Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu proyek Grup Wika. Foto: David

Salah satu proyek Grup Wika. Foto: David

Bidik Proyek di Kongo, Wika Gandeng TSG Global Holdings

Rabu, 22 Januari 2020 | 19:56 WIB
Ghafur Fadillah

JAKARTA, investor.id – PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) menandatangani perjanjian kerja sama dengan The Sandi Group Global Holdings (TSG Global Holdings) beserta anak usahanya, PT TSG Utama Indonesia dan Titan Global Capital Pte Ltd untuk menjajaki pengerjaan infrastruktur di Republik Demokratik Kongo, Afrika Tengah.

Direktur Utama Wika Tumiyana menjelaskan, dalam kesepakatan tersebut, Wika dan TSG Global Holdings akan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 1.000 megawatt yang berlokasi di Kinshasa. "Momentum ini sekaligus sebagai bukti bahwa kami konsisten untuk mengembangkan bisnis di pasar luar negeri dengan perencanaan yang terukur dan matang," kata dia kepada Investor Daily di Jakarta, Rabu (22/1).

Tumiyana menegaskan, dalam implementasi rencana proyek itu, TSG melalui afiliasinya di Kongo, yakni Sunplus SARL, akan menjadi rekan kerja strategis dengan memberikan kewenangan sepenuhnya untuk scoop pekerjaan EPC (engineering, procurement, construction), termasuk di dalamnya kepercayaan tata kelola manajemen profesional.

Namun, ketika ditanya soal nilai proyek tersebut, Tumiyana masih enggan menyebutkannya. "Untuk nilai proyeknya saat ini masih belum bisa dijabarkan karena rencana ini masih dalam tahap penjajakan dan pembahasan awal," tambahnya.

Lebih lanjut, kedua perusahaan tersebut juga akan menjajaki peluang kerja sama di proyek-proyek lain di Kongo, di antaranya proyek infrastruktur transportasi dan bendungan.

Sementara itu, selain Wika, TSG juga menggandeng 10 perusahaan Indonesia untuk berkolaborasi melakukan ekspansi bisnis di Kongo, seperti PT Industri Kereta Api (INKA), PT Len Industri, PT Dirgantara Indonesia, dan PT Merpati Nusantara Airlines. Kemudian, PT Naga Putih Nusantara (NPN), PT Nabati Agro Sumatera (NAS), PT Widodo Makmur Unggas (WMU), PT LMP Property & Construction, dan PT Aero Bahteranusa Palapa (ABP)

Chief Executive Officer TSG Global Holdings Rubar Sandi mengatakan bahwa kolaborasi tersebut merupakan tindak lanjut dari kegiatan Indonesia Africa Forum (IAF) 2018 dan Asia Africa Infrastructure Dialogue (IAID) 2019 yang diadakan di Bali. Saat itu, Indonesia dan Afrika bersepakat untuk menjajaki pengembangan bisnis baru di sektor industri strategis, infrastruktur, pembiayaan, pertambangan, tekstil, pemeliharaan pesawat dan perdagangan komoditas.

"Skema kolaborasi atau kerja sama yang dilakukan berupa joint operation bisnis. Ada beberapa juga yang joint venture, terutama dengan pihak swasta," kata dia.

Belanja Modal

Tahun ini, Wika menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 11,5 triliun yang akan digunakan untuk penyertaan modal pada entitas bisnis dan pengembangan usaha perseroan.

Sekretaris Perusahaan Wika Mahendra Vijaya menjelaskan, pada tahun ini, perseroan berencana mengembangkan beberapa proyek besar di bidang infrastruktur. Adapun proyek tersebut adalah proyek light rail transit (LRT) lanjutan di Jakarta, jalan tol di Jawa Tengah, dan pengembangan pelabuhan di Indonesia Timur. "Masing-masing nilai proyeknya adalah Rp 3 triliun," papar dia.

Selain itu, perseroan juga mengembangkan beberapa proyek di luar negeri seperti di Aljazair, Nigeria, Malaysia, Taiwan, dan Timor Leste. Mahendra mengungkapkan, perseroan juga akan memulai proyek mixed use building di Senegal dan pembangunan jembatan di Filipina. “Untuk di Senegal, nilai framework agreement-nya sekitar Rp 3,5 triliun," kata dia. 

Lebih lanjut untuk proyek di Senegal, Wika dan L’Agence De Gestion Du Patrimoine Bati De L’Etat (AGPBE) juga telah meneken kontrak tahap pertama Goree Tower Project senilai 50 juta euro. Pekerjaan proyek Goree Tower yang berlokasi di Senegal, Afrika itu memiliki nilai kesepakatan total kontrak 250 juta euro.  

Tahun ini, Wika menargetkan bisa meraih total kontrak dari proyek-proyek luar negeri sebesar Rp 5,18 triliun. Perseroan optimistis bisa mencapai target tersebut karena besarnya potensi pasar luar negeri. Hingga September 2019, perseroan berhasil membukukan kontrak baru sebesar Rp 25,7 triliun. Jika dibandingkan dengan periode kuartal III-2018, kontrak baru perseroan bertumbuh sekitar 2%. Dari nilai tersebut, sebanyak 85,7% kontrak baru perseroan berasal dari sektor BUMN dan swasta, 9,8% berasal dari proyek luar negeri, dan 4,5% berasal dari pemerintah.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN