Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Seorang petugas memeriksa BTS. Foto ilustrasi: Investor Daily/ant

Seorang petugas memeriksa BTS. Foto ilustrasi: Investor Daily/ant

Bali Towerindo Raih Pinjaman Rp 150,7 Miliar

Gita Rossiana, Rabu, 7 Agustus 2019 | 22:58 WIB

JAKARTA, investor.id -  PT Bali Towerindo Sentra Tbk (BALI) mendapat dua fasilitas kredit term loan dengan total Rp 150,7 miliar dari PT Bank Sinarmas Tbk (BSIM). Dana tersebut rencananya digunakan untuk mendukung kegiatan usaha perseroan.

Wakil Direktur Utama dan Corporate Secretary Bali Towerindo Sentra Lily Hidayat mengatakan, perseroan menandatangani perjanjian kredit pada 5 Agustus 2019. Dari perjanjian tersebut, perseroan mendapatkan dua fasilitas kredit yakni fasilitas kredit term loan XV dan fasilitas kredit term loan XVI.

Adapun, nilai kredit yang diperoleh dari fasilitas term loan XV adalah Rp 49,2 miliar dan memiliki jangka waktu 84 bulan atau tujuh tahun setelah pencairan kredit. Perseroan akan menggunakan fasilitas kredit ini untuk membangun menara base transceiver station (BTS) jenis micro cell pole di seluruh Indonesia.

"Agunan dari kredit ini adalah seluruh unit tower mikro seluler (MCP) dan piutang usaha yang timbul dari tower yang akan dibangun,"ujar dia berdasarkan keterbukaan informasi yang dilansir dari Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (7/8).

Selanjutnya, fasilitas kredit kedua yang diperoleh perseroan adalah fasilitas kredit term loan XVI dengan nilai Rp 101,5 miliar dengan tenor tujuh tahun setelah pencairan kredit. Kredit ini akan digunakan untuk pembangunan fiber to the home (FTTH) yang akan dibangun di seluruh Indonesia, terutama kawasan Jabodetabek.

"Seluruh peralatan dan jaringan FTTH serta piutang usaha yang timbul dari jaringan yang akan dibangun dengan pembiayaan dari Bank Sinarmas akan menjadi agunan kredit,"jelas Lily.

Sebelumnya, perseroan juga mendapatkan fasilitas pinjaman term loan dan demand loan dari Bank Sinarmas. Adapun total fasilitas kredit yang diterima Bali Towerindo dari Bank Sinarmas hingga Juni 2019 adalah sebesar Rp 697,5 miliar dan US$ 5 juta.

Selain dari Bank Sinarmas, pada Mei 2019, Bali Towerindo juga mendapatkan pinjaman dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dengan nilai total Rp360 miliar. Pinjaman ini terdiri dari fasilitas kredit investasi II senilai Rp 35 miliar dan fasilitas kredit investasi III dengan nilai Rp 325 miliar.

Lily menjelaskan, fasilitas kredit investasi II akan digunakan untuk pembiayaan aset berupa kantor di Bali. Sedangkan fasilitas kredit investasi III akan digunakan untuk membiayai pembangunan 84 site menara telekomunikasi di Bali.

Pada 2017, perseroan juga memperoleh fasilitas kredit investasi I senilai Rp 500 miliar dari Bank Mandiri. Fasilitas kredit ini digunakan untuk pembiayaan menara telekomunikasi beserta seluruh perlengkapan dan peralatan pendukungnya.

Selain dua bank di atas, Bali Towerindo juga mendapatkan fasilitas pinjaman dari bank lokal lainnya seperti PT Bank J Trust Indonesia Tbk (BCIC), PT Bank Pan Indonesia Tbk (PNBN) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Pinjaman tersebut mengkontribusi total utang jangka panjang perseroan yang tercatat Rp 885,78 miliar pada posisi semester I-2019 atau meningkat 6,36% dibandingkan posisi akhir 2018 yang sebesar Rp 832,81 miliar.

Utang jangka panjang ini mengkontribusi total liabilitas perseroan pada semester I-2019 yang mencapai Rp 1,92 triliun, meningkat dibandingkan akhir 2018 yang sebesar Rp 1,74 triliun. Selain dari pinjaman bank, peningkatan liabilitas juga ditopang oleh peningkatan medium term notes menjadi Rp 348,09 miliar dari Rp 347,3 miliar pada posisi akhir 2018.

Sementara itu, aset perseroan tercatat sebesar Rp 3,83 triliun, meningkat dari Rp 3,43 triliun pada posisi akhir 2018. Peningkatan aset dikontribusi dari aset lancar sebesar Rp 319,08 miliar dan aset tidak lancar sebesar Rp 3,52 triliun. Dari sisi pendapatan, perseroan membukukan pendapatan usaha sebesar Rp 294,62 miliar. Sebelumnya, pada semester I-2018, perseroan membukukan pendapatan usaha sebesar Rp 203,03 miliar.

Pendapatan usaha ini mengkontribusi perolehan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 24,47 miliar. Namun laba ini tercatat menurun dari Rp 27,17 miliar pada semester I-2018. Penurunan laba ini disebabkan pula oleh peningkatan beban pokok pendapatan yang menjadi Rp 133,99 miliar dari Rp 79,87 miliar pada posisi semester I-2018.(c06)

 

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA