Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pekerja berada di galeri Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Pekerja berada di galeri Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

BEI: Pandemi Tak Surutkan Niat IPO

Selasa, 24 November 2020 | 23:17 WIB
Ghafur Fadillah

JAKARTA, investor.id -  Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi menjelaskan bahwa pandemi tak menjadi halangan bagi para perusahaan untuk menjadi perusahaan terbuka. Data terbaru menunjukkan hingga November 2020, tercatat sebanyak 20 perusahaan yang masuk dalam Pipeline untuk melantai pada akhir tahun 2020 maupun pada awal tahun 2021 mendatang.

“Hingga saat ini, sebanyak 708 perusahan yang telah tercatat di BEI, Aktivitas Go Public tersebut bahkan lebih besar dibandingkan dengan bursa saham lainya di ASEAN pada tahun ini,” jelasnya dalam acara CEO Networking 2020 secara virtual, Selasa (24/11).

Selain itu sepanjang tahun 2020, BEI mencatat jumlah investor bertumbuh sebanyak 37% menjadi 3,39 juta. Sedangkan investor ritel melesat hingga 126% secara tahunan. Dari segi transaksi harian, terjadi peningkatan sebesar 42% menjadi 78 ribu transaksi per hari.

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi. Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi. Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Inarno melanjutkan, untuk tetap menjaga minat para calon investor dan perusahaan calon emiten, BEI melakukan beberapa penyesuaian salah satunya dengan meluncurkan mekanisme E-IPO dan E-Proxy. Seperti yang diketahui sistem ini dibuat sebagai jawaban dari BEI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk meningkatkan akses bagi para investor ritel dan juga mempersingkat proses IPO.

“Selain itu kami juga meluncurkan IDX Virtual Trading, penerbitan indeks IDX30 sebagai acuan investasi bagi investor dan melakukan penyelesaian roadmap pasar modal syariah selama 5 tahun ke depan,”ujarnya.

Untuk diketahui, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir Maret lalu sempat mengalami koreksi yang signifikan hingga mencapai level 3,937,63 setara dengan 37,5 % apabila dibandingkan dengan penutupan tahun 2019. Namun IHSG secara bertahap pulih dan berhasil kembali pada level 5,143 pada 7 Agustus 2020.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menyatakan, optimistis IHSG akan terus bertumbuh bahkan memproyeksikan mencapai level psikologis 6.000.

Pernyataan ini sejalan dengan langkah cepat OJK dalam mengeluarkan serangkaian kebijakan seperti Trading Halt dan juga kebijakan pembelian kembali saham/Buyback saham tanpa menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

“Saat ini IHSG sudah mencapai level 5.600, kita berharap bisa tembus di level 6.000, sama halnya sebelum pandemi datang,” kata dia.

Sementara itu, Ketua Umum Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) Sunarso menyarankan, para pelaku industri perbankan untuk tetap berhati-hati meskipun saat ini rasio kredit bermasalah/Non Performing Loan (NPL) relatif rendah.

Menurutnya, rendahnya NPL saat ini dikarenakan kebijakan yang dikeluarkan oleh OJK mengenai relaksasi kredit, sehingga tidak mencerminkan kondisi sebenarnya. Di tengah pandemi, lanjut dia, sebaiknya perbankan mengutamakan perbaikan ekonomi dan fokus pada prinsip Loan At Risk.

Sehingga pada saat mencetak untung nanti bisa dijadikan sebagai rencana cadangan pada kredit yang berpotensial menjadi NPL,” tegasnya.

Terkait restrukturisasi kredit, hingga akhir Oktober 2020, realisasi atas debitur yang terkena dampak Covid-19 mencapai 3,9 juta debitur dengan total baki debet berjumlah Rp 490,47 triliun.

“Jumlah tersebut didominasi oleh penyaluran kredit bagi UMKM, untuk BRI sendiri portofolionya mencapai 80,63% pada September 2020,” jelas dia.

Sunarso yang juga menjabat sebagai direktur utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) tersebut menjelaskan, UMKM memang menjadi fokus utama perseroan sebagai sumber serapan tenaga kerja terbesar di Indonesia.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN