Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Reksa Dana

Reksa Dana

Bidik AUM Rp 60 Triliun, Batavia Prosperindo Rilis 15 Produk Reksa Dana Tahun Ini

Kamis, 4 Maret 2021 | 13:00 WIB
Lona Olavia

JAKARTA, investor.id -- PT Batavia Prosperindo Asset Management berencana menerbitkan 10 hingga 15 produk baru reksa dana pada tahun ini. Hal itu sebagai salah satu strategi untuk mencapai target dana kelolaan (asset under management/AUM) sebesar Rp 60 triliun.

“Tahun 2020 dana kelolaan kami mendekati Rp 50 triliun, relatif flat dibanding 2019 karena ada gejolak pandemi. Untuk 2021 targetnya naik 20-25% sekitar Rp 58-60 triliun. Akan dicapai melalui produk baru yang kami targetkan, sekitar 10-15 produk baru, baik reksa dana terproteksi maupun reksa dana open ended,” kata Direktur Utama Batavia Prosperindo Aset Manajemen Lilis Setiadi kepada Investor Daily, Kamis (4/3).

Pada akhir Januari, manajer investasi (MI) tersebut telah menerbitkan satu produk baru, yakni Batavia Global Environmental, Social, Governance (ESG) Sharia Equity USD. Reksa dana global syariah yang berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS) itu berfokus berinvestasi pada perusahaan global yang mengedepankan prinsip berkelanjutan atau ESG. Reksa dana ini sekaligus jadi reksa dana syariah dengan eksposur global berbasis ESG pertama di Indonesia.

Lilis menjelaskan, reksa dana tersebut sengaja dirancang untuk menanggapi meningkatnya tren berinvestasi yang mengedepankan isu sustainability atau berkelanjutan yang memiliki dampak finansial nyata. Hal itu juga sejalan dengan meningkatnya permintaan investor di seluruh dunia, bahkan dari investor milenial yang menginginkan investasi secara berkelanjutan dengan memperhatikan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan, namun tetap menikmati potensi imbal hasil yang menarik.

Berdasarkan hasil survei BlackRock People and Money Survey pada periode November 2019 hingga Januari 2020 terhadap 8.000 investor di Asia, sebanyak 68% dari investor tersebut menginginkan investasi mereka untuk memperhatikan aspek ESG.

“Perjalanan dari ESG ini didorong oleh masyarakat, kemudian berbagai peraturan yang muncul dan ini secara bersamaan mendorong pergeseran secara struktural di dalam dunia investasi mengarah yang berkelanjutan. Demikian dari segi risiko dan imbal hasil sehingga ESG ini lebih kondusif dari waktu ke waktu karena terbukti lebih resillience saat menghadapi gejolak pasar,” ujar Lilis.

Adapun, saat hari pertama diluncurkan pada 29 Januari 2020 kemarin, perseroan telah menerima dana kelolaan hingga Rp 800 miliar. “Memang untuk ESG kami butuh edukasi yang lebih panjang daripada produk yang biasanya. Tapi, ini bukan tren baru yang coba-coba karena sudah dilakukan di dunia. Terbukti produk ESG saat krisis tahun 2015, 2018, dan pas Covid produk ini sangat dikejar-kejar investor karena bisa meminimalisir banyak hal yang tidak menentu,” ungkap Lilis.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan per 30 Desember 2020, nilai aktiva bersih (NAB) khusus untuk produk reksa dana Batavia Prosperindo masih masuk tiga tertinggi secara industri dengan total NAB sebesar Rp 46,54 triliun. Akan tetapi, realisasi tersebut turun 1,27% dibandingkan NAB Batavia Prosperindo per akhir 2019 yang sebesar Rp 47,14 triliun. Penurunan dipicu nilai aset sedikit dari kelas aset saham karena kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) yang negatif tahun lalu dan produk reksa dana terproteksi Batavia Prosperindo yang jatuh tempo sehingga terjadi pencairan dana.

Sementara itu, NAB produk reksa dana secara industri mencapai nilai Rp 573,54 triliun dengan unit penyertaan sebanyak 435,14 miliar unit. Nilai tersebut tumbuh 5,79% secara year on year, dibandingkan posisi NAB reksa dana per akhir 2019 yang sebesar Rp 542,17 triliun. Persentase tersebut juga menjadi pertumbuhan tahunan yang paling minim setidaknya selama lima tahun terakhir. Berturut-turut pertumbuhan tahun sebelumnya adalah sebesar 7,3% (2019), 10,5% (2018), 35,1% (2017), dan 24,60% (2016).

Editor : Nurjoni (nurjoni@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN