Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Investor melihat pergerakan harga saham, di Jakarta.  Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Investor melihat pergerakan harga saham, di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Banjir Sentimen Positif, Pasar Saham 2021 Menjanjikan

Rabu, 25 November 2020 | 10:06 WIB
Nabil Al Faruq (nabil.alfaruq@beritasatumedia.com) ,Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Berbagai kalangan meyakini pasar saham Indonesia bakal lebih menjanjikan pada 2021. Hal itu seiring sentimen positif yang bakal membanjiri pasar, antara lain vaksin Covid-19, pemulihan ekonomi global dan nasional, suku bunga global yang rendah, dan aliran dana asing (capital inflow).

Direktur Utama PT Mandiri Sekuritas Dannif Danusaputro mengatakan, laba emiten yang sahamnya tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) juga diproyeksi tumbuh positif. Saat ini, perekonomian Indonesia sedang mengalami pemulihan. Pertumbuhan ekonomi tahun depan diperkirakan mencapai 4,4%. “Ini masih lebih rendah dari sebelum pandemi Covid-19, karena memang kapasitasnya belum 100%,” kata dia dalam acara Economic Outlook 2021 yang digelar secara virtual oleh BeritaSatu Media Holdings (BSMH), Selasa (24/11).

Sedangkan untuk sentimen vaksin, Dannif mengatakan bahwa dalam satu bulan terakhir, terdapat perkembangan yang menggembirakan. Beberapa perusahaan yang terlibat dalam pembuatan vaksin sudah memfinalisasi uji klinis fase ketiga dengan keberhasilan 95%.

Sebab itu, pada kuartal IV-2020, Mandiri Sekuritas menaikkan rekomendasi untuk saham-saham cyclical dibandingkan saham defensif. Strategi ini dilakukan seiring dengan potensi revisi naik laba bersih emiten, setelah mayoritas perusahaan melaporkan kinerja keuangan hingga kuartal III-2020.

“Kami melihat perbedaan valuasi antara saham cyclical dan defensif yang tergolong lebar, dimana revisi laba bersih dan arah dari nilai tukar rupiah menjadi kunci untuk valuasi ke depannya. Adapun saham cyclical yang dapat dilirik oleh para investor adalah sektor barang konsumsi, perbankan, dan properti,” tutur Dannif.

Pada perdagangan kemarin, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup naik 48,26 poin (0,85%) menembus level 5.701. Nilai transaksi harian di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai Rp 13,94 triliun. Investor asing mencatat transaksi beli bersih (net buy) di semua pasar sebesar Rp 126 miliar.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) Suheri mengemukakan, kemenangan Joe Biden dalam pilpres AS telah berdampak positif, dengan mengalirnya dana ke emerging market, termasuk Indonesia. Selain itu, tensi perang dagang antara AS dan Tiongkok mereda dan pertumbuhan ekonomi dunia pun akan membaik.

Dari dalam negeri, menurut Suheri, pertumbuhan ekonomi juga akan menunjukkan peningkatan pada 2021, serta pencairan dana pemerintah untuk bantuan sosial yang lebih besar pada semester II akan mendorong pertumbuhan ekonomi memasuki 2021. Meskipun banyak sentimen positif yang akan membanjiri pasar tahun depan, para pelaku tetap harus memperhatikan perkembangan kasus Covid-19 di dalam negeri. Sebab, kondisinya belum menunjukkan penurunan yang meyakinkan. Kemudian, aliran dana asing bisa berpotensi berbalik, jika risiko meningkat.

Terkait investasi dana pensiun, terdapat lima instrumen yang menjadi target investasi, yaitu deposito, SBN, saham, obligasi, dan reksa dana.

Di lain pihak, Chief Investment Officer PT Schroder Investment Management Indonesia Irwanti mengatakan, sejak terpilihnya Joe Biden sebagai presiden AS terjadi perubahan signifikan di negara emerging market. Investor asing yang selama ini memborong aset safe haven seperti emas, perak, dolar AS, dan yen mulai beralih ke instrumen lain.

"Naturally menurut persepsi mereka, ketika terjadi ketidakpastian ekonomi, aset yang risikonya rendah berarti menghasilkan return yang rendah. Sementara, saham dipandang menghasilkan return tinggi, namun juga berisiko tinggi," jelas dia.

Irwanti mengungkapkan, terpilihnya Joe Biden menggantikan Donald Trump membuat optimisme pelaku pasar meningkat. Pelaku pasar berpandangan dengan terpilihnya Joe Biden, perdagangan dunia membaik karena kebijakan dagang dengan Tiongkok akan melunak. "Ketika ekonomi membaik, kinerja aset yang lebih berisiko menjadi rebound dari sebelumnya yang sempat underperform," ungkap dia.

Dengan meningkatnya optimisme pelaku pasar ini, investor asing mulai berpartisipasi pada aset berbasis rupiah. Sejak Oktober 2020, investor asing yang semula banyak menjual surat utang negara (SUN) yang dimilikinya, saat ini sudah mulai masuk kembali. Meskipun, hal yang sama belum terjadi untuk portofolio saham, karena cenderung masih wait and see. "Namun, pada November ini, investor asing mulai masuk ke dua portofolio, yakni obligasi dan saham," ungkap Irwanti.

Adapun modal asing yang mulai masuk ke pasar saham dan obligasi berpengaruh pada nilai tukar rupiah. Menurut dia, sejak awal 2020, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sempat menembus Rp 17 ribu dan turun lebih dari 15%. "Joe Biden menjadi katalis positif bagi penguatan rupiah," ujarnya.

Di bursa saham, setelah terpilihnya Joe Biden, kinerja hampir seluruh pasar saham, seperti Amerika Serikat dan Tiongkok, lebih tinggi dibandingkan akhir tahun lalu. Sementara itu, di kawasan Asia Tenggara, seperti Indonesia, kinerja indeks saham masih lagging.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) memang sempat rebound 10,5% secara bulanan pada Oktober 2020. Namun, secara year to date (ytd), masih turun 7,3% atau masih underperform dibandingkan negara lain yang rebound terlebih dahulu.

Ke depan, penguatan IHSG diperkirakan berlanjut. Irwanti menyarankan investor untuk memperhatikan fundamental saham sebelum melakukan investasi. Pasalnya, berinvestasi di saham terdapat banyak noise sehingga harus memperhatikan aspek yang benar-benar fundamental.

Sektor Riil

Sementara itu, Deputi Komisioner Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Djustini Septiana mengatakan, untuk membangkitkan pasar modal, OJK harus bekerjasama dengan pemerintah untuk membangkitkan sektor riil. Sebab, apabila sektor riil terus terpuruk, maka akan mengganggu perkembangan pasar modal.

"Sektor riil harus cepat bangkit, karena apabila konsumsi masyarakat ada, maka ada kebutuhan korporasi untuk memproduksi. Sektor inilah yang secara jangka panjang akan berkembang," kata dia.

Hal lain yang dilakukan oleh OJK untuk mendukung pasar modal adalah meningkatkan perlindungan kepada konsumen. Menurut Djustini, salah satu cara untuk meningkatkan perlindungan konsumen adalah meningkatkan literasi dan edukasi.

Dia menyebutkan, pada 2019, tingkat literasi di pasar modal baru mencapai 4,92%. Sedangkan tingkat inklusi di pasar modal baru mencapai 1,55%. Untuk meningkatkan hal tersebut, OJK akan memperbanyak sosialisasi melalui teknologi informasi dan media sosial, serta melalui sinergi dengan pihak lain.

Lebih lanjut, OJK juga terus meningkatkan pengawasan di pasar modal. Ke depan, OJK berencana membentuk disbursement fund untuk bisa melindungi investor di pasar modal. "Kami sedang propose ketentuan disbursement, bagaimana mengembalikan keuntungan yang diperoleh secara ilegal kepada pihak yang dirugikan," ucap dia.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN