Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi digital. (Pixabay)

Ilustrasi digital. (Pixabay)

Berencana Listing di AS, Bukalapak Jajaki Merger dengan SPAC

Rabu, 3 Maret 2021 | 05:55 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Bukalapak, salah satu e-commerce terkemuka di Indonesia, dikabarkan tengah menjajaki rencana pencatatan saham (listing) di Bursa Saham Amerika Serikat (AS) melalui skema special purpose acquisition company (SPAC). Penggabungan usaha atau merger antara Bukalapak dan SPAC diperkirakan bakal menghasilkan valuasi sebesar US$ 4-5 miliar.

Bukalapak sedang berdiskusi dengan sejumlah bank investasi untuk melancarkan aksi korporasi tersebut. Perseroan masih dalam tahap pembicaraan awal dengan beberapa SPAC atau yang populer disebut blank check company. “Bukalapak dapat mempertimbangkan untuk mendaftarkan sebagian kecil saham dari bisnisnya di Bursa Efek Indonesia (BEI), sebelum melakukan kesepakatan dengan SPAC,” tulis Bloomberg dalam laporannya, Selasa (2/3).

Seperti diketahui, Bukalapak didirikan pada 2010 dan telah masuk kelompok perusahaan rintisan (start-up) teknologi dengan valuasi lebih dari US$ 1 miliar atau disebut unicorn. Sebagai marketplace, Bukalapak telah menjaring 13,5 juta penjual online dan 100 juta pengguna.

Pada November 2020, raksasa teknologi AS, Microsoft menjalin kerja sama strategis dengan Bukalapak. Sebagai tahap awal, Bukalapak sepakat mengadopsi Microsoft Azure sebagai platform cloud, sementara Microsoft mengucurkan investasi di Bukalapak.

Adapun investor papan atas lain yang sempat menyuntikkan dana investasi ke Bukalapak antara lain Ant Group yang dikendalikan oleh Jack Ma, Government of Singapore Investment Corporation (GIC), Naver Corp, dan Standard Chartered. Berdasarkan data CB Insights, Bukalapak memiliki valuasi US$ 3,5 miliar.

Penjajakan merger Bukalapak dengan SPAC ini menambah daftar rencana serupa yang melibatkan unicorn Indonesia, termasuk Tokopedia dan Traveloka. Bahkan, emiten milik Hary Tanoesoedibjo seperti PT MNC Vision Networks Tbk (IPTV) juga dikabarkan mempertimbangkan merger anak usahanya, Vision+, dengan Malacca Straits Acquisition Co Ltd.

Listing di BEI

Sebelumnya, Head of Corporate Communication Traveloka Reza Amirul Juniarshah mengatakan, Traveloka masih dalam tahap finalisasi perencanaan serta pemilihan rute terbaik menjadi perusahaan publik. Sebagai perusahaan teknologi dari Indonesia dengan aktivitas operasional di Asia Tenggara dan Australia, Traveloka tentu tetap mempertimbangkan BEI sebagai lokasi melantai di Indonesia.

“Namun, pada saat yang bersamaan, pasar bursa di AS terlihat semakin menarik karena Wall Street memandang Asia Tenggara sebagai kawasan dengan perkembangan pesat dan potensi pertumbuhan yang tinggi,” kata dia kepada Investor Daily, baru-baru ini.

Sebagai salah satu perusahaan teknologi terdepan di Asia Tenggara, kata Reza, pencatatan saham Traveloka di Wall Street akan menempatkan perseroan pada liga yang sama dengan perusahaan teknologi kelas dunia lainnya yang juga tercatat di sana. Alhasil, hal ini akan memungkinkan Traveloka untuk bersaing lebih kompetitif lagi di level global dan memungkinkan perusahaan membawa sumber daya ke Indonesia dan Asia Tenggara.

Adapun laporan Bloomberg sebelumnya menyebutkan, sejumlah special purpose acquisition company (SPAC) yang tercatat di Nasdaq tengah berdiskusi dengan Traveloka untuk membawa Traveloka listing di AS. Para SPAC tersebut adalah Provident Acquisition, yang terafiliasi dengan Saratoga Investama dan COVA Acquisition Corp.

Sebagai informasi, Michael Aw menduduki jabatan CEO dan CFO Provident Acquisition. Michael sebelumnya terlibat dalam Provident Growth dan sekarang menjadi dewan pengamat Traveloka.

Secara terpiasah, Direktur COVA Acquisition Pandu Sjahrir mengatakan, pihaknya memang tengah berdiskusi dengan para start-up dengan valuasi lebih dari US$ 1 miliar di Indonesia. Namun, pihaknya belum dapat mengungkapkan secara spesifik unicorn mana saja yang tengah dijajaki perseroan. “Semoga ada unicorn yang bisa listing tahun ini,” jelas dia kepada Investor Daily.

COVA Acquisition berhasil meraih dana segar US$ 261 juta dari hasil penawaran umum perdana (IPO) saham dan tercatat di Nasdaq, AS, pada 5 Februari lalu. Sebagai SPAC, COVA Acquisition mencari perusahaan-perusahaan potensial yang akan diakuisisi dengan menggunakan dana hasil IPO. Perseroan mengincar perusahaan teknologi dengan pertumbuhan tinggi dan bisnis yang mendukung teknologi di Asia Tenggara, khususnya industri internet konsumen, e-commerce, dan software.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN