Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pialang memantau pergerakan harga saham di salah satu sekuritas di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Pialang memantau pergerakan harga saham di salah satu sekuritas di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

BEI: Bisnis Broker Efek Masih Menarik, tapi Kompetisi Kian Ketat

Senin, 25 Oktober 2021 | 05:30 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) menilai bahwa bisnis broker efek masih menarik, meskipun beberapa perusahaan sekuritas asing dan lokal telah menutup usaha tersebut.

Direktur Perdagangan BEI Laksono Widodo menjelaskan, bisnis broker efek masih menarik, tetapi membutuhkan komitmen dan permodalan yang tidak sedikit. Kebutuhan modal ini seiring adanya kebutuhan otomasi dan operasional bisnis secara online.

"Kompetisi semakin ketat dengan adanya pengembangan teknologi, meski demikian bisnis sekuritas masih tetap menarik," jelas Laksono dalam keterangan tertulis, akhir pekan lalu.

Dia mengungkapkan, BEI telah menyiapkan strategi untuk menggairahkan bisnis broker efek, seperti melakukan sosialisasi dan edukasi kepada para investor dan stakeholders pasar modal. Selain itu, BEI memberikan subsidi dan bantuan lainnya kepada para perusahaan sekuritas.

Kendati banyak broker asing yang hengkang belakangan ini, menurut Laksono, hal tersebut tidak akan menurunkan perkembangan bisnis sekuritas. Bisnis ini akan dibutuhkan seiring dengan pertumbuhan jumlah investor dan perkembangan teknologi.

Lagi pula, BEI terus menggencarkan bisnis sekuritas di tingkat daerah melalui pembentukan Perusahaan Efek Daerah (PED). Salah satu PED yang baru berdiri adalah Bank Jabar Sekuritas.

Adapun tahun ini, BEI telah mencabut empat Surat Persetujuan Anggota Bursa (SPAB), yaitu PT OSO Sekuritas Indonesia pada 5 Februari 2021, PT Kresna Sekuritas pada 28 Juli 2021, PT Morgan Stanley Sekuritas Indonesia pada 30 Juni 2021, dan terbaru PT Batavia Prosperindo Sekuritas.

Morgan Stanley dan Batavia Prosperindo mengajukan pencabutan SPAB secara sukarela, menyusul keinginan mereka untuk menghentikan bisnis broker di Indonesia. Sebelumnya, ada sejumlah sekuritas asing yang keluar dari Tanah Air, yakni PT Merrill Lynch Sekuritas Indonesia (MLSI), PT Deutsche Sekuritas Indonesia, dan PT Nomura Sekuritas Indonesia.

Alhasil, sejak 2018, BEI telah mencabut sekitar 11 SPAB, namun hanya memberikan SPAB kepada satu anggota baru, yaitu PT Verdhana Sekuritas Indonesia. Saat ini, terdapat 96 AB, baik yang memiliki izin sebagai penjamin emisi maupun perantara perdagangan efek atau keduanya.

Salah satu broker yang sukses mengembangkan bisnisnya di Tanah Air adalah PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia. Broker asal Korea Selatan ini berhasil mengukuhkan posisinya sebagai perusahaan efek dengan nilai transaksi saham terbesar di Indonesia.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN