Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pengunjung berada di galeri Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita

Pengunjung berada di galeri Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita

JANGAN MANFAATKAN DANA UTANG INVESTASI SAHAM

BEI: Investor Jangan Tergiur Keuntungan Jangka Pendek

Selasa, 19 Januari 2021 | 11:56 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, Investor.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) mengimbau investor untuk berhati-hati dan cerdas mengelola resiko. Hal tersebut menanggapi tingginya minat berinvestasi masyarakat yang tercermin dari pesatnya penambahan jumlah investor ritel di pasar modal hingga memunculkan fenomena baru, yakni membeli saham dengan berutang atau memanfaatkan uang panas.

Direktur Pengembangan BEI Hasan Fawzi mengatakan, investor yang membeli saham dengan menggunakan uang pinjaman merupakan fenomena yang tidak baik. BEI selalu mengingatkan kepada masyarakat, para investor, bahwa berinvestasi saham selain berpotensi memberikan keuntungan yang baik, juga mengandung risiko kerugian.

Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia Hasan Fawzi
Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia Hasan Fawzi

“Kami mengingatkan masyarakat untuk tidak menggunakan dana yang bersumber dari pinjaman atau utang, atau dana yang diperlukan untuk kebutuhan sehari hari, atau dana untuk kebutuhan darurat, atau dana kebutuhan jangka pendek lainnya dalam investasi saham,” jelas dia dalam keterangan resmi, Selasa (19/1)

Menurut Hasan, hendaknya para investor jangan terlalu percaya diri dan berorientasi pada mengejar keuntungan yang sebesar-besarnya dalam jangka pendek, secara instan. Investor juga diimbau jangan hanya melihat dari sisi keuntungannya semata-mata, tapi juga hendaknya menghitung dan mengelola risiko dalam berinvestasi.

Selan itu, lanjut dia, berinvestasi saham dengan menggunakan dana utang justru meningkatkan risiko investasi, karena adanya keterbatasan waktu yang relatif pendek untuk segera mengembalikan dana pinjamannya dengan tingkat bunga tertentu. Hal ini tentunya akan semakin membatasi pilihan dan strategi investasi, lalu berpotensi mempengaruhi aspek psikologis para investor.

BEI mendorong agar para investor terus belajar dan meningkatkan pemahamannya dalam berinvestasi saham. BEI sudah menyediakan berbagai program dan sarana dalam melakukan edukasi kepada masyarakat dan juga para investor, melalui kegiatan sekolah pasar modal, webinar, workshop, dan melalui media sosial BEI.

“Silahkan untuk memanfaatkan program dan sarana edukasi ini, ataupun program edukasi yang dilakukan oleh para anggota bursa. Saat ini, sebetulnya sudah sangat banyak program edukasi yang baik dalam berinvestasi saham ini, yang dapat diakses secara mudah oleh masyarakat dan para investor kita,” jelas Hasan.

Baru-baru ini, keluhan para investor yang berutang pada aplikasi pinjaman online maupun bentuk hutang yang lain sempat terekam di sosial media, baik Twitter maupun Instagram seperti akun @ngertisaham. Salah satu investor menyebutkan telah berhutang kepada 10 aplikasi pinjaman online dengani nilai pinjaman Rp 170 juta untuk membeli saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) sebanyak 500 lot.

Keluhan yang hampir sama terjadi pada investor yang menggunakan uang arisan dan milik anggota Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK) untuk memborong saham PT Kimia Farma Tbk (KAEF). Bahkan, ada investor yang telah menggadaikan tanah dan Buku Kepemilikan Kendaraan Bermotor (BPKP) mobil demi belanja saham PT Itama Ranoraya Tbk (IRRA).

Setidaknya selama satu pekan terakhir, saham KAEF pernah menyentuh level Rp 6.975 pada 12 Januari, dan terus meluncur turun hingga di posisi Rp 4.930 pada awal perdagangan 19 Januari. Kemudian, saham ANTM juga sempat berada pada level Rp 3.180 pada 14 Januari, dan merosot ke posisi Rp 2.710 pada 19 Januari. Sementara saham IRRA tercatat berada di posisi Rp 3.700 pada 11 Januari, sebelum anjlok ke Rp 2.600 pada 19 Januari.

Fenomena investasi dengan uang panas ini bahkan masih berbuntut hingga penjualan saham di marketplace di olx.co.id. Padahal, aktivitas jual-beli saham yang resmi hanya bisa dilakukan melalui sekuritas. Ketika berita ini diturunkan, tautan mengenai penjualan saham KAEF, IRAA, dan INAF oleh penjual mengaku bernama Ringga Undil di marketplace tersebut sudah terhapus.

Influencer

Rangkaian fenomena ini menambah daftar tren sebelumnya, saat artis hingga tokoh masyarakat rajin merekomendasikan pembelian saham sejumlah emiten. Sebelumnya, Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Laksono Widodo mengatakan, pihaknya menilai kondisi tersebut merupakan fenomena baru.

Laksono Widodo. Foto: IST
Laksono Widodo. Foto: IST

“Walaupun ada aturan mengenai ini, yang akan dipakai adalah persuasi dan edukasi kepada para influencer. Kita melihatnya positif, membantu kita untuk market deepening. Kita perlu ajak mereka diskusi supaya tahu risiko-risiko dan dampaknya secara keseluruhan,” jelas dia, baru-baru ini.

Namun, BEI tetap mengingatkan para influencer itu seharusnya memili tanggung jawab moral terhadap para follower. BEI juga akan meminta klarifikasi emiten yang sahamnya disebut-sebut oleh influencer. “Kami telah mengirimkan permintaan penjelasan kepada emiten terkait,” kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna.

Adapun, melalui keterbukaan informasi di BEI, sejumlah emiten telah membantah menyewa tokoh masyarakat di media sosial untuk mempromosikan saham. Para emiten tersebut antara lain, Antam, PT M Cash Integrasi Tbk (MCAS), PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), dan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA).

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN