Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Investor melihat pergerakan saham di galeri Bursa Efek Indonesia, Jakarta, beberapa waktu lalu. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Investor melihat pergerakan saham di galeri Bursa Efek Indonesia, Jakarta, beberapa waktu lalu. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

BEI Identifikasi 41 Saham Bergerak Tidak Wajar

Farid Firdaus, Minggu, 12 Januari 2020 | 09:50 WIB

JAKARTA, investor.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan, saham-saham yang mengalami pergerakan tak wajar hanya berkontribusi kecil terhadap nilai transaksi di bursa. Per akhir 2019, jumlah saham yang masuk ketegori tersebut hanya mencapai 41 perusahaan.

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota BEI Laksono Widodo mengatakan, berdasarkan hasil indentifikasi bursa, 41 saham tersebut hanya menyumbang sekitar 8,3% terhadap rata-rata nilai transaksi harian bursa tahun lalu yang telah mencapai Rp 9,1 triliun. Dengan demikian, nilainya sekitar Rp 755,3 miliar.

“Nilainya recehan. Jadi 41 saham perusahaan ini kami identifikasi dengan cara melihat kenaikan harga saham yang tidak sesuai dengan fundamental perusahaan tersebut dan tidak ada informasi yang memadai,” jelas dia di Jakarta, Jumat (10/1).

Lantaran masih dalam tahap indentifikasi, lanjut Laksono, pihaknya belum dapat menyebut detail nama-nama saham yang masuk kategori tersebut. BEI terus memantau berbagai potensi pergerakan saham yang tidak wajar ini dan berjanji melakukan tindakan sesuai peraturan.

Pergerakan saham-saham liar menjadi sorotan ketika Presiden Joko Widodo dalam pidato pembukaan perdagangan bursa 2 Januari 2020 lalu meminta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI membersihkan pasar modal dari para manipulator saham.

Permintaan tersebut bukan tanpa dasar sebab kasus gagal bayar PT Asuransi Jiwasraya menyeret sejumlah nama di pasar modal, setelah berbagai proses penyelidikan dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Bahkan, Kejaksaan Agung secara tegas menyatakan sebanyak 13 manajer investasi terkait dengan polemik yang melanda Jiwasraya.

Laksono berpendapat, kisruh Jiwasraya cenderung tidak menjadi sentimen negatif yang berpengaruh di pasar saham. Pihaknya mencermati, investor saham, utamanya investor asing cenderung fokus pada saham-saham yang tergabung di indeks-indeks acuan seperti IDX 80, LQ 45, dan IDX 30.

“Mereka (investor) lebih melihat dampak dari resiko global. Misalnya ketegangan antara Amerika dari Iran. Mereka fokus kepada ekonomi dalam negeri dan global secara keseluruhan,” jelas dia.

BEI optimistis rata-rata nilai transaksi harian tahun ini mencapai Rp 9,5 triliun. Optimisme tersebut didasari oleh beberapa inisiatif strategis yang telah disiapkan oleh bursa untuk mencapai berbagai target pada 2020.

BEI melanjutkan program pengembangan perdagangan pasar obligasi, peningkatan literasi dan inklusi pasar modal, peningkatan perlindungan investor, serta serangkaian program lainnya yang mendukung efisiensi proses pencatatan.

Perlindungan investor

Pada kesempatan sama, Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI Kristian S. Manullang mengatakan, BEI selalu merujuk kepada Undang-Undang pasar modal untuk memastikan investor mengambil keputusan yang tepat dalam berinvestasi, misalnya BEI kerap memberikan pengumuman berupa unusual market activity (UMA) terhadap saham-saham yang bergerak di luar kebiasaan.

Pengumuman UMA tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadap peraturan perundang- undangan di pasar modal. BEI biasanya terlebih dahulu meminta konfirmasi kepada manajemen dan mencermati perkembangan pola transaksi saham emiten terkait.

“Keputusan berinvestasi memang menjadi preferensi masing-masing investor. Tapi dengan adanya UMA, ini kesempatan untuk investor untuk menimbang terlebih dahulu supaya keputusan mereka tidak salah,” jelas dia.

Perusahaan yang sahamnya masuk kategori UMA juga kerap diminta untuk memberikan keterangan tertuli dan diunggah di situs BEI. Jika penjelasan ter tulis ini dirasa belum cukup, BEI akan mewajibkan emiten untuk menggelar pemaparan publik insidentil. BEI juga akan melakukan suspense apabila gejolak pada harga sebuah saham terus terjadi.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI IGD Nyoman Yetna Setia. Foto: IST
Direktur Penilaian Perusahaan BEI IGD Nyoman Yetna Setia. Foto: IST

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman menambahkan, upaya perlindungan investor juga dilakukan melalui notasi khusus pada saham-saham emiten yang dianggap bermasalah. Per 9 Januari 2020, tercatat ada 38 emiten yang sahamnya disematkan notasi khusus.

Sebagai informasi, notasi B merujuk pada keterangan adanya pemohonan pailit, notasi M merupakan permohonan Penundaaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU), E berarti laporan keuangan terakhir menunjukkan ekuitas negatif, S berarti laporan keuangan terakhir menunjukkan tidak ada pendapatan usaha, A berarti opini tidak wajar dari akuntan publik, D merujuk opini tidak menyatakan pendapata (disclaimer) dari akuntan publik, dan L adalah notasi bagi perusahaan yang belum menyampaikan laporan keuangan.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA