Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Suasana Main Hall di Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi:  BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Suasana Main Hall di Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Aturan Market Maker Diluncurkan Semester II-2022

Selasa, 28 September 2021 | 12:42 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id) ,Nabil Alfaruq (nabil.alfaruq@beritasatumedia.com) ,Muhammad Ghafur Abdillah ,Iwan Subarkah Nurdiawan (subarkah_nurdiawan@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Direktur Perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Laksono Widodo mengungkapkan, pihaknya masih membahas aturan tentang penyedia likuiditas (market maker). Aturan market maker diharapkan bisa rampung pada semester kedua tahun depan.

“Melalui market maker, kami berharap bisa menambah likuiditas pasar dan mempermudah pengembangan produk baru oleh regulator dan self regulatory organization (SRO),” kata dia kepada Investor Daily, Senin (27/9/2021).

Menurut Laksono, pihaknya tidak bisa mengusahakan penyelesaian aturan tersebut tahun ini. Pasalnya, aturan tersebut memerlukan pemrosesan yang tidak sebentar dan ada prioritas lain dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan SRO sehingga jadwalnya bergeser.

Direktur Perdagangan dan Anggota Bursa BEI Laksono Widodo
Direktur Perdagangan dan Anggota Bursa BEI Laksono Widodo

Adapun dalam acara bersama Ellen May beberapa waktu silam, Laksono mengungkapkan, aturan market maker diharapkan bisa meningkatkan kepercayaan public terhadap pasar modal.

Market maker adalah pihak yang mendapatkan izin dari bursa untuk selalu menyediakan kuotasi bid and offer saham dengan kategori tertentu dalam jumlah yang memadai.

Laksono mengungkapkan, otoritas bursa akan menawarkan broker atau perusahaan sekuritas untuk menjadi market maker. Nantinya, market maker bertindak sebagai pembeli dan penjual siaga (standby buyer and seller) untuk saham perusahaan yang telah ditentukan bursa.

“Dengan demikian, saham terkait menjadi ramai diperdagangkan,” tutur dia.

Melalui aturan ini, bursa berharap bisa mendukung kinerja saham-saham yang berfundamental bagus. Namun saham tersebut kurang populer, dan_ sahamnya tidak likuid atau cenderung stagnan.

Sejauh ini, aturan marker maker sudah diimplementasikan di banyak negara di dunia.

Oleh karena itu, dia berharap penyusunan aturan ini dapat segera diselesaikan dan ditindaklanjuti dengan rule making rule ke pelaku.

“Saya harap aturan ini dapat segera rampung untuk meningkatkan kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia,” pungkas dia.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso. Foto: IST
Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso. Foto: IST

Sebelumnya, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menyebutkan pentingnya market maker untuk meningkatkan kembali kepercayaan publik terhadap pasar modal 

“Ke depan kami menekankan pentingnya adanya market maker untuk meningkatkan likuiditas perdagangan dan mempersempit celah untuk menggoreng saham, sehingga pasar modal Indonesia menjadi lebih kredibel,” ujar Wimboh Santoso saat menjadi pembicara kunci dalam peringatan HUT Ke-43 Pasar Modal Indonesia.

Meningkatkan kembali kepercayaan masyarakat terhadap industri pasar modal, lanjut Wimboh, memang menjadi satu dari sejumlah tantangan yang tidak mudah.

Menarik Banyak Investor

Pengamat pasar modal Marolop Alfred Nainggolan. Foto: IST
Pengamat pasar modal Marolop Alfred Nainggolan. Foto: IST

Sedangkan Kepala Riset Praus Capital Alfred Nainggolan mengatakan, aturan market maker diyakini akan menarik banyak minat investor. Kebijakan marker maker (MM) sebenarnya sudah diakomodasi dalam UU Pasar Modal, sehingga tinggal menunggu aturan pelaksanaan yang sampai saat ini belum terealisasi. Secara definitif, kebijakan MM ditujukan untuk meningkatkan likuiditas di pasar sekunder, sehingga kehadirannya akan memperkuat kualitas pasar modal Indonesia.

“Peningkatan likuiditas menjadi hal yang fundamental bagi sebuah pasar modal, dan kehadiran market maker merupakan cara untuk meningkatkan likuiditas yang juga dilakukan oleh bursa di negara-negara maju,” ujar Alfred kepada Investor Daily, Senin (27/9).

Lebih lanjut, menurut Alfred, kehadiran MM juga akan meningkatkan stabilitas pasar, sebab likuiditas yang dihasilkan oleh MM tentu akan menjadi stimulus untuk menarik jumlah investor dan meningkatkan transaksi investor.

Meskipun kebijakan MM akan meningkatkan likuditas pasar, kata Alfred, otoritas perlu juga memperhatikan ketentuan pelaksanaannya, seperti mekanisme perdagangan, tugas dan kewajiban MM, serta persyaratan menjadi MM.

Kemudian, otoritas pun perlu membentuk aturan sanksi dalam penerapan kebijakan tersebut dan memberikan insentif kepada MM. Apalagi, kata Alfred, menjadi MM dalam kondisi pasar yang sedang bearish jauh lebih berat dibandingkan pasar sedang bullish.

“Regulator perlu mendasarkan kebijakan market maker pada hasil kajian yang komprehensif. Sudah banyak negara emerging market yang menerapkan market maker di pasar sahamnya. Hal yang perlu diperhatikan adalah sosialisasi dan kesiapan infrastruktur,” ujar dia.

Jangan Terlalu Dibatasi

Analis CSA Research Institute Reza Priyambada
Analis CSA Research Institute Reza Priyambada

Dihubungi terpisah, pengamat pasar modal Asosiasi Analis Efek (AAEI) Reza Priyambada mengatakan, MM dapat menjadi solusi untuk meningkatkan likuiditas dan juga transaksi perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Namun banyak hal yang perlu diperhatikan oleh BEI dan OJK. Pertama, soal meningkatkan likuiditas. Jangan sampai hal ini hanya terjadi akibat pergerakan dari suatu pihak/ kelompok tertentu dan tidak sejalan dengan kondisi perdagangan yang ada.

“Sehingga, peningkatan likuiditas hanya menguntungkan salah satu pihak dan menjadi gambaran semu,” jelasnya.

Kedua, pergerakan MM jangan terlalu dibatasi yang menyebabkan penurunan likuiditas, sehingga tidak sejalan dengan tujuan utama dibentuknya aturan tersebut. Sedangkan Analis PT Panin Sekuritas Tbk (PANS) William Hartanto berpendapat, MM akan sangat membantu dalam membentuk tren harga saham, dan meningkatkan volatilitas. Meski begitu, tidak bisa disangkal bahwa beberapa MM memang terkesan mengacau dan membuat pelaku pasar lain merasa dirugikan. .

William yakin, aturan ini bisa menjadi peredam volatilitas saham-saham tertentu sehingga tidak terlalu liar.

Praktik MM di AS

Pejalan kaki melintas di depan Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS. Foto: Spencer Platt / Getty Images / AFP
Pejalan kaki melintas di depan Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS. Foto: Spencer Platt / Getty Images / AFP

Di dunia, market maker atau liquidity provider_atau terjemahan bebasnya pembentuk pasar adalah satu perusahaan atau bisa juga seorang individu yang memberikan harga beli dan jual sebuah aset yang dapat diperdagangkan dalam inventori.

Dengan harapan akan mengambil untung dari selisih permintaan dan penawaran. Fungsi dari seorang MM adalah membatasi variasi atau volatiltias harga dengan menetapkan batasan rentang harga perdagangan saham dari perusahaan-perusahaan tertentu.

Di pasar saham Amerika Serikat (AS), Komisi Sekuritas dan Bursanya atau SEC menyebut MM sebagai perusahaan yang siap membeli dan menjual saham secara reguler dan bersinambung pada harga yang ditetapkan secara terbuka.

Ada juga designated primary market maker_atau DPM, yakni MM spesialis yang disetujui oleh bursa untuk menjamin bahwa mereka akan mengambil posisi dalam opsi atau indeks opsi yang ditetapkan. Para MM yang siap sedia membeli dan menjual saham yang terdaftar di bursa, termasuk di Bursa Saham New York atau NYSE dan Bursa Saham London atau LSE dikenal sebagai MM ketiga.

Sebagian besar pasar saham beroperasi berdasarkan order atau penawaran yang cocok. Ketika harga permintaan dari pembeli cocok dengan harga yang ditawarkan penjual atau sebaliknya, sistem pencocokan bursa memutuskan telah terjadi kesepakatan transaksi.

Dalam sistem seperti itu, mungkin tidak ada MM yang ditetapkan atau resmi. Tapi yang jelas mereka eksis. Untuk yang individu, mereka ini bekerja di belakang layar di beberapa perusahaan finansial terbesar. Perusahaan- perusahaan broker dan investasi, begitu pula bursa saham merekrut mereka untuk membuat pasar tetap bergerak. Tapi bisa juga mereka bekerja secara independen.

Seorang MM menambah volume ke pasar dengan menempatkan order besar untuk saham atau obligasi tertentu. Semakin banyak volume di pasar, semakin baik likuiditas saham bagi para pialang. Pekerjaan mereka ini tampaknya mudah. Tapi dalam realitasnya penuh stres. Mereka harus menentukan seberapa jauh mereka akan menetapkan harga.

Risikonya tidak kecil. Mereka bisa menempatkan order pada saat harganya bergerak menjauh hanya dalam hitungan sepersekian detik. Semakin mereka kehilangan untung, posisi mereka di perusahaan bisa ikut buntung. Tapi mereka juga tidak bisa bermain terlalu aman. Jika satu perusahaan melihat MM-nya tidak mau mengambil risiko untuk saham tertentu, akan langsung dialihkan ke MM lain yang bersedia.

Keberadaan mereka berguna karena mereka lah yang selalu siap membeli dan menjual sepanjang investornya siap membayar pada harga spesifik. MM pada dasarnya bertindak sebagai penjual borongan dengan membeli dan menjual saham untuk memuaskan pasar. Karena harga yang mereka tetapkan mencerminkan sisi pasokan dan permintaan di pasar.

Gaji rata-rata MM di AS saat ini sekitar US$ 96.909 per tahun atau US$ 47 per jam. Sepuluh teratas bisa menghasilkan lebih dari US$ 172.000 per tahun. Sedangkan sepuluh terbawah menghasilkan di bawah US$ 54.000 per tahun.

Untuk yang perusahaan, MM  terbesar di AS antara lain Credit Suisse Securities LLC, Deutsche Bank Securities Inc, dan Goldman Sachs and Co.

Akhir perkan lalu, Presiden NYSE Stacey Cunningham mengatakan, pasar saham sekarang jauh lebih terfragmentasi karena banyak sekali terjadi pencarian harga yang cocok di pasar.

Market maker_tanpa henti menetapkan harga-harga itu. Hingga menjadi sebuah praktik manajemen risiko yang canggih,” kata dia, dalam wawancara dengan Shane Swanson, analis senior Market Structure and Technology Group di Coalition Greenwich.

Sementara itu di indeks Nasdaq, pandemi Covid-19 telah memunculkan lonjakan pertumbuhan ETF. Nasdaq sudah beberapa bulan terakhir menerapkan program Designated Liquidity Provider untuk membantu para penerbit ETF mengatasi tantangan itu dengan memberikan insentif baru kepada para MM agar likuiditas di ETF tetap terjaga.

Dinamika ini, kata Nasdaq, dapat meningkatkan transparansi dan juga kecocokan harga sambil mengurangi biaya transaksi bagi para investor ritel maupun lembaga.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN