Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Investasi. Foto: Rawpixel (Pixabay)

Investasi. Foto: Rawpixel (Pixabay)

Bernilai Jumbo, IPO Lion Air dan Softex Tunggu Pasar Kondusif

Farid Firdaus, Rabu, 19 Februari 2020 | 21:31 WIB

JAKARTA, investor.id – Sejumlah calon emiten kakap, seperti PT Lion Mentari Airlines (Lion Air) dan PT Softex Indonesia, dikabarkan menahan aksi penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham dalam waktu dekat lantaran adanya ketidakpastian dari pasar global.

Direktur Utama Mandiri Sekuritas Dannif Danusaputro tidak menepis rencana Lion Air dan Softex yang akan menggalang dana IPO dalam jumlah besar. Saat ini, dalam pipeline perseroan, terdapat lima rencana IPO saham yang tengah disiapkan. Namun, pihaknya tidak dapat menyebutkan secara detail calon-calon emiten tersebut. “Yang saya dengar Lion Air akan mengumumkan bagaimana rencana mereka. Mungkin kita akan dengar dalam waktu dekat,” jelas dia di Jakarta, Rabu (19/2).

Sebelumnya Bloomberg melaporkan Lion Air dan Softex Indonesia sama-sama mengincar dana IPO bernilai jumbo masing-masing sekitar US$ 500 juta. Bahkan, Lion Air dikabarkan telah melakukan pre-deal roadshow selama 27 Januari hingga 7 Februari 2020. Pre-deal tersebut ditangani oleh BNP Paribas dan Morgan Stanley.

Menurut Dannif, sentimen dari global seperti wabah Virus Korona memang menjadi pertimbangan calon emiten baru untuk melangsungkan IPO. Namun, dia tidak juga mengatakan bahwa aksi IPO dibatalkan. Hal ini berarti masih adalah peluang aksi IPO bernilai jumbo bisa direalisasikan apabila kondisi pasar membaik.

“Kita tentu masih berharap ada IPO dari emiten besar tahun ini. Dan, ada dari kelompok BUMN, cuma sekarang ini tahapnya memang belum final,” jelas dia. Sebagai informasi, salah satu anak usaha BUMN yang telah mengumumkan rencana IPO tahun ini adalah PT Adhi Commuter Properti dengan target dana IPO Rp 2,5 triliun. Perseroan berencana melepas 30% sahamnya kepada publik pada kuartal II-2020.

Baru-baru ini, Direktur Keuangan Manajemen Risiko dan SDM Adhi Commuter Properti Mochamad Yusuf mengatakan, pihaknya akan menggunakan sebanyak 80%  dana hasil IPO atau sekitar Rp 2 triliun untuk belanja modal alias capital expenditure . Anak usaha PT Adhi Karya Tbk (ADHI) ini juga akan menggunakan Rp 500 miliar dari hasil IPO untuk keperluan membayar utang.

Sebelumnya, sejumlah BUMN telah menyatakan akan mengantar anak usahanya ke lantai bursa tahun ini, bahkan beberapa rencana IPO tersebut sempat diutarakan sejak tahun lalu.

Sebut saja, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II atau Indonesia Port Corporation (IPC) yang mematangkan rencana IPO dua anak usahanya, yaitu PT Pelabuhan Tanjung Priok dan PT IPC Terminal Petikemas. Selain itu, ada juga anak usaha PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), yakni PT Wijaya Karya Realty yang pernah dijadwalkan IPO pada 2018, namun akhirnya ditunda menunggu momen yang tepat.

IPO Champ Resto

Sementara itu, PT Champ Resto Indonesia, pengelola restoran Gokana Ramen & Teppan, sebelumnya juga dikabarkan melakukan pre-marketing roadshow IPO pada awal Februari lalu. Menurut Bloomberg, perusahaan ini mengincar target dana sekitar US$ 150 juta.

Jika respons investor sesuai ekspektasi, maka Champ Resto juga menambah daftar calon emiten dengan target dana IPO jumbo pada tahun ini. Sebagai informasi, Champ Resto didukung oleh private equity Capsquare Asia Partners.

Champ Resto berdiri pada 1997 di Bandung, Jawa Barat dan kini menjadi salah satu jaringan restoran terbesar di Indonesia. Selain Gokana Ramen & Teppan, perseroan juga tercatat menjalankan jaringan restoran di bawah merek Raa Cha Suki & BBQ, Gobic, BMK Baso Malang Karapitan, BMK Baso Mie Kopi, Platinum dan Chopstix.

Lebih jauh, calon emiten lain yang menargetkan dana IPO dengan nilai jumbo adalah perusahaan minyak dan gas milik keluarga Tampi, PT Sele Raya, yang membidik dana IPO sekitar US$ 100 juta. Dana hasil IPO akan digunakan untuk mengembangkan cadangan gas alam yang ditemukan oleh Sele Raya.

Rencana bisnis ini disusul oleh berbagai proyek yang didorong oleh permintaan dari pasar domestik. Sele Raya berencana membangun fasilitas produksi tambahan selama periode tiga tahun ke depan dengan nilai investasi US$ 150 juta. Selain dari dana IPO, perseroan turut mengambil sumber pendanaan dari kas internal.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN