Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Lo Kheng Hong. Foto: Antara.

Lo Kheng Hong. Foto: Antara.

Beli Saham saat Pandemi, Lo Kheng Hong Beri Saran

Senin, 28 Juni 2021 | 05:50 WIB
Nabil Al Faruq (nabil.alfaruq@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Investor perlu mendalami dan memahami terlebih dahulu sebelum melakukan investasi pada saham yang mereka incar, sehingga investor pun akan memperoleh hasil yang maksimal dari saham tersebut.

Investor kawakan Tanah Air, Lo Kheng Hong mengatakan bahwa investor perlu mengetahui saham apa yang akan mereka beli, jangan membeli saham tapi tidak mengetahui kinerja saham tersebut. Dengan demikian, investor pun akan memiliki daya tahan lama untuk memegang saham tertentu.

Untuk mendalami kinerja saham dan emiten, menurut Lo, investor perlu membaca laporan-laporan yang diberikan oleh perusahaan tersebut, seperti laporan keuangan dan laporan tahunan. “Investor juga perlu melihat berapa penjualannya, berapa jumlah laba dan ekuitasnya, serta berapa utangnya. Semuanya harus dipelajari dulu,” kata dia dalam acara The First Indonesia Investor Summit, Sabtu (26/6).

Sebagaimana diketahui, pada tahun 1998, Lo Kheng Hong membeli saham PT United Tractors Tbk (UNTR) pada harga Rp 250 dan laba per saham Rp 7.800. Adapun rata-rata price earning ratio (PER) sebesar 15 kali.

Menurut Lo, harga wajar dari saham tersebut sebesar Rp 100 ribu. Jika harga Rp 250, lalu naik jadi Rp 350, maka untung 40% dan seharusnya dijual. Namun, Lo memilih untuk tidak menjual karena harga wajarnya Rp 100 ribu.

“Naik 100% pun itu baru Rp 500, tidak mungkin saya jual, padahal sudah untung besar. Saya tahu harga saham ini terlalu murah dan laba per sahamnya Rp 7.800,” ujar dia.

Hal lainnya yang perlu diperhatikan investor adalah jangan berutang. Di tengah kondisi ekonomi yang dihantui oleh pandemi Covid-19, kinerja saham kian memburuk akibat paniknya investor dan menjual sejumlah portofolio yang dimiliki, sehingga IHSG pun sempat terpuruk.

Pada tahun 1998, Lo sempat kehilangan 85% portofolio sahamnya dan hanya menyisakan 15% saja karena adanya krisis ekonomi dan suku bunga yang menyentuh 70%. Lo bisa bertahan dalam kondisi seperti itu karena tidak berutang. Kalau berutang, maka sahamnya akan dijual paksa.

“Investor itu kuat karena tidak berutang. Coba ketika pandemi ini investor berutang, habislah dia. Jadi itulah yang membuat investasi saya turun, tapi karena saya tidak berutang, saya tetap pegang. Akhirnya suatu hari, pasar kembali pulih dan saham-saham saya pun pulih,” ujar dia.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN