Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Perdagangan obligasi di bursa.

Perdagangan obligasi di bursa.

Bakal Capai Rp 135,2 T, Emisi Surat Utang Tahun Ini Naik Tipis

Nabil Al Faruq, Selasa, 19 November 2019 | 15:38 WIB

JAKARTA, investor.id – PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memperkirakan nilai emisi surat utang tahun ini mencapai Rp 135,2 triliun. Jumlah tersebut naik tipis 2,4% dibandingkan realisasi tahun lalu yang sebanyak Rp 132 triliun.

Economic Research Pefindo Fikri C Permana mengatakan, hingga Oktober 2019, nilai penerbitan surat utang telah mencapai Rp 125,4 triliun. “Kami optimistis hingga akhir tahun ini bisa mencapai Rp 135,2 triliun, bahkan bisa lebih baik,” kata dia di Jakarta, Selasa (19/11).

Salah satu faktor yang memicu penerbitan surat utang adalah penurunan imbal hasil (yield) SUN yang lebih banyak dibandingkan dengan tingkat suku bunga acuan BI. Terhitung sejak awal 2019, suku bunga acuan turun 100 basis poin. Sedangkan yield surat utang turun 120 basis poin. “Kami harapkan tahun depan ada penurunan suku bunga acuan sebanyak 50 basis poin, dan yield bisa turun lebih dari 50 basis poin,” jelas Fikri.

Untuk surat utang 2020, pihaknya memproyeksikan nilai emisinnya sebesar Rp 158,5 triliun. Beberapa faktor akan mendorong peningkatan tersebut, salah satunya penurunan tingkat suku bunga. Dengan adanya tren penurunan, Pefindo melihat adanya ruang untuk peningkatan nilai emisi surat utang. “Tren penurunan tingkat suku bunga dapat menekan cost of fund. Begitu juga dengan yield surat utang korporasi,” ujar Fikri.

Lebih lanjut dia mengungkapkan, tahun depan, surat utang yang jatuh tempo cukup besar, yaitu Rp 126,4 triliun. Pihaknya mengharapkan adanya varian dalam penerbitan surat utang, sehingga bisa membantuk menggairahkan pasar. “Selain obligasi korporasi, ada pula sukuk, MTN, dan lainnya. Ini juga banyak diburu investor,” jelasnya.

Sementara itu, Senior Vice President Pefindo Hendro Utomo mengemukakan, per 18 November 2019, pihaknya telah mengantongi mandat penerbitan surat utang dari 13 sektor bisnis. Dari situ, sebanyak dua sektor tetap mendominasi, yakni perbankan dengan rencana emisi sebesar Rp 5,4 triliun dan perusahaan pembiayaan (multifinance) sebesar Rp 3,1 triliun. “Dari 2 sektor itu saja, kami sudah memiliki total mandat Rp 8,5 triliun,” kata Hendro.

Selanjutnya, sektor properti dengan rencana emisi sebesar Rp 2,6 triliun, transportasi sebanyak Rp 2 triliun, manajemen investasi sebesar Rp 1,5 triliun, industri kayu Rp 750 miliar, pulp & paper Rp 700 miliar, perkebunan Rp 605 miliar, electricity dan manufaktur Rp 500 miliar, pertambangan Rp 400 miliar, perusahaan induk Rp 100 miliar, dan ritel Rp 75 miliar. Dengan demikian, total mandat yang diterima Pefindo mencapai Rp 18,28 triliun.

Selain itu, terdapat PUB baru sebanyak Rp 5,15 triliun, obligasi dan sekuritisasi Rp 3,5 triliun, rencana realisasi PUB Rp 2,95 triliun, MTN Rp 2,57 triliun, sukuk Rp 505 miliar, dan surat berharga komersial (SBK) Rp 100 miliar.

“Untuk jenis institusinya kami ada non-BUMN sebanyak 14 perusahaan dengan rencana emisi Rp 10,77 triliun dan BUMN sebanyak tujuh perusahaan dengan rencana emisi Rp 7,5 triliun,” ujar Hendro.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN