Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu pabrik Grup Barito Pacific. Foto: PT Barito Pacific Tbk.

Salah satu pabrik Grup Barito Pacific. Foto: PT Barito Pacific Tbk.

Barito Pacific Rilis Obligasi Rp 750 Miliar, Cek Kuponnya

Jumat, 2 Juli 2021 | 22:49 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menawarkan Obligasi Berkelanjutan II Tahap I Tahun 2021 sebesar Rp 750 miliar. Obligasi ini merupakan bagian dari Obligasi Berkelanjutan II dengan target dana hingga Rp 1,5 triliun.

Berdasarkan keterangan resmi yang dikutip dari Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), obligasi ini terdiri atas dua seri. Seri A diterbitkan dengan nilai pokok Rp 561,1 miliar, tenor tiga tahun, dan kupon bunga 8,8%. Seri B diterbitkan dengan nilai pokok Rp 188,9 miliar, tenor lima tahun, dan kupon 9,5%.

Sesuai rencana, masa penawaran umum dilakukan pada 3-5 Juli 2021. Penjatahan pada 6 Juli 2021, distribusi secara elektronik pada 8 Juli 2021, dan pencatatan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 9 Juli 2021. Bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi efek adalah PT BNI Sekuritas dan PT BCA Sekuritas.

Adanya penerbitan obligasi ini diharapkan bisa mendukung pendanaan Barito tahun ini. Adapun untuk belanja modal (capital expenditure/capex) tahun ini, Barito menganggarkan sebesar US$ 170-175 juta, meningkat 12,9% dibandingkan realisasi capex 2020 sebesar US$ 155 juta.

Direktur Keuangan Barito Pacific David Kosasih mengatakan, belanja modal 2021 akan banyak diserap untuk pemeliharaan operasional dari pabrik anak usaha perseroan, PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA), dan aktivitas pengeboran Star Energy Geothermal. “Strategi bisnis kami tidak berubah, yakni meningkatkan kapasitas produksi dari hulu ke hilir. Chandra Asri masih menyiapkan rancangan CAP II yang memiliki total investasi sekitar US$ 5 miliar,” kata dia dalam conference call, belum lama ini.

Sementara itu, Barito Pacific melalui Star Energy terus melanjutkan ekspansinya seperti pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Salak Binary berkapasitas 15 megawatt (MW). Proyek tersebut ditargetkan beroperasi komersial pada 2022. Hingga saat ini, Star Energy telah memiliki kapasitas PLTP hingga 875 MW pada tiga aset operasi, yakni Wayang Windu, Salak dan Darajat. 

Di luar Star Energy, Barito Pacific melalui perusahaan konsorsium PT Indo Raya Tenaga juga terus melanjutkan pembangunan PLTU Jawa 9 dan 10 berkapasitas 2x1.000 MW. Star Energy juga dalam proses survei awal, seperti hak untuk menyamai penawaran tender terbaik untuk lisensi mengembangkan area sumber daya di Hamiding, Halmahera Utara dan Sekincau, Lampung Barat. 

Tahun lalu, Barito Pacific membukukan total pendapatan bersih US$ 2,33 miliar, turun 2,8% dibandingkan 2019 sebesar US$ 2,40 miliar. Pendapatan bersih bisnis petrokimia mengalami penurunan 4% menjadi US$ 1,79 miliar, bisnis energi naik 1,6% menjadi US$ 521 juta, dan lainnya turun 5,9% menjadi US$ 16 juta. 

Lebih lanjut, EBITDA Barito Pacific naik tipis 0,5% menjadi US$ 598 juta. Sementara, laba bersih setelah pajak meningkat 2,9% menjadi US$ 141 juta, sedangkan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk terkontraksi 18,2% menjadi US$ 36 juta pada 2020.

David menjelaskan, di tengah pandemi, perseroan secara konsolidasi bisa mencatatkan perbaikan keuangan yang solid sejak pertengahan semester II-2021. Hal ini salah satunya berkat keberhasilan Chandra Asri meraih EBITDA sebesar US$ 121 juta pada kuartal IV-2020, hampir dua kali lipat EBITDA September 2020 sebesar US$ 65 juta. Pemulihan ini didorong oleh peningkatan aktivitas industri terutama di Tiongkok.

Akhir tahun lalu, total aset Barito Pacific mencapai US$ 7,68 miliar meningkat 7,0% dibandingkan US$ 7,18 miliar pada 2019. Hal ini terutama dipicu peningkatan saldo kas di bank yang dihasilkan dari kegiatan operasi serta hasil dari penerbitan utang pada 2020, dan peningkatan investasi pada entitas asosiasi dan usaha patungan. 

Per 31 Desember 2020, total liabilitas perseroan turut meningkat sebesar 6,9% menjadi US$ 4,73 miliar dibanding periode sama 2019 sebesar US$ 4,42 miliar. Hal ini terutama disebabkan adanya peningkatan pinjaman utang pada 2020 dari Chandra Asri dan Star Energy Geothermal.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN