Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu pabrik milik PT Barito Pacific Tbk (BRPT). Foto: Perseroan.

Salah satu pabrik milik PT Barito Pacific Tbk (BRPT). Foto: Perseroan.

Barito Pacific Siapkan 'Capex' US$ 536 Juta

Kamis, 26 Desember 2019 | 18:34 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Barito Pacific Tbk (BRPT) mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) secara konsolidasi sebesar US$ 536 juta pada 2020. Mayoritas capex akan diserap oleh anak usahanya, PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA), untuk mulai membangun pabrik CAP 2 yang ditaksir menelan total investasi sekitar US$ 5 miliar.

Investor Relations Barito Pacific Allan Alcazar mengatakan, dari total capex tahun depan, sebanyak US$ 430 juta dialokasikan untuk capex Chandra Asri, US$ 88 juta untuk Star Energy Group Holdings Pte, dan US$ 18 juta disalurkan untuk PT Griya Idola. “Sumber pendanaan capex berasal dari kas internal masing-masing anak usaha. Chandra Asri dan Star Energy masih punya kas yang cukup,” jelas dia di Jakarta, Kamis (26/12).

Allan menegaskan, Chandra Asri akan membangun pabrik CAP 2 yang berlokasi di Cilegon, Banten, dengan membentuk anak usaha bernama CAP Perkasa. Perseroan juga menjajaki sejumlah mitra strategis yang potensial. “Untuk mitra strategis, di short list Chandra Asri sudah ada dua perusahaan dari semula empat perusahaan. Tapi belum bisa disebutkan detailnya,” jelas dia.

Dalam jadwal master proyek CAP 2, pabrik ini direncanakan memiliki kapasitas sebanyak 125% dari kapasitas CAP 1. Nantinya setelah proses seleksi investor strategis rampung, perseroan akan melanjutkan ke tahap rencana pembiayaan beserta engineering, procurement and construction (EPC) bidding pada kuartal II-2020.

Selanjutnya, pada tahap terakhir, perseroan akan masuk ke proses persetujuan final investment decision (FID), termasuk financial close, pada kuartal IV-2020 dan kemudian masuk ke proses pekerjaan EPC. Secara keseluruhan, pabrik CAP 2 ditargetkan mulai beroperasi pada semester I-2024. 

Sementara itu, Chandra Asri juga bakal menggalang dana sebagai salah satu sumber ekspansi melalui penerbitan saham baru dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue hingga 7,16 miliar saham. “Target dana dari rights issue ini juga belum ditetapkan, karena masih akan melewati persetujuan pemegang saham pada 5 Februari 2020,” kata Allan.

Lebih lanjut, untuk divisi bisnis geotermal, Star Energy akan menggunakan US$ 11 juta dari total belanja modalnya untuk eksplorasi pada wilayah kerja Hamiding di Halmahera Barat, Maluku. Selain itu, sebanyak US$ 30 juta untuk keperluan drilling, dan sebagian capex juga akan diserap untuk keperluan overhaul. “Sedangkan pada Griya Idola, sebanyak US$ 15 juta dari total capex mereka untuk menyelesaikan pembangunan gedung Wisma Barito Pacific II,” terang dia.

Kinerja

Hingga kuartal III-2019, pendapatan Barito Pacific menurun sebesar 24,8% menjadi US$ 1,77 miliar dibandingkan periode sama 2018 sebesar yang sebesar US$ 2,35 miliar. Hal ini terutama disebabkan oleh pelaksanaan turn around maintenance (TAM) terjadwal pada kuartal III dan realisasi harga jual rata-rata yang lebih rendah untuk produk petrokimia, terutama ethylene dan polyethylene.

Beban pokok pendapatan Barito Pacific juga menurun sebesar 23,1% menjadi US$ 1,3 miliar pada kuartal III-2019, dibanding periode sama tahun lalu US$ 1,69 miliar.  Hal tersebut sebagian besar dikarenakan biaya bahan baku bisnis petrokimia yang lebih rendah, utamanya disebabkan oleh biaya naphtha yang menurun menjadi rata-rata US$ 543 per metrik ton dari US$ 646 per metrik ton.

Seiring dengan itu, EBITDA perseroan turun sebesar 29,5% dari US$ 638 juta pada kuartal III-2018 menjadi US$ 450 juta pada kuartal III-2019, terutama disebabkan oleh EBITDA yang lebih rendah dari bisnis petrokimia. Penurunan juga dipicu oleh marjin industri petrokimia yang semakin moderat.

Per September 2019, laba bersih sesudah pajak perseroan mencapai US$ 92 juta dibandingkan dengan US$ 218 juta pada periode sama tahun lalu, terutama dipicu oleh laba kotor yang lebih rendah.

Menurut Allan, meskipun EBITDA secara konsolidasian turun, kegiatan usaha panas bumi perseroan menunjukkan tingkat EBITDA yang stabil dan tren laba bersih yang meningkat. Hal ini sebagai konsekuensi dari tren semakin menurunnya tingkat suku bunga dari waktu ke waktu. Secara konsolidasi, perseroan mampu menghasilkan margin EBITDA yang sehat 25,4%.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN