Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
OCBC NISP. Foto: dok Investor Daily

OCBC NISP. Foto: dok Investor Daily

Bank OCBC NISP Bidik Emisi Obligasi Rp7 Triliun

Sabtu, 18 Januari 2020 | 10:07 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id  - PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP) berencana untuk menerbitkan obligasi hingga Rp 7 triliun tahun 2020. Surat utang tersebut adalah bagian dari Obligasi Berkelanjutan III Tahun 2018 dengan total plafon sebesar Rp 8 triliun.

Presiden Direktur Bank OCBC NISP Parwati Surjaudaja mengatakan, perseroan baru menerbitkan obligasi berkelanjutan tahap pertama senilai Rp 1 triliun pada 2018.

Obligasi tersebut terdiri atas tiga seri yakni Seri A dengan nilai pokok Rp 655 miliar memiliki tenor 370 hari dengan bunga tetap 6,75% per tahun. Kemudian, Seri B dengan total Rp 3 miliar memiliki tenor dua tahun dengan bunga tetap 7,25% per tahun.

Sementara obligasi Seri C memiliki nilai pokok Rp 342 miliar dengan tenor tiga tahun. Obligasi ini dikenakan bunga tetap 7,75% per tahun yang dibayarkan setiap tiga bulan sejak tanggal emisi.

PARWATI SURJAUDaJA, CEO PT BANK OCBC NISP Tbk. Foto: Investor Daily/David GITA ROZA
PARWATI SURJAUDaJA, CEO PT BANK OCBC NISP Tbk. Foto: Investor Daily/David GITA ROZA

Dalam penerbitan Obligasi Berkelanjutan ini, Bank OCBC NISP didukung oleh PT Indo Premier Sekuritas, PT BNI Sekuritas, PT OCBC Sekuritas Indonesia, PT RHB Sekuritas Indonesia, dan PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk sebagai Penjamin Pelaksana Emisi Obligasi.

Dengan penerbitan obligasi sebesar Rp 1 triliun tersebut, perseroan masih memiliki sisa Rp 7 triliun yang bisa diterbitkan. “Jendelanya memang di tahun 2020 ini, tapi semua tergantung kondisi di lapangan,” ungkap dia kepada Investor Daily pada Jumat (17/1).

Selain penerbitan obligasi rupiah, Bank OCBC NISP sebelumnya juga telah menerbitkan obligasi hijau (green bond). International Finance Corporation (IFC) berinvestasi sebesar US$ 150 juta dalam green bond yang diterbitkan Bank OCBC NISP tersebut. Obligasi tersebut merupakan obligasi hijau pertama yang diterbitkan bank komersial Indonesia.

Adapun tenor obligasi mencapai lima tahun dan diharapkan dapat mendukung proyek cerdas iklim yang didanai OCBC NISP.

Hasil penerbitan obligasi hijau akan digunakan untuk mendanai proyek terkait iklim sesuai dengan prinsip ramah lingkungan.

Selain itu, dapat mendukung prioritas pemerintah dalam meraih pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan menyumbang target pemerintah mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 29% pada 2030. Sama seperti penerbitan obligasi hijau, hasil dari penerbitan obligasi rupiah juga digunakan untuk membiayai ekspansi perseroan.

Sementara sampai semester I-2019, Bank OCBC NISP membukukan laba bersih sebesar Rp 1,5 triliun, bertumbuh 15% secara tahunan (year on year/yoy). Parwati mengatakan, pertumbuhan laba bersih tersebut didorong dari kredit yang disalurkan mencapai Rp 119 triliun, naik 2% (yoy). Kredit tersebut disalurkan untuk kredit modal kerja, kredit investasi, dan kredit konsumsi. Lebih lanjut, pada semester I-2019, perseroan mencatat pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 8%.

Penghimpunan DPK ini didominasi oleh dana murah (CASA) yang komposisinya mencapai 37,6% dari total dana yang terhimpun. “Hal ini merupakan hasil dari antara lain inisiatif kami untuk memperluas jangkauan dari produkproduk tabungan kami,” jelas dia.

Dari sisi rasio keuangan, loan to deposit ratio (LDR) tercatat 91,1% pada akhir semester I-2019. Sementara itu, pertumbuhan kredit perseroan juga disertai dengan kemampuan OCBC untuk menjaga kualitas kredit secara konsisten dengan rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) di bawah ketentuan, yakni NPL gross sebesar 1,8% dan NPL net 0,8%.

Untuk mencapai pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan, Bank OCBC NISP telah mempersiapkan berbagai strategi di antaranya memperkuat model bisnis, mempercepat pertumbuhan ritel. Khususnya menyasar segmen generasi muda, mendukung insiatif keuangan yang berkelanjutan serta melanjutkan transformasi dengan optimalisasi inisiatif digital dan menghadirkan customer experience yang lebih baik.

Pefindo. Foto: Majalah Investor/UTHAN A RACHIM
Pefindo. Foto: Majalah Investor/UTHAN A RACHIM

Sebelumnya, PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memperkirakan penerbitan surat utang jangka menengah (Medium Term Notes/MTN) akan mendominasi tahun ini. Hal ini didasarkan data permintaan pemeringkatan emisi surat utang yang telah mencapai Rp 40,69 triliun hingga 15 Januari 2020.

Kepala Pemeringkatan Jasa Keuangan Pefindo Hendro Utomo sebelumnya mengatakan, Pefindo telah mendapatkan mandat pemeringkatan MTN dengan total Rp 10,22 triliun. MTN mendominasi daftar pipeline surat utang yang bakal diperingkat Pefindo.

“Memang mandate MTN tergolong banyak, ada 19 emiten yang akan terbitkan MTN tahun ini,” katanya.

Maraknya penerbitan MTN tahun ini, ungkapk dia, kemungkinan dipengaruhi terbitnya peraturan baru Otoritas Jasa Keuangan (OJK) POJK Nomor 20/POJK.04/2019 tentang penerbitan efek bersifat utang atau sukuk yang dilakukan tanpa penawaran umum (EBUS) atau yang biasa disebut surat utang jangka menegah atau MTN yang akan berlaku mulai Juni 2020.

“Peraturan tersebut akan memperketat penerbitan MTN dengan target mulai berlaku Juni 2020. Hal ini kemungkinan mendorong sejumlah korporasi mempercepat emisi atau dilakukan sebelum peraturan baru tersebut berlaku. Ini pendapat saya pribadi,” ujarnya.

Dalam daftar penerbitan obligasi Pefindo terungkap bahwa permintaan pemeringkatan Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) baru telah mencapai Rp 7,75 triliun dan rencana realisasi PUB sebesar Rp 9,69 triliun. Kemudian obligasi dengan target emisi sebesar Rp 6,35 triliun, Sekuritisasi senilai Rp 3,97 triliun, Sukuk mencapai Rp 1,7 triliun, dan Surat Berharga Komersial (SBK) senilai Rp 1 triliun.

Pefindo mengungkap bahwa sektor perbankan masih mendominasi penerbitan surat utang tahun ini. Hal ini terlihat dari data permintaan pemeringkatan hingga 15 Januari 2020 bahwa nilai emisi surat utang perbankan mencapai Rp 6,97 triliun dengan jumlah empat perusahaan.

Sedangkan di posisi kedua, ada sektor jalan Tol dengan nilai rencana emisi sebesar Rp 4,85 triliun dengan jumlah perusahaan sebanyak empat. Kemudian sektor multifinance di posisi nomor tiga dengan rencana emisi sebesar Rp 3,8 triliun berasal dari lima perusahaan.

Keempat, sektor pulp and paper dengan nilai rencana emisi sebanyak Rp 3,6 triliun. Kelima, sektor perkebunan dengan nilai rencana emisi sebesar Rp 2,6 triliun, sedangkan sisanya berasal dari sektor lain dengan total 45 perusahaan.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN