Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Sejumlah nasabah melakukan transaksi di Kantor Cabang Bank Permata Thamrin, Jakarta, baru-baru ini. Foto: Dok Investor Daily

Sejumlah nasabah melakukan transaksi di Kantor Cabang Bank Permata Thamrin, Jakarta, baru-baru ini. Foto: Dok Investor Daily

Bangkok Bank Siap Akuisisi Bank Permata Rp 37,43 Triliun

Farid Firdaus, Kamis, 12 Desember 2019 | 21:50 WIB

JAKARTA, investor.id – Bangkok Bank Pcl berencana mengakuisisi 89,12% saham PT Bank Permata Tbk (BNLI) dari PT Astra International Tbk (ASII) dan Standard Chartered Bank dengan nilai indikatif Rp 37,43 triliun atau setara 81,01 miliar bath. Transaksi ditargetkan rampung pada kuartal III-2020.

Astra bersama Standard Chartered dan Bangkok Bank melakukan penandatanganan conditional purchase agreement (CSPA) pada 12 Desember 2019. Harga pembelian indikatif senilai Rp 1.498 per saham, jika mengacu pada nilai buku Bank Permata per 30 September 2019.

Executive Director and President Member of the Board of Executive Directors Bangkok Bank Pcl Chartsiri Sophonpanich mengatakan, harga pembelian indikatif berdasarkan penilaian yang disepakati sebesar 1,77 kali lipat dari nilai buku Bank Permata, yang masih akan disesuaikan. Sebelum transaksi final dilakukan, perseroan akan melewati sejumlah tahapan di tahun depan.

“Transaksi akan selesai setelah mendapatkan persetujuan pemegang saham dan regulator di Indonesia. Kami yakin bisa menerima dukungan mereka,” jelas dia di Jakarta, Kamis (12/12).

Setelah merampungkan transaksi, kata Chartsiri, Bangkok Bank juga mengantisipasi penawaran tender wajib (mandatory tender offer) untuk sisa 10,88% saham di Bank Permata. Perseroan akan menarik dana internal guna membiayai akuisisi ini.

Sesuai rencana, bagi Bangkok Bank, aksi ini diharapakan menambah earnings per share (EPS) dan return of equity (RoE) perseroan. Akusisi ini merupakan bagian dari ekspansi internasional adalah strategi utama Bangkok Bank. “Indonesia khususnya adalah fokus utama, karena merupakan salah satu ekonomi utama yang tumbuh paling cepat di Asia dengan fundamental makroekonomi yang sangat mendukung, demografi yang menguntungkan, dan peningkatan integrasi regional Asean," tutur dia,

Menurut Chartsiri, Bangkok Bank adalah bank asal Thailand yang memiliki jaringan internasional paling luas, yang hadir di 14 negara dengan pinjaman internasional yang menyumbang 17% dari total pinjaman bank.

Sebagai informasi, Bangkok Bank memiliki lebih dari 17 juta rekening nasabah dan hampir 1.200 cabang di seluruh Thailand dengan total aset US$ 105 miliar per 30 September 2019. Perseroan telah berdiri sejak 1944.

“Sementara di Indonesia, kami sudah berdiri sejak 1968, dan sudah ada tiga cabang di Jakarta, Surabaya dan Medan. Dengan akuisisi ini nantinya kami akan membawa para ahli keuangan di sektor UKM dan korporasi,” jelas dia.

Thailand dan Indonesia, lanjut dia, bagi Bangkok Bank merupakan dua pasar terbesar di wilayah Asia Tenggara. Menurutnya, Bank Permata dinilai akan melengkapi tujuan strategis perseroan, termasuk jaringan distribusi yang luas, merek ritel yang kuat, dan jaringan distribusi yang luas.

Ketika ditanya berapa lama proses yang diperlukan Bangkok Bank dalam bernegosiasi dengan pihak Astra dan Standard Chartered sehingga mampu mengalahkan peminat Bank Permata yang lain, Chartsiri hanya mengatakan, perseroan sudah cukup lama melihat perkembangan industri perbankan di Indonesia.

Sebagai informasi, para peminat Bank Permata yang santer terdengar oleh publik adalah Sumitomo Mitsui Banking Corp dan OCBC Ltd Singapura.

Tujuan Astra

Jika dihitung dengan menggunakan harga indikatif Rp 1.498 per saham, maka divestasi saham Bank Permata yang dimiliki Astra sebanyak 12,49 miliar saham (44,56%), dan juga Standard Chartered dengan kepemilikan yang sama, maka masing-masing berpotensi mengantongi Rp 18,71 triliun.

Secara terpisah, Head of Investor Relation Astra International Tira Ardianti mengatakan, seluruh dana yang dihimpun perseroan dari proses divestasi tersebut akan dikucurkan untuk investasi perseroan.

Anak usaha Astra pada segmen jasa keuangan mencatat utang bersih sebesar Rp 47,1 triliun pada 30 September 2019, dibandingkan dengan Rp 47,7 triliun pada akhir tahun 2018.

Adapun Bank Permata  mencatatkan laba bersih Rp 1,1 triliun pada kuartal III-2019, melesat 121% secara tahunan.  Pertumbuhan laba operasional sebelum penyisihan penurunan nilai aset tercatat naik sebesar 15% yoy menjadi Rp 2,1 triliun. Hal tersebut didukung kontribusi dari kenaikan pendapatan bunga bersih sebesar 3,0% yoy dan pendapatan operasional selain bunga sebesar 22% yoy. Sementara, net interest margin (NIM) tumbuh menjadi 4,2% diikuti oleh  peningkatan signifikan laba operasional yang mencapai 279% menjadi Rp 1,4 triliun.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA