Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menara telekomunikasi. Foto ilustrasi: Investor Daily/IST

Menara telekomunikasi. Foto ilustrasi: Investor Daily/IST

Bank Mandiri Danai Sarana Menara Rp 3,5 Triliun

Farid Firdaus, Rabu, 2 Oktober 2019 | 21:41 WIB

JAKARTA, investor.id – PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) melalui dua anak usahanya mengantongi pinjaman senilai Rp 3,5 triliun dari PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Fasilitas kredit terayar ini akan diserap untuk kebutuhan belanja modal (capital expenditure/capex) dan akuisisi.

Penandatanganan kredit dilakukan pada 30 September 2019 oleh anak usaha Sarana Menara, yakni PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo) sebagai debitur satu dan PT Iforte Solusi Infotek sebagai debitur dua.

Rincian fasilitas pinjaman ini adalah fasilitas A sebesar Rp 3 triliun dan fasilitas B senilai Rp 500 miliar. Adapun fasilitas A menyediakan dua pilihan bagi perseroan beserta anak usahanya Opsi-opsi tersebut antara lain tranche satu, pinjaman berjangka Rp 2 triliun, dimana Iforte hanya bisa menarik Rp 1 triliun. Sedangkan pada tranche dua senilai Rp 3 triliun, yang seluruhnya hanya tersedia untuk Protelindo.

Sekretaris Perusahaan Sarana Menara Nusantara Irfan Ghazali mengatakan, fasilitas A tranche satu ditujukan untuk capex yang tidak berjadwal atau untuk keperluan akuisisi. Protelindo juga akan menyerap bagian ini untuk melunasi obligasi yang jatuh tempo November 2019.

“Sementara tranche dua juga ditujukan untuk membiayai capex, termasuk akuisisi, yang disetujui oleh Bank Mandiri. Untuk fasilitas B akan digunakan oleh Protelindo dan Iforte secara umum,” jelas Irfan dalam keterangan resmi, Rabu (2/10).

Sesuai rencana, fasilitas A bakal jatuh tempo pada 30 September 2024, sedangkan fasilitas B pada 5 Desember 2020. Masing-masing dikenakan bunga JIBOR dan margin yang berlaku 1,59% dan 1,25% per tahun.

Protelindo maupun Iforte memiliki kewajiban tanggung jawab yang bersifat tanggung renteng (joint and several) atas jumlah terutang terhadap perjanjian kredit tersebut.

Rencana Akuisisi

Seperti diketahui, Sarana Menara mengkaji untuk menaikkan anggaran belanja modal tahun ini yang semula ditargetkan sekitar Rp 3,4 triliun hingga Rp 3,5 triliun. Kenaikan ini berpeluang terjadi apabila emiten milik Grup Djarum tersebut menjadi pemenang dalam tender 3.000 menara yang digelar oleh PT Indosat Ooredoo Tbk (ISAT).

Wakil Direktur Utama Sarana Menara Nusantara Adam Ghifari mengatakan, pihaknya belum dapat menyatakan berapa kenaikan anggaran capex tersebut lantaran proses tender masih berlangsung. Namun, perseroan memiliki sumber pendanaan yang cukup untuk mendanai aksi korporasi tersebut.

“Strategi kami memang tumbuh secara organik dan anorganik. Kami belum bisa bicara detailnya, karena yang menggelar lelang itu Indosat,” jelas dia, baru-baru ini.

Adam menambahkan, rasio total pinjaman perseroan terhadap EBITDA juga masih tergolong rendah. Per Juni 2019, total pinjaman perbankan perusahaan mencapai Rp 12 triliun sedangkan EBITDA mencapai Rp 5 triliun. Dari sini, perseroan yakin masih memiliki ruang untuk pembiayaan dari bank jika memang dibutuhkan.

Selain rasio tersebut, perseroan juga cukup percaya diri dengan rating BBB yang diberikan oleh Standar and Poor’s (S&P). Pasalnya, hasil pemeringkatan ini membuka peluang bagi perseroan untuk memperoleh akses pembiayaan yang lebih beragam.

Dia menambahkan, jumlah menara perseroan hingga Juni 2019 sebanyak 18.152 tower dan perseroan masih memiliki tabungan 1.076 sewa tower. Di bisnis jaringan internet kabel optik, perseroan tercatat telah membangun 14.500 kilometer (km) di akhir Juni, dan memiliki tabungan 16.600 km fiber optik baru untuk diselesaikan.

“Untuk tumbuh secara organik saja, perseroan menargetkan memiliki 30.000 lebih titik sewa menara dengan rasio tenancy sebesar 1,63 kali. Posisi per Juni 2019, perseroan sudah memiliki 29.150 titik sewa dengan tenancy ratio 1,61 kali,” jelas Adam.

Hingga semester I-2019, perseroan mencatat potensi arus pendapatan yang berpeluang diterima hingga 2032 sebesar Rp 42,6 triliun. Nilai tersebut belum termasuk tambahan bisnis potensial atau perpanjangan sewa lain yang belum berakhir masa berlakunya.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA