan etika bisnis dan tata kelola yang baik dalam menjalankan tata kelola usahanya. Antara lain, memiliki kebijakan dalam penanganan benturan kepentingan, melaksanakan pengendalian internal dalam bentuk manajemen risiko, menyusun rencana bisnis realistis, terukur dan berkesinambungan, serta melakukan pemantauan secara berkala terhadap perusahaan di mana dana investor institusi itu diinvestasikan,“ imbau Djustini.

Inisiatif Baru BEI

Direktur Penilaian Perusahaan Bursa BEI I Gede Nyoman Yetna. (ist)
Direktur Penilaian Perusahaan Bursa BEI I Gede Nyoman Yetna. (ist)

Di lain sisi, Bursa Efek Indonesia (BEI) melakuka  beberapa inisiatif baru guna menarik perusahaan-perusahaan terutama yang berbasis teknologi untuk go public.

Direktur Penilaian BEI I Gede Nyoman Yetna menjelaskan, inisiatif ini bertujuan untuk mendorong perusahaan teknologi Indonesia agar ikut mengkapitalisasi pasar modal Indonesia melalui partisipasi publik. Inisiatif-inisiatif yang dilakukan BEI di antaranya dengan mengklasifikasikan ulang sektor dan subsector berdasarkan pengalaman-pengalaman terbaik yang terjadi di awal 2021.

“Sekarang, ada Indonesia Stock Exchanges (IDX) sektor teknologi atau yang sering kita sebut IDX Tekno. Di situ, investor bisa membandingkan performa perusahaan-perusahaan teknologi sebelum memutuskan untuk berinvestasi,” jelas Yetna.

Inisiatif selanjutnya terkait dengan fast entry. Yetna menjelaskan, perusahaan-perusahaan tercatat termasuk perusahaan teknologi juga berpeluang menjadi bagian dari anggota baru indeks dalam 20 hari perdagangan setelah melantai di bursa.

Jumlah emiten baru di beberapa negara Asean
Jumlah emiten baru di beberapa negara Asean

Hal ini tergolong lebih cepat dibandingkan peraturan sebelumnya. BEI juga merevisi aturan mengenai pencatatan saham dan sedang menunggu restu dari OJK. Aturan baru tersebut akan mengakomodasi perusahaan teknologi dan sektor baru lainnya seperi sektor energi baru dan terbarukan (EBT).

Di samping itu, BEI juga melakukan inisiatif perihal dual class share dengan multiple voting shares (MVS). Melalui dukungan OJK, MVS tersebut bertujuan untuk mengakomodasi pendiri perusahaan agar bisa mengontrol perusahaannya.

Kemudian, inisiatif yang terakhir adalah membentuk inkubator BEI (IDX Incubator). Sebuah program khusus yang didesain bagi perusahaan rintisan dan Usaha Kecil, Mikro, dan Menengah (UMKM) agar bisa naik kelas.

“Akselerasi ini bertujuan agar pertumbuhan perusahaan rintisan dan para pelaku UMKM di Indonesia lebih berkelanjutan dengan membantu mereka untuk IPO dan tercatat di lantai bursa. Kami memiliki tiga inkubator yang berlokasi di Jakarta, Bandung, dan Surabaya,” papar Yetna.

MVS Segera Terbit

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen (Foto: Beritasatu Photo/Uthan)
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen (Foto: Beritasatu Photo/Uthan)

Terkait beberapa inisiatif ini, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen menyampaikan, dukungan infrasruktur merupakan sesuatu yang penting di tengah banyaknya perusahaan teknologi yang berencana melakukan IPO.

Oleh karena itu, OJK bersama BEI menyiapkan regulasi dan kebijakan serta sistem yang mendukung. Saat ini, OJK juga sedang menyiapkan regulasi untuk mengakomodasi beberapa isu dan melakukan penyesuaian kebijakan termasuk mengimplementasikan dual class shares dengan multiple voting shares.

Dengan MVS, kata Hoesen, setiap pendiri perusahaan teknologi tetap memiliki kontrol untuk melakukan inovasi dan menjaga visi jangka panjang perusahaan, meski menjadi pemegang saham minoritas.

“Kami berharap, MVS tersebut akan diterbitkan tahun ini dan kami akan berkoordinasi dengan BEI dan KSEI untuk pengembangan sistem ini,” terang Hoesen.

OJK, kata dia, juga secara aktif mendorong BEI untuk terus melakukan perbaikan mulai dari regulasi dan menyiapkan infrastruktur pendukung untuk menangkap dinamika industri dan mengakomodasi karakteristik khusus industri serta menganalisis setiap kemungkinan untuk lebih banyak lagi melakukan inisiatif yang friendly.

Pembelian dan penjualan bersih investor asing
Pembelian dan penjualan bersih investor asing

Pada kesempatan tersebut, Chief Executive Officer Hongkong Exchanges & Clearing Nicolas Aguzin menilai, tren kapitalisasi pasar sejalan dengan pemulihan ekonomi nasional. “Terbukti, perusahaan lokal sukses menghimpun dana sebesar US$ 2,26 miliar dan sebanyak 26 perusahaan telah mengantre di pipeline,” ucap Nicolas.

Dia melihat akan banyak terjadi IPO hingga tahun depan. “Kami berharap, likuiditas pasar modal Indonesia semakin besar termasuk lebih banyak lagi menarik dana asing. Hongkong Exchanges siap mendukung gagasan ini,” beber Nicolas. Hal senada juga dikatakan Chairman of Asia Pacific, Nasdaq Bob Mc- Cooey. Menurut dia, inisiatif-inisiatif yang dilakukan para regulator di BEI merupakan perbaikan yang fantastik sehingga memberikan kepastian kepada pasar.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN