Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu fasilitas Star Energy, anak usaha Barito Pacific.

Salah satu fasilitas Star Energy, anak usaha Barito Pacific.

Barito Pacific Bangun Aliansi Bisnis dengan Samko Group

Farid Firdaus, Kamis, 19 September 2019 | 19:51 WIB

JAKARTA, investor.id – Samko Timber Ltd melalui entitas bisnisnya berniat mengakuisisi 51% saham PT Sumber Graha Maluku (SGM), anak usaha tidak langsung yang dikendalikan PT Barito Pacific Tbk (BRPT). Nilai transaksi lebih dari US$ 20,6 juta.

Sesuai rencana, aliansi bisnis akan menjadikan SGM sebagai vehicle holding yang mengelola aset, salah satunya hutan seluas 59.138 hektare (ha) di Maluku Utara. Samko Timber yang tercatat di Bursa Efek Singapura (SGX) melalui anak usahanya, PT Sumber Graha Sejahtera (SGS) bersama PT Barito Wanabinar Indonesia, induk usaha SGM, melakukan penandatanganan subscription agreement pada 16 September 2019.

Dalam perjanjian tersebut, SGS menominasikan anak usahanya, PT Sempurna Graha Abadi (SGA), untuk berkomitmen menyerap 400.839 saham seri A yang akan diterbitkan SGM. Jumlah saham baru ini mewakili 51% dari total modal saham ditempatkan dan disetor penuh SGM.

“Perjanjian ini baru akan efektif, setelah perusahaan mendapatkan izin dari pemegang saham dalam rapat umum pemegang saham Samko pada 30 Desember 2019,” jelas manajemen Samko dalam keterangan resmi di SGX, Kamis (19/9).

Apabila pada rapat tersebut tidak diperoleh izin, atau pada tanggal lain yang disepakati kedua belah pihak, maka subscription agreement otomatis menjadi batal secara hukum yang berlaku.

Sebagai informasi, SGM yang didirikan pada 11 Maret 2019 itu sepenuhnya dimiliki oleh Barito Wanabinar dengan modal saham dan ditempatkan dan disetor senilai Rp 2,5 miliar. SGM tercatat belum memulai bisnis apapun sejak didirikan.

Berdasarkan perjanjian transaksi ini, SGM akan menjadi perusahaan pengelola aset. Adapun, Barito Wanabinar bakal melakukan restrukturisasi internal sehubungan dengan aset yang dimilikinya sebelum 30 Oktober 2020.

Sesuai rencana, SGM akan mengakuisisi hutan tanaman industri tertentu, konsesi hutan, lisensi, serta pabrik kayu lapis. Nantinya, aset-aset ini akan dimiliki oleh perusahaan yang dikendalikan oleh SGM. Perusahaan-perusahaan tersebut antara lain, PT Kirana Cakrawala, PT Kalpika Wanatama, PT Mangole Timber Producers, PT Bina Mahoni Utama, dan PT Wiranusa Trisatyra.

Sementara, aset-aset yang dikelola mencakup hak konsesi sekitar 59.138 ha hutan di Kabupaten Maluku Utara, Maluku. Tak ketinggalan, izin usaha industri untuk terlibat dalam produksi kayu primer seperti penggergajian kayu dan produk kayu lapis.

“Sekitar 35.000 ha area konsesi hutan telah ditanami dengan pohon sengon, samama merah, samama putih, dan berbagai spesies kayu lainnya,” tulis manajemen Samko.

Rincian Perjanjian

Sesuai perjanjian, total penyertaan modal yang akan dilakukan SGS dalam SGM mencapai lebih dari US$ 20,68 juta atau setara Rp 294,61 miliar. Nilai ini berdasarkan estimasi awal pengeluaran investasi yang diperlukan, dan estimasi kontribusi modal non-tunai SGM yang akan dibuat Barito Wanabinar dalam bentuk aset.

Penyelesaian transaksi akan dilakukan pada lima hari kerja setelah semua syarat-syarat terpenuhi, atau selambat-lambatnya 30 Januari 2020. Jika berjalan mulus, SGA yang menguasai 51% saham SGM, dan sisa 49% saham digenggam oleh Barito Wanabinar.

Lantaran SGM akan menjadi bagian dari SGA, maka SGA akan menempatkan dua orang perwakilannya, masing-masing satu pada jajaran direksi dan komisioner SGM.

Berdasarkan pro-forma unaudited SGM per 16 September 2019, perseroan membukukan book value yang dapat diatribusikan sekitar Rp 60,31 miliar. Sedangkan net tangible assets (NTA) yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham sekitar Rp 53,94 miliar.

Secara terpisah, Wakil Direktur Utama Barito Pacific Rudy Suparman mengatakan, kerjasama anak usaha perseroan dengan SGS bertujuan untuk memanfaatkan aset-aset kehutanan yang sudah lama tidak beroperasi. Kedua belah pihak juga berkerjasama dengan pihak ketiga yakni pemodal yang memiliki keahlian untuk mengelola aset-aset kehutanan tersebut.

Nilai keseluruhan aset-aset kehutanan yang menjadi objek dari perjanjian tidak bersifat material bagi perseroan. “Dengan demikian, transaksi ini tidak akan menimbulkan dampak material terhadap kegiatan operasional, hukum, kondisi keuangan, atau kelangsungan usaha perseroan,” jelas dia.

Rencananya, kerja sama dengan SGS diharapkan dapat membantu perseroan untuk lebih fokus dalam melakukan  kegiatan penanaman modal dan pengembangan usaha perseroan di industri energi dan petrokimia.

“Pada akhirnya, perjanjian dengan SGS diharapkan membawa dampak positif bagi kelangsungan usaha dan produktivitas perusahaan secara keseluruhan,” ujar dia.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA